Kemarin kabinet kanan-tengah yang baru di Republik Ceko mendapat "vote of confidence" yang tipis di Parlemen. Dan seorang perempuan untuk pertama kalinya disini menjadi Menteri Pertahanan. Ini juga baru saja terjadi di Ecuador, dalam sebuah kabinet sayap kiri.
Sudah beberapa tahun Prancis, Swedia dan kalau tidak salah juga Denmark pun membanggakan kemajuan kaum perempuannya dengan menjadikan politisi wanita sebagai Menteri Pertahanan. Tentu saja ini bukan trend baru bahwa wanita di negeri-negeri tersebut sudah begitu emancipated nya sehingga dapat "menjajah" angkatan bersenjatanya. Ini saya kira hanya penegasan pada sistem supremasi sipil atas segalanya, secara demokratis, hingga tentara pun secara politis dapat diurus oleh politisi yang mana saja. Bisa perempuan, bisa pria. Belum ada berita bahwa ada menteri pertahanan yang berorientasi "gay"! Mungkinkah juga di Indonesia akan ada Menteri Pertahanan yang perempuan? