Menarik.

Kalau saya baca berita di koran dan yang dinyatakan di email dibawah ini: yang 
membubarkan acara kongress Papernas bukannlah pihak kepolisian, tapi FAKI. 
Kelompok FAKI ini nampaknya cuman kelompok dadakan, sebuah kelompok masyarakat 
umum yang berdiri secara dadakan. Organisasi ini tanpa bentuk dan anggaran 
dasar yang jelas. Sama saja dengan FORKOT, FORMAS atau FOR For yang lain. Jadi 
notabene, FAKI adalah rakyat biasa. 

Jadi Dita Indah Sari dan teman2nya yang selalu tergila2 menggunakan kata2 
"RAKYAT" malah dibubarkan oleh RAKYAT. Apa ini sesuatu yang LUCU atau TRAGIS? 
Bagi saya bukan kedua-duanya. Cara pandang terhadap kelompok ini tidak bisa 
dilihat dari bagaimana RAKYAT memandang mereka, tapi dari bagaimana Dita cs. 
ini memandang diri mereka sendiri. 

Saya mengamati lebih dekat mereka2 ini sejak saya diundang di pesta ulang tahun 
Princen di sebuah rumah makan di kawasan Kemang tahun 1996. Hadir pada acara 
itu antara lain: alm. HJC Princen sendiri, Sri Bintang Pamungkas, Pramoedya 
Ananta Toer dan banyak sekali orang2 yang menyebut diri mereka sebagai 
"aktivis". Waktu itu adalah era Orde Baru dan Sri Bintang sedang bermasalah 
dengan PPP. Setahu saya Dita tidak ada disana waktu itu.

Sejak dulu, saya hanya bergaul dengan masyarakat awam. Jadi, sudut pandang saya 
juga awam. Entah sejak kapan persisnya, bagi  masyarakat awam kelompok Dita 
Indah Sari, Sri Bintang Pamungkas, HJC Princen alm., si Hakim dipandang sebagai 
kelompok "petualang politik" daripada pahlawan RAKYAT. Ini sangat bertolak 
belakang dengan cara pandang internal kelompok ini terhadap mereka sendiri. 
Sebutan "aktivis demokrasi" adalah sebuah status yang berarti segalanya bagi 
mereka. Status ini bukan hanya sekedar energi untuk menggerakkan nadi mereka, 
namun ternyata ada juga sebagian yang ternyata menggunakan status ini sebagai 
energi pengepul asap dapur rumah tangga mereka. 

Interaksi internal antar individu dalam kelompok2 ini sangat kuat. Dari 
interaksi internal inilah mereka memberi status "aktivis demokrasi" satu sama 
lain. Jadi status "aktivis demokrasi" ini adalah dari dan untuk mereka sendiri. 
Bukan dari RAKYAT. Namun interasksi yang kuat ini sebenarnya semu, karena 
interaksi ini tidak sepenuhnya ditopang oleh kesamaan ideologi, namun lebih 
banyak karena merasa sama "nasib". Sama2 merasa TERTINDAS. Pada dasarnya mereka 
ini adalah individu penuh KONFLIK. Bagi kelompok individu KONFLIK, ikatan 
karena sama2 merasa TERTINDAs adalah ikatan yang rapuh. Mereka akan kompak saat 
sama2 di posisi TERTINDAS, namun saat mereka berada di posisi MEMIMPIN, mereka 
akan saling tonjok habis2an. 

Ini sama dengan fenomena di parpol2 kecil yang sangat kuat saat mereka 
"berjuang" di Pemilu namun saat mereka BERHASIL menjadi anggota DPR, mereka 
selalu saling kepruk satu sama lain. Jadi kalau si Pabottinggi belum gebuk 
habis Dita Indah Sari itu bukan karena dia se-Ideologi dengan Dita, tapi lebih 
banyak karena dia masih butuh Dita untuk mendukung dirinya. 

Dalam karier pribadi saya, saya cukup banyak belajar dan berpengalaman mendapat 
tugas menyelesaikan persoalan perusahaan yang rumit dan skala besar karena 
cakupan masalahnya nasional. Tentu saja banyak methodology yang digunakan untuk 
menelaah semuah masalah, membentuk tim ahli untuk menganalisa, dan menemukan 
solusi dan melaksanakan program tahunan untuk memperbaikinya. Dan BERHASIL. 
Namun sewaktu saya bertemu denganh orang2 semacam Sri BINTANG Pamungkas cs., 
saya sempat terhenyak. Mereka tidak punya fundamental pemikiran yang dingan dan 
cerdas dalam menganalisa masalah apapun, dalam hal ini masalah negara. Cara 
berpikir mereka adalah dangkal dan pendek, penuh emosi dan sulit mencari benang 
merah antara satu pemikiran dengan pemikiran lain. Mereka tidak terdidik dan 
mengalami kesulitan mendasar dalam menganalisa masalah secara terstruktur. 
Ide2nya serba sporadis dan jauh dari kesan layak untuk disampaikan kepada 
masayarakat.

Kebetulan pada acara malam ulang tahun Princen tersebut sempat ada dialog 
kenegaraan. Dan tiba2 Princen menyatakan bahwa mustinya negara ini punya partai 
yang berpihak kepada Nelayan. Ide ini ditimpali oleh yang lain dengan berbagai 
usulan tambahan dan ide ngalor ngidul sampai pada ujung2nya semua menyalahkan 
Suharto. Lho ini ada apa sich? Yang jadi concern saya adalah dasar semua ini: 
focus masalah apa yang sebenarnya diperhatikan pak Princen ini dan solusi 
permasalahannya: Semua NGAWUR. 

Sri Bintang yang diam saja saat itu bikin kejutan juga bagi saya 2 bulan 
kemudian ketika Sri Bintang diwawanacarai sebuah koran. Dia menjawab 
perntanyaan si Wartawan bahwa dia akan mendirikan partai untuk Nelayan. Saya 
kaget lagi, karena: 1) ide mendirikan partai untuk Nelayan adalah ide Princen, 
bukan ide Sri Bintang. 2) jawaban mendirikan partai Nelayan tidak ada 
hubungannya dengan pertanyaan si wartawan saat itu 3) Sri Bintang tidak pernah 
ngomongin lagi tentang partai untuk Nelayan, sampai sekarang. 
Kesimpulannya: semua NGAWUR. 

Setelah dia keluar dari penjara, Sri Bintang juga bikin saya kaget. Di koran 
saya baca dia berorasi di sebuah perguruan tinggi di Bogor. Disitu dia menyebut 
dirinya Nelson Mandela Indonesia. Walah? .... RAKYAT saja nggak ada yang 
menangisi dia sewaktu dia masuk penjara. RAKYAT gak ada yang milih dia jadi 
pemimpin bangsa di Pemilu. RAKYAT gak ada yang memberi dia glear itu, kenapa 
dia ngebet memberi gelar sendiri? Nelson Mandela Indonesia??? Wow !!
Kesimpulannya: semua NGAWUR. 

DITA INDAH SARI
Saya pribadi menantang orang2 semacam Dita Indah Sari mulai melatih KETULUSAN 
dalam membangun bangsa yang lebih baik. Tidak perlu selalu menjadi orang 
partisan atau anggota parpol. Go out of the box, girl!! 

Kalau Dita yakin anda punya konsep pembangunan atau ekonomi yang baik, 
tuangkanlah ide2 itu secara professional. Banyak lembaga2 pengkajian ilmiah 
dimana anda bisa gabung. Kalau ide2 anda berkuallitas orang akan ikut 
meresponse dan memberi ide2 pendukung. Di Indonesia banyak khok pemikir2 
cerdas. RAKYAT Indonesia juga makin cerdas. Mungkin nanti mansyarakat punya 
julukan lagi "SARInomics", setekah dulu "Habibienomics" dan "Widjojonomics". 

Tapi kalau karya2 anda tidak digubris ataau malah diruntuhkan atau dicerca oleh 
pakar lain di masayarakat, then NO Problem. Itu bukan berarti kebebasan 
berbicara anda dikekang. Tapi cuman karena pemikiran2 dan tulisan anda tidak 
masuk dalam kualitas yang diharapkan masyarakat. Disini akan berlaku hukum 
alam. Yang TERBAIK hanya maju buat bangsa ini. Yang kurang bagus, cari profesi 
lain.

Profesi lain? kenapa tidak. Dalam hidup saya sudah berganti kerjaan 4 X, sampai 
saya menemukan yang terbaik dan berada di puncak karier sejauh yang mampu saya 
lakukan. Saya tidak pernah menyalahkan Suharto, Princen, Sukarno, Megawati atau 
SBY atas semua kegagalan hidup saya, dan saya bisa tetap meraih yang terbaik. 

Istri saya vs. Dita Indah Sari?
Istri saya seusia Dita. Sewaktu Dita Indah Sari ngacir keluar negeri beberapa 
tahun lalu, istri saya masih bukan apa2. Ibu rumah tangga biasa. Nol besar. 
Namun ketekunan dan ketulusan kerja istri saya mempu membuat dia membesarkan 
bisinis keluarga yang dia rintis beberapa tahun lalu. Saat ini, dari usahanya, 
dia mampu menghidupi 300 keluarga karyawan. Dari karyawan yang ada, 5 orang 
berpangkat manager dimana gajinya lebih tinggi dari famili saya yang seorang 
manager di IBM. Suatu saat, istri saya mencari Manager PR. Saya sempat tanya 
"katanya kamu kenal Dita, gimana kalau dia aja jadi manager PR?". Dia cuma 
tertawa. Jawabnya kurang lebih "yang aku tahu, Dita itu individu konflik. 
Kebanyakan orang secara alami akan membangun hal dari kecil menjadi besar. Tapi 
DIta itu sebaliknya, style individu dia hanya akan menghancurkan apa yang sudah 
besar. Dia itu tipe Shiva. Gak cocok buat kerja macam gini. Lagipula, Dita 
selamanya sulit hidup sebagai manusia normal. Dia akan terus
 mencari dan menikmati konflik. Bukan menyelesaikan konflik.". 

Saya bukan mau memganggakan istri saya. Dia bukan apa2. Jutaan orang jauuuuh 
lebih hebat dari dia. Saya hanya ingin mengingatkan Dita, banyak cara berbuah 
baik dan menghidupi sesama. Tidak harus membikin pabrik "konflik" seperti yang 
dilakukan Dita. Tidak juga harus menjadi seorang Marxis.

Rakyat Indonesia sudah jauh lebih cerdas. Dita sebaiknya bangkit dan keluar 
dari tong sampah politik yang selama ini dia berkubang. Life is beautiful, girl!


CABUT MANDAT
Kembali ke Sri Bintang Pamungkas. Isu pawai Cabut Mandat membuat masyarakat 
geleng2 kepala. Sekelompok orang yang TIDAK memberi mandat kepada SBY saat 
pemilu kemarin malah mau mencabut MANDAT demokratis jutaan orang kepada SBY???? 
Dan Sri Bintang bangga menjadi salah satu dalangnya. Sebuah ketololan luar 
biasa buat orang yang pernah menyebut dirinya "Nelson Mandela Indonesia" dan 
"aktivis demokrasi". 

Saya tidak milih SBY saat pemilu kemarin. Tapi jutaan orang milih SBY. Kalau 
saya puas, Pemilu depan saya milih SBY. Kalau enggak saya akan milih yang lain. 
Gitu aja boss. Life is sometime that simple, son!.

Karier politik Sri Bintang sebenarnya sudah tamat saat pemilu kemarin dia tidak 
dipilih rakyat. Tapi Sri Bintang tidak mau menyerah. Bukan karena dia yakin dia 
pilihan terbaik RAKYAT. Tapi karena dia tidak punya pilihan hidup yang lain 
lagi. Bagi masyakarat umum, acara Cabut Mandat kemarin makin menenggelamkan Sri 
Bintang ke titik kenistaan. Namun Sri Bintang tidak akan pernah menyerah. Dia 
butuh menghidupi keluarganya. Suatu saat nanti, dia akan keluar dari 
persembunyiannya, lalu melempar kaleng kosong kejalanan. Setelah banyak orang 
kaget dengan bunyi kaleng kosong itu, dia akan sembunyi lagi bertahun2 sampai 
waktunya melempar kaleng kosong lagi. Begitu seterusnya.

Selamat jalan Sri Bintang.

KONGGRESS PAPERNAS
Sebaiknya pimpinan Kongres Papernas terbuka dan tulus kepada RAKYAT. kalau 
mereka memang Marxis, ya jelaskan kepada RAKYAT bahwa bahwa anda Marxis. 

Seperi yang anda bilang: KEDAULATAN ada Di TANGAN RAKYAT. makanya serahkan 
kepada rakyat bagaimana selanjutnya. KALAU RAKYAT tetap setuju dengan 
undang-undang anti komunis dan anti marxis tahun 1999, artinya kalau MAYORITAS 
RAKYAT tidak meminta undang2 itu dicabut, berarti anda harus menhormat undang2 
itu. RAKYAT sudah melek hukum. Peraturan th. 1999 sudah jelas melarang 
Marxisme, tapi anda masih lugu ngomongin kemerdekaan berpolitik Marxis. 

Saya sendiri sebagai Pekerja keras, TIDAK merasa butuh Papernas. Kualitas 
intelektual RAKYAT termasuk pekerja Indonesia sudah berkembang jauh membumbung 
tinggi. Tapi konsep2 Papernas masih berkutat dikonsep kuno. Papernas jauuuuuuh 
dari RAKYAT. Papernas masih berkubang ditempat sampah.
















