----- Original Message ----- 
From: S Manap
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Saturday, 20 January, 2007 15:37
Subject: [HKSIS] cerpen


       Teman-teman dan sahabat-sahabat.
 Anda lelah ? Banyak berdebat politik?  Jangan lupa ini akhir Minggu. 
Santai-santai sajalah. Sambil bersantai-santai baca sajalah cerpen ini. 
Untuk sementara lupakan dulu lawan maupun isi debat politik. Bisa 
dilanjutkan pekan depan kan?  He.. he.. he ..

             S.Manap

                                        Tukang Nujum.


     L, demikian nama salah satu kota di Sumatera Selatan. Kota ini tidak 
besar, penduduknya tidak banyak. Tapi kalau pusat kota digabungkan  dengan 
daerah sekitarnya, maka keseluruhan wilayahnya cukup luas. Pusat kota 
terutama adalah Pasar Baru, dengan semua pertokoan dan perkantoran, termasuk 
dua gedong bioskop. Pasar Baru sekarang mempunyai sebuah pasar, berupa 
gedong bertingkat..

     Yang dimaksudkan dengan sekitarnya itu ialah Pasar Bawah, Pasar Lama, L 
Tengah, Suka Ratu, Bandar Agung, Gunung Gajah,Talang Srinanti,Talang 
Jawa,Talang Ubi dan Talang Banten.

     Dulu,Talang Banten merupakan tempat tinggal sejumlah besar anak-anak 
sekolah. Baik murid-murid Sekolah Lanjutan Pertama, maupun Sekolah Lanjutan 
Atas, bahkan juga yang masih duduk di Sekolah Rakyat banyak yang  bertempat 
tinggal di Talang Banten. Talang Banten  No.511, akan selalu menjadi 
kenangan, di situlah kami bertempat tinggal. Talang Banten hanya dipisahkan 
oleh beberapa rel kereta api saja dari stasiun kereta api kota, yang 
merupakan bagian dari pusat kota L.

     Konon kabarnya, tempat ini bernama Talang Banten, karena di sini 
bermukim pendatang-pendatang dari suku Sunda dan yang terbanyak berasal dari 
daerah Banten di masa penjajahan Belanda dulu. Tetapi kemudian keadaan 
berangsur-angsur berubah. Yang selanjutnya berdominasi di daerah ini adalah 
pendatang-pendatang dari suku Jawa. Di samping itu, cukup banyak juga 
orang-orang dari suku Melayu dan orang-orang dari Palembang.

     Kalau kita perhatikan "pembagian kerja" penduduk Talang Banten  pada 
waktu itu, gambarannya adalah seperti berikut: tukang kerupuk yang 
memproduksi krupuk dan menjualnya  berkeliling kota sampai ke pasar-pasar 
kota Kecamatan, adalah orang-orang dari suku Jawa. Tukang tempe, yang 
menjual tempenya di pasar-pasar, orang Jawa. Tukang pecal, yang dikerumuni 
anak-anak sekolah, orang Jawa. Pandai besi, yang membuat kuali besi dan 
kompor-kompor minyak tanah, alat pemasak yang lebih mudah penggunaannya dari 
kayu bakar atau arang batu itu, orang Jawa. Buruh-buruh kereta api, dari 
masinis, tukang rem, tukang wesel, juga orang Jawa. Hanya penjual 
empek-empek di pinggir jalan kereta api di malam hari itu saja yang orang 
Palembang. Orang-orang suku Melayu yang tinggal di sini terdiri dari 
anak-anak sekolah atau pegawai rendahan atau guru-guru Sekolah Dasar. 
Sedangkan orang-orang dari suku Sunda jumlahnya sangat sedikit, bahkan bisa 
dihitung dengan jari. Keluarga Pak Bona adalah salah satu dari keluarga 
Sunda itu.

