Amerika adalah negara yang memiliki beban hutang terbesar didunia ini,
namun hutang ini adalah hutang kepada rakyatnya sendiri.

Berbeda dengan Indonesia, juga memiliki beban hutang besar kepada
rakyatnya dan juga kepada negara lain didunia ini.  Bedanya, hutang
kepada rakyat dengan mudah diputihkan hutangnya tak dibayar tapi
dianggap lunas melalui sanering.  Setiap pegawai negeri dulu dipotong
gajinya untuk katanya ditabung dalam bentuk obligasi yang nilainya
bisa jadi banyak dimasa depan.  Demikianlah ayahku memiliki Obligasi
yang jumlahnya luar biasa banyaknya setelah bekerja selama 40 tahun.  
Tapi dizaman Suharto, obligasinya nyaris dinyatakan tak berlaku, namun
tekanan luar negeri memaksa RI membayar obligasi itu, kemudian sewaktu
saya cairkan obligasi itu ternyata hanya cukup naik bus sekali jalan saja.

Begitulah caranya, hutang RI kepada rakyatnya tidak pernah dibayar,
lain dengan hutang luar negeri yang harus dihormati lebih dari
menghormati rakyatnya sendiri.

Jadi janganlah menganggap Amerika berhutang kepada rakyatnya sebagai
kelemahan negara dalam melindungi kesejahteraan rakyatnya, justru
sebaliknya, hutang pemerintah Amerika kepada rakyatnya banyak memberi
keuntungan kepada mereka diusia pensiun.  RI memiliki beban hutang
kepada rakyatnya lebih besar dari hutangnya keluar negeri, namun
rakyatnya bisa ditindas, hutangnya jadi lunas dengan berbagai akal2an
seperti sanering atau potong nilai uang dari Rp1000 jadi Rp1.  Dimasa
sekarang, kembali pemerintah menipu, memeras, dan merampok rakyatnya
dengan akal2an obligasi, saham, dll, yang kesemuanya sama sekali tidak
akan jadi beban negara melainkan beban rakyatnya.  Bahkan diwaktu
krisis baru2 ini, seorang nenek2 menyimpan Rp 7 milyard di bank
maksudnya agar jangan dirampok uang hasil penjualan tanahnya. 
Seminggu kemudian sang nenek mau menarik uangnya Rp1 milyard untuk
beli rumah untuk cucunya dan biaya berobatnya.  Ternyata uangnya tak
bisa ditarik, cuma diberi surat obligasi saja.  Si nenek jatuh pingsan
dan akhirnya mati.......  Uangnya kembali jadi milik negara karena si
nenek tidak tahu peratusan sehingga tidak menulis surat ahli warisnya.

Banyak rakyat Indonesia yang tidak tahu cara2 pemerintahnya memeras
melebihi penjajah, kejamnya lebih kejam dari penjajah, dan
diskriminasinya lebih diskriminasi dari penjajah.  Pemerintah mengadu
domba rakyatnya lebih parah dari penjajahnya dulu.  Dan begitulah
pemerintah yang sekarang ternyata didukung mayoritas rakyatnya,
padahal penjajahnya dulu tak mau didukungnya.

Ny. Muslim binti Muskitawati.


Kirim email ke