FORUM KEADILAN DARI MASA KE MASA Hai kawanku PBS, dengarlah inti saripati permasalahan yang ada di depanmu...
Saat bekerja selama di MBM FORUM KEADILAN bayangan bahwa kondisi perusahaan yang stabil dan prestise membubung tinggi di depan mata. Namun setelah masuk ternyata tak semua gambaran itu kami dapatkan. Sehari-hari yang kami lihat dan kami rasakan adalah kekecewaan. Bagaimana tidak, menulis kisah-kisah di balik berita harian atau bahkan televisi adalah sebuah kerja tim dan ada jeda waktu mengorek berita dari satu sumber ke sumber lainnya. Bahwa bekerja di sebuah majalah sekelas FORUM KEADILAN adalah penulisan berita bergaya detektif. Niscaya kami akan menjadi dalam salah satu tim penyelidik tersebut. Namun yang kami temui sepanjang kami bekerja di sana adalah, copy paste dan yang penting N-U-L-I-S...!!!! Itulah yang sering didengung-dengungkan di telinga kami sepanjang kami bekerja disana. Bahkan untuk lebih mengenal dengan narasumber pun tak pernah kami diajarkan. Walhasil selama disana beruntung kami dan rekan-rekan bisa melampauinya dengan cara otodidak. Pengalaman yang tak mengenakkan pernah saya alami ketika ingin melakukan investigasi tentang penjualan senjata dan peredaran senjata gelap yang ditengarai ada keterlibatan TW alias Tommy Winata sedang ramai dibicarakan. Kejadian yang berlangsung sekitar pertengahan tahun silam sangat membekas di ingatan saya. Bagaimana tidak seharusnya seorang pemred mengarahkan kami pada satu titik temuan terang. Nyatanya saat sore hari saat saya pulang. Ada telepon dari seorang yang bernama david yang mengatakan bahwa "Nggak usahlah kamu wawancara bang Tommy, memang kamu nggak dikasih tahu pemred kamu?" Wah ada apa ini? Alih-alih seharusnya kami memberikan informasi sejelas-jelasnya pada publik tentang satu rumor, konspirasi, atau gosip. Hal itu sama sekali tidak terjadi. Yang ada hanya menulis dugaan. Jadi seorang PBS yang jebolan TEMPO ternyata hanya segitu kemampuannya? Atau memang TEMPO sudah puluhan kali mencetak wartawan-wartawan culas sekelas PBS. Ini yang tak kami mengerti. Seharusnya alumnus TEMPO bisa dijadikan contoh sekaligus bisa jadi cover wartawannya yang sedang berada di lapangan. Ternyata sama sekali tak kami temui. Pernah satu kali saya melihat teman saya muntah darah karena kelelahan yang luar biasa akibat beban penulisan yang melebihi ambang kewajaran. Diluar dugaan tak sekalipun perhatian atau sikap empati yang diperlihatkan oleh seorang pemred tentang anak kesehatan awak redaksinya berlangsung. Hal itu sama sekal tidak terjadi. dan semuanya terjadi di depan mata saya. Peristiwa itu terjadi setahun lalu. Dan menimpa teman kami Irawan Santoso, kami tercipta bukan sebagai pemberontak. Namun apa yang dilakukan pemred kami adalah pekerjaan seorang pecundang atau lebih tepatnya? Ia seharusnya memberi atensi pada barisan mudanya. Namun kejadian itu membuat saya tak habis mengerti. Irawan yang batuk darah saja tak digubris, apalagi saya yang bisa ditembak mati ditengah jalan saat malam buta dan kemudian tak ada sama tanggung jawab dari redaksi. Terlebih usai dikontaknya saya oleh seorang utusan TW sang pemred sama sekali tak punya itikad melindungi anak buahnya. Justru yang hadir adalah jawaban, "Lain kali jangan kontak TeWe-lah kalau tidak ada urusan yang penting," Pun hal yang serupa saya terima saat Redaktur Eksekutif kami bertanya, "Emangnya kenapa sih kamu? Jangan macam-macam deh?" Dari peristiwa yang terjadi kami mempunyai kesimpulan bahwa jaminan kesehatan, keselamatan, kesejahteraan, dan prestasi yang kami buat adalah selembar kertas usang bagi seorang Pemred FORUM KEADILAN saat in. Dari satu teman yang jatuh tertimpa sakit. Kemudian teman satu mengalami kejadian serupa. Kami sepakat tidak bisa tidak kam harus keluar dari sini. Sebelum suatu musibah konyol akan membuyarkan masa depan kami. Kepada para alumnus FORUM dan senior kami dan Bang Karni Ilyas. Saya ingin menanyakan: Apakah rela melihat FORUM KEADILAN hancur karena seorang pengecut. Dan apakah kalian sama sekali tega melihat generasi-generasi curang hidup dari MBM FORUM KEADILAN. Pertanyaan saya yang selanjutnya saya tujukan kepada MBM TEMPO, apakah semua alumnus TEMPO adalah wartawan rakus? Ini adalah preseden buruk, buruk sekali.... Kisah ini akan kami lanjutkan..... MOD: Saya tidak yakin itu pengaruh dari TEMPO, tetapi dari Majalah PILAR....karena yang punya Tommy Winata.