     Menurut yang sering dibicarakan orang di Talang Banten, Pak Bona itu 
orang penting yang tidak bisa diremehkan. Sebabnya dia bisa membaca suratan 
tangan. Pak Bona bisa mengetahui siapa pencurinya, kalau ada orang yang 
kehilangan uang atau barang. Orang-orang yang kehilangan banyak juga yang 
datang kepadanya, dengan harapan bisa menemukan siapa pencurinya dan yang 
penting, bisa menemukan barang yang sudah hilang itu. Kata orang, Pak Bona 
juga banyak memiliki jampi-jampi. Maka itu, kalau orang tidak bisa punya 
anak, atau setiap melahirkan lalu anaknya terus mati, atau anaknya 
sakit-sakitan, datanglah mereka kepada Pak Bona. Itulah sebabnya, menurut 
orang-orang di sekitar itu, Pak Bona itu  bukan saja pembaca suratan tangan, 
ahli nujum, tapi juga dukun.

     Masri, teman kami yang tamatan SMEP(Sekolah Menengah Ekonomi Pertama) 
dan bekerja di Jawatan Pegadaian Negeri yang tidak jauh dari tempat tinggal 
kami, pernah menceritakan pengalaman hidupnya. Menurut Masri, dia sudah dua 
tahun bekeluarga. Baik Masri, maupun isterinya, ingin sekali punya anak. 
Terserahlah, anak laki-laki atau perempuan. sama saja, yang penting punya 
keturunan, mendengar suara tangis anak sendiri, jangan sunyi sepi seperti 
sekarang. Mereka sudah 2 tahun hidup bersama, tapi masih belum juga ada 
tanda-tanda yang memperlihatkan bahwa isterinya akan hamil. Mereka berdua 
tegiur untuk menghadap Pak Bona, tukang nujum dan dukun kenamaan di Talang 
Banten. "Siapa tahu bisa mengetahui hari depan,".kata Masri kepada 
isterinya.

      Sebagaimana petunjuk orang-orang yang pernah menghadap Pak Bona, Masri 
juga menyuruh isterinya menyiapkan segala yang diperlukan. 
Keperluan-keperluan untuk menghadap Pak Bona, sebetulnya tidak ada ketentuan 
tertulis, tetapi semua orang tahu dengan sendirinya, berdasarkan cerita dari 
yang menghadap terdahulu.Yang tidak boleh kurang, menurut Masri berdasarkan 
pengalamannya sendiri, yalah: beras ketan hitam empat kaleng susu, telur 
ayam kumbang tiga butir, pisang emas satu sisir, tidak perlu dihitung berapa 
buah, sebuah kelapa berjenis hijau. Tentang uang tidak termasuk dalam 
ketentuan kebiasaan, tapi kalau ada dan diserahkan, diterima juga. Maka itu 
menurut Masri  mereka  menyiapkan juga uang sedikit sebagai tambahan, dengan 
harapan, siapa tahu, ada jampi-jampi yang tersimpan, yang bisa diucapkan 
oleh Pak Bona, berkat tambahan uang sedikit itu.

     Setelah menyerahkan beras ketan, telur ayam kumbang, pisang emas, 
kelapa hijau, dan uang sedikit, maka Masri dan isterinya disuruh duduk 
berdampingan di atas tikar seperti mempelai. Semua barang-barang yang 
diserahkan tadi dikumpulkan di satu sudut, tidak jauh dari tempat mereka 
duduk. Hanya uang saja yang tidak kelihatan lagi, mungkin langsung masuk 
kedalam kantong yang menerima.

     Menurut Masri, cara Pak Bona memang sopan sekali. Ketika dia 
mengucapkan jampi-jampi, baik Masri mau pun isterinya tidak mengerti karena 
diucapkannya dalam bahasa Sunda. Karena tidak mengerti,  maka isteri Masri 
makin merasa yakin bahwa tidak lama lagi dia akan segera hamil. Malahan dia 
membayangkan akan menghamilkan anak laki-laki.

