Sebuah tulisan dari seorang teman di Belanda .
  
--------------------------------------------------------------------------------------------------
  Teman-teman 
  Sekedar berbagi, kebetulan baru saja mengetik sebuah kutipan dari buku karya 
Prof. Bambang Purwanto, Guru Besar Sejarah UGM. Tadinya kutipan ini saya 
tujukan untuk sebuah komunitas Indonesia di Belanda, tapi daripada mubazir 
ketik ulang cuma buat satu komunitas saja, saya teruskan juga disini.
  -Michael.
   
  “Dalam konteks historis Indonesia-Belanda di masa depan, nampaknya the new 
age of partnership memang perlu diciptakan dari[ada terus terbuai oleh 
perspektif historiografis yang sempit jika ingin membangun sebuah kesetaraan 
dalam menjalani proses sejarah global. Pemaknaan terhadap masa lalu bersama 
bukan dengan sekedar memaksa permohonan maaf colonizer dan memberikan 
kompensasi keuangan kepada colonized sebagai bentuk pertanggungjawaban atas 
kesalahan masa lalu, melainkan sebuah hubungan yang didasarkan pada kesadaran 
tentang tanggung jawab kemanusiaan bersama atas masa depan yang lepas dari rasa 
dendam dan bersalah. Benar atau salah dan pelaku atau korban dalam sejarah 
sangat relatif, tergantung dari cara dan siapa yang memaknainya, namun tanggung 
jawab kemanusiaan atas masa lalu dan masa depan adalah universal.
  Permohonan maaf tidak akan berarti dan tidak akan menghadirkan rekonsiliasi 
jika tidak muncul kesadaran bersama bahwa masa lalu yang dituntut itu adalah 
produk bersama colonized dan colonizer. Jika sejarah Indonesia dilihat secara 
keseluruhan, di dalam kelompok yang diidentifikasi sebagai colonized, 
sebenarnya juga terdapat colonizer. Seperti juga para colonizer yang tidak 
pernah mengakui diri mereka sebagai penindas, para colonized yang colonizer itu 
juga berusaha sembunyi dibalik identitas semu sebagai colonized. Akhirnya satu 
hal yang perlu dicamkan, sejarah bukan peluru untuk berperang kembali, 
melainkan petuah untuk kearifan dan perdamaian di masa kini yang sangat pendek 
itu dan masa depan yang masih panjang. Melestarikan dendam sejarah dan 
melupakan masa lalu sama-sama akan membutakan mata, menutup hati, dan 
menyianyiakan kecerdasan.“ (Purwanto, B. (2006) Gagalnya Historiografi 
Indonesiasentris?!, Ombak: Yogyakarta.)
   

 Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke