DL - PBNU, KWI dan PGI sebagai lembaga agama memang tidak bisa bertindak lebih 
jauh dari himbau-menghimbau. Tapi bagaimana dengan DPR RI? Mana fungsi 
kontrolnya terhadap kabinet? Kok diam saja melihat segala ketidak-beresan di 
tanah air? Saya jadi makin percaya kepada pak Kartono Mohamad yang tempo hari 
menulis "rakyat Indonesia dalam Pemilihan Umum harus bisa mencoblos person 
calon anggota DPR RI , bukan mencoblos partai. Dengan demikian para anggota DPR 
RI akan setia kepada rakyat alias akan menjalankan fungsi kontrolnya terhadap 
kabinet." Bukan seperti sekarang ini, di mana anggota DPR RI hanya setia kepada 
pimpinan partai yang menentukan duduk tidaknya seseorang di DPR, apalagi 
pemimpin partai mempunyai hak recall.


SUARA PEMBARUAN DAILY 
--------------------------------------------------------------------------------

KWI dan PGI Dukung Seruan Tobat Nasional
[JAKARTA] Upaya Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) menyerukan kepada seluruh 
bangsa Indonesia agar melakukan tobat nasional mendapat dukungan penuh 
Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan Persekutuan Gereja-gereja di 
Indonesia (PGI). Karena bencana alam dan bencana sosial yang datang 
bertubi-tubi menimpa negeri ini sudah di luar kemampuan manusia lagi untuk 
menghentikannya. 

Menurut Sekretaris Eksekutif Komisi Hubungan antar Agama dan Kepercayaan 
Konferensi Waligereja Indonesia, Benny Susetyo Pr, seruan pertobatan nasional 
yang diserukan oleh PBNU akan ada efeknya bila para elite politik memperbaharui 
diri dengan menciptakan habitus atau kebiasan serta cara hidup yang 
mengedepankan aspek kemanusian dan keadilan. 

"Dengan berorientasi kepada dua hal pokok tersebut berarti para pemimpin dan 
elite politik mengedepankan kemandirian masyarakat bukan lagi penghambaan pada 
tuan kapitalisme global. Ini adalah bentuk pertobatan yang mendasar," ujar Romo 
Benny kepada Pembaruan di Jakarta, Rabu (17/1). 

Dikatakan pertobatan yang dibutuhkan adalah perubahan perilaku pejabat dan 
elite politik untuk tidak lagi berpikir kekuasaan untuk kepentingan diri 
sendiri karena bencana yang bertubi-tubi justru mengingatkan bangsa ini agar 
pejabat publik segera menghentikan perilaku mereka yang selama ini menindas 
rakyat dengan membuat kebijakan yang hanya menguntungkan para pemodal. 


Komitmen Umat Kristen 

Ditambah lagi adanya perselingkuhan antara pejabat pemerintah dengan pengusaha 
yang membuat rakyat semakin terjebak dalam kemiskinan. 

Sedangkan PGI menegaskan pihaknya sangat mendukung seruan yang disampaikan oleh 
PBNU agar seluruh bangsa Indonesia segera melakukan tobat nasional. Dalam 
Sidang Raya ke empat belas PGI dua tahun lalu PGI juga menyerukan hal yang sama 
dan menjadi komitmen umat Kristen di Indonesia. 

"Komitmen Sidang Raya PGI adalah bersama-sama dengan seluruh elemen bangsa 
mewujudkan masyarakat sipil yang kuat dan demokratis untuk menegakkan 
kebenaran, hukum yang berkeadilan, serta memelihara perdamaian," ujar Wakil 
Sekretaris Umum PGI, Pdt Weinata Sairin. 

Dalam seruan tobat nasional PBNU disebutkan agar seluruh bangsa Indonesia 
menjauhi perbuatan yang langsung atau tidak langsung menyebabkan murka Allah, 
seperti melakukan kezaliman, kepalsuan atau kepura-puraan, kebohongan, 
pengrusakan kehormatan dan martabat sesama, pengrusakan keseimbangan alam, 
korupsi/keserakahan, pengkhianatan hukum, pengkhianatan terhadap amanat, 
menelantarkan penderitaan rakyat kecil dan sebagainya," demikian salah satu 
butir seruan yang dibacakan Ketua Umum PBNU KH Hasyim Muzadi. 

Hasyim meminta seruan tersebut dapat disiarkan seluas-luasnya kepada seluruh 
rakyat Indonesia. Pasalnya, hal tersebut bukan hanya untuk kepentingan NU 
semata, melainkan untuk kepentingan dan keselamatan seluruh bangsa. "Ini tidak 
hanya untuk NU, tapi untuk bangsa Indonesia," katanya. 

Sebelumnya, PBNU menyerukan hal yang sama kepada warga nahdliyin (sebutan untuk 
warga NU). Pimpinan tertinggi organisasi kemasyarakatan Islam terbesar di Tanah 
Air itu meminta kepada seluruh nahdliyin untuk melakukan puasa sunnah tasu'a 
dan asyura yang dimulai dengan puasa sunnah mutlaqah sejak tanggal 1-10 
Muharram 1428 H/20-30 Januari 2007. PBNU juga mengimbau sebanyak mungkin ber- 
istighfar dan membaca hauqolah (mohon kekuatan kepada Allah). 

Hasyim menegaskan, segala persoalan yang menimpa bangsa Indonesia saat ini 
adalah akibat dari perbuatan dan kesalahan yang dilakukan bersama-sama. Oleh 
karenanya, untuk mengakhiri hal itu semua dan permohonan ampun terhadap Tuhan 
harus dilakukan secara bersama-sama pula. 

"Koruptor kecil dikejar-kejar, sementara koruptor besar digelarkan karpet merah 
(tanda penghormatan), illegal logging, kelaparan jamaah haji, hilangnya pesawat 
Adam Air, kasus lumpur Lapindo yang sampai saat ini belum selesai, dan lain 
sebagainya, semuanya adalah kesalahan kolektif kita sebagai bangsa," terang 
Penga- suh Pondok Pesantren Al-Hikam, Malang, Jawa Timur ini. [E-5] 



--------------------------------------------------------------------------------
Last modified: 17/1/07 

Kirim email ke