     Setelah selesai mengucapkan jampi-jampi, Pak Bona berkata 
perlahan-lahan, kali ini dalam bahasa Indonesia: "Yang di atas itu belum 
menghendaki kalian berbahagia sekarang, tapi di kemudian hari kalian akan 
berbahagia juga."  Setelah Pak Bona selesai dengan segala pembicaraannya, 
Masri dan isterinya pulang dengan perasaan lega dan gembira. Siapa tahu 
jampi-jampi yang tidak dimengerti tadi menjadi sumber kebahagiaan di 
kemudian hari,  pikir mereka berdua.

     Masa setahun berlalu begitu saja. Isteri Masri tidak hamil-hamil juga. 
Mereka pun mulai berpikir lagi, apa tidak ada lagi jalan lain? Menurut 
Masri, dari pada menunggu hasil jampi-jampi, apa tidak lebih baik kalau 
mencoba menemui dokter. Mereka pun mengambil keputusan untuk pergi menghadap 
dr Rudio yang berpraktek dari jam 16.00 sore sampai malam di rumahnya yang 
berseberangan jalan dengan kantor CPM. Jalan itulah yang di lewati oleh 
anak-anak yang  pulang pergi dari  sekolah.

     Masri tidak rela kalau isterinya pergi ke pemeriksaan dokter seorang 
diri, sebab semua orang tahu dari kabar yang banyak beredar, bahwa dr Rudio 
itu sambil membuka praktek, juga melakukan praktek yang lain. Ini dibuktikan 
dari hamilnya seorang pasien. Kebetulan saja pasien yang dihamilinya itu, 
belum punya suami. Lalu mereka selesaikan persoalannya di Kantor Urusan 
Agama. Mereka melakukan apa yang dinamakan orang "kawin kantor." Dengan 
begitu, dr Rudio beristeri dua. Sejak itu kata-kata berpoligami semakin 
dikenal orang di kota kecil kami, artinya seorang laki-laki beristeri lebih 
dari satu.

      Isteri dr Rudio yang pertama  tidak dilepasnya, sebab parasnya  manis 
dan merupakan hasil percintaan dari pandangan mata pertama di masa muda, 
sekali pun tidak bisa melahirkan anak. Isterinya yang kedua ini juga harus 
dipertahankan, sekali pun hanya  didapat akibat dari mata gelap sewaktu 
membuka praktek tambahan, sebab dari sini dia bisa mempunyai  keturunan.

      Pada waktu itu di seluruh kota L hanya ada tiga orang dokter. Di 
samping dr Rudio, masih ada dr Mularman, Kepala Rumah Sakit Umum dan masih 
ada lagi dr Ghulam Muhammad seorang dokter bantuan PBB yang berkebangsaan 
India. Ketiga orang dokter tersebut membuka praktek sore hari di rumah 
masing-masing. Dokter Ghulam Muhammmad tidak bisa berbahasa Indonesia, dia 
bisa berbahasa Inggris, karena itu dia memerlukan bantuan juru rawat yang 
merangkap sebagai penterjemahnya.

     Dokter Mularman merasa kecewa dengan adanya peristiwa dr Rudio. Sebab 
peristiwa itu bisa mendatangkan ketakutan pada pasien wanita yang mau datang 
ke praktek mereka di sore apa lagi malam hari. Menurut dr Mularman, jangan 
sampai mengganggu pasien. Lebih baik menempuh cara dr Ghulam Muhammmad. Bagi 
dr Ghulam Muhammad, ketika ada juru rawat pembantunya mendekat,  jangan 
mengelak apalagi menjauhkan diri. Sebab kalau dijauhi berarti menolak rezeki 
yang datang sendiri. Dengan cara inilah maka dr Ghulam yang berbulu dada 
lebat dan berbadan tinggi itu bisa menggandeng gadis Melayu yang kecil 
mungil. Waktu itu semua orang tahu bahwa di kota L sebelum dr Ghulam datang, 
hanya ada  seorang saja  orang yang dadanya berbulu lebat seperti dr Ghulam, 
yaitu seorang laki-laki  keturunan India penjual mertabak di Pasar Baru, 
yang sering dipanggil orang Tambi. Lama-kelamaan baru orang tahu bahwa Tambi 
itu dalam bahasa Hindu bisa berarti adik.