 








----- Original Message ----
From: prp pusat <[EMAIL PROTECTED]>
To: milis agraria <[EMAIL PROTECTED]>; milis anti imf <[EMAIL PROTECTED]>; 
milis apa kabar <[EMAIL PROTECTED]>; milis FPK 
<[email protected]>; milis indo marxist 
<[email protected]>; milis koran nasional <[EMAIL PROTECTED]>; milis 
media indonesia <[EMAIL PROTECTED]>; milis mediacare 
<[email protected]>; milis rakyat pekerja <[EMAIL PROTECTED]>; milis 
wartawan <[EMAIL PROTECTED]>
Sent: Friday, January 19, 2007 7:52:17 PM
Subject: [Forum-Pembaca-KOMPAS] Statement pengecaman ancaman pembubaran kongres 
Papernas

PERNYATAAN SIKAP
PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA (PRP)

Mengecam keras aksi pembubaran Kongres Papernas !!!
Negara harus menjamin kebebasan berpolitik rakyat !!!



Salam rakyat pekerja,

Kebebasan rakyat untuk menjalankan hak-haknya kembali diberangus. Hal ini 
kembali terjadi ketika Komite Persiapan Partai Persatuan Pembebasan Nasional 
(KP Papernas) akan melakukan kongres dari tanggal 18 – 21 Januari 2007 di Wisma 
Sejahtera Kaliurang, Sleman, DI Yogyakarta. Setiap warga negara seharusnya 
memiliki hak yang sama untuk berpolitik dan mendirikan partai. Namun ternyata 
dengan kejadian ini, seakan-akan ada pembatasan hak berpolitik bagi sebagian 
rakyat Indonesia. Di dalam kongres ini sendiri menurut rencana akan dibicarakan 
pula program-program partai selanjutnya, calon-calon kepemimpinan nasional, dan 
strategi memenangkan Pemilu 2009

Indikasi pembatasan hak berpolitik terhadap kawan-kawan Papernas, sebenarnya 
sudah dimulai ketika mereka melayangkan surat izin kepada kepolisian guna 
mengadakan kongres. Namun sampai saat ini tanggal 19 Januari 2007, kongres 
tersebut belum juga diberikan izin oleh pihak kepolisian. Usaha panitia untuk 
mendapatkan izin dari kepolisian terus dipersulit dengan dalih bahwa panitia 
harus memperbaiki proposal dan menjelaskan beberapa agenda sidang. Panitiapun 
diminta untuk menurunkan spanduk dan berbagai atribut partai di lokasi kongres. 
Selain itu juga polisi meminta panitia untuk menjelaskan tentang “Tri Panji 
Partai” yang diusung oleh Papernas.

Akibat belum mendapatkan izin dari pihak kepolisian, panitiapun sampai saat ini 
belum dapat menyelenggarakan kongres tersebut. Usaha mempersulit atau 
menghambat jalannya kongres Papernas, bukan saja dilakukan oleh kepolisian, 
namun juga dilakukan oleh Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) Yogyakarta. Massa 
FAKI Yogyakarta yang berjumlah 300an orang mendatangi lokasi kongres Papernas. 
FAKI memaksa panitia untuk membubarkan acara kongres sebelum pukul 21.00 WIB, 
atau akan dibubarkan paksa oleh massa mereka.

Hal ini jelas sangat bertentangan dengan persamaan hak warga untuk berpolitik 
dan kebebasan berpendapat. Maka dari itu kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja 
(PRP) menyatakan sikap:

Pertanggungjawaban Negara untuk menjamin seluruh rakyatnya agar memiliki hak 
berpolitik dan kebebasan berpendapat.
Menuntut Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) untuk tidak membatasi, 
menghambat dan mempersulit warga negara Indonesia dalam memenuhi hak-hak 
berpolitik dan kebebasan berpendapatnya
Mengecam keras aksi yang dilakukan oleh Front Anti Komunis Indonesia (FAKI) 
Yogyakarta untuk membubarkan acara kongres Partai Persatuan Pembebasan Nasional 
(Papernas), karena FAKI tidak memiliki hak untuk membubarkan acara kongres 
Papernas.
Menuntut pihak Kepolisian Republik Indonesia (POLRI) untuk menjamin dan 
melindungi warga negara Indonesia dalam memenuhi hak-hak berpolitik dan 
kebebasan berpendapat.

Kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja meminta kepada seluruh rakyat pekerja 
untuk melawan aksi-aksi premanisme yang menggunakan kedok anti komunisme dan 
agama serta mendukung segala aksi perlawanan rakyat pekerja di Indonesia dan di 
dunia dalam melawan praktik penindasan yang dilakukan oleh negara maupun 
kelompok yang terorganisir.

Jakarta, 19 Januari 2007

Sekertaris Jenderal




Irwansyah


------------ --------- --------- ---
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

[Non-text portions of this message have been removed]





 
____________________________________________________________________________________
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives.
http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/

Kirim email ke