     Kembali kepada soal Masri dan isterinya tadi. Melalui pemeriksaan dr 
Rudio, baru diketahui bahwa Tini, isteri Masri, memang kurang sehat dan 
perlu pengobatan. Melalui pengobatan inilah baru keinginan mereka mau 
mempunyai keturunan dikabulkan oleh "yang diatas itu", seperti yang 
dikatakan  Pak Bona dulu. Akhirnya Masri berkesimpulan, untuk apa 
susah-susah mengumpulkan beras ketan, telur ayam kumbang, pisang emas, 
kelapa hijau dulu itu, kalau kebahagiaan cukup didapat melalui pengobatan 
dokter?  Sejak itulah  Masri meragukan kemampuan tukang baca suratan tangan 
dan jampi-jampi, sekali pun jampi dalam bahasa Sunda.

      Zainal, salah seorang dari anak  sekolah yang mangkal di Talang 
Banten, malah tidak senang mendengar Pak Bona menjadi termasyhur karena 
pandai nujum. Dia ingin sekali membuktikannya. Idenya pun muncul ketika 
melihat ayam Pak Bona berkeliaran mencari makan di halaman. Oleh Zainal 
dilemparkannya dua butir nasi kering kearah seekor ayam betina. Nasi itu 
dimakan oleh ayam betina yang gemuk. Dilemparkannya lagi beberapa butir ke 
dekat pintu. Dimakan lagi oleh ayam yang itu juga. Terakhir dihamburkannya 
sisa-sisa nasi kering itu kedalam rumahnya. Ayam betina itu terus masuk 
mengejar makanan. Zainal menutup pintu. Ayam yang sudah terkurung itu 
ditangkapnya. Sayap ayam dilipatkannya supaya tidak menggelepar dan 
mengundang bunyi.Untuk mencegah ayam itu  tidak berkeok, ditutupnya 
keras-.keras paruh ayam tangkapannya. Terakhir ayam itu  dipotong dan 
dimasaknya. Teman-teman yang mengetahui perbuatannya itu, semua diajaknya 
ikut makan., katanya sebagai upah tutup mulut.
       Semua yang ikut makan tahu, bahwa harus menjaga kerahasiaan, tanpa 
perlu dibicarakan. Sehabis makan, Zainal masih juga berbicara, bahwa semua 
yang ikut makan harus membungkam mulut sendiri-sendiri kalau ada keributan 
soal hilangnya ayam Pak Bona. Ada yang bertanya kepada Zainal: "Kalau Pak 
Bona dengan kemampuan nujumnya bisa tahu, kita harus  berbuat apa?"  Menurut 
Zainal dia bersedia membayar dua kali lipat harga ayam, asal tidak berurusan 
dengan polisi. Tapi Zainal memang yakin "asal semua tutup mulut"sambil 
ditunjuknya mulut salah seorang teman yang ikut makan ayam, "nujuman Pak 
Bona tidak akan mempan."

      Setelah waktu berlalu, Zainal merasa senang karena dia bisa 
membuktikan bahwa Pak Bona tukang nujum tersohor itu tidak berdaya mencari 
pemakan ayam yang berada di sebelah rumahnya sendiri.


                                                                             
                           S.Manap







--------------------------------------------------------------------------------

      Stava rätt! Stava lätt! Yahoo! Mails stavkontroll tar hand om 
tryckfelen och mycket mer! Få den på http://se.mail.yahoo.com
 

Kirim email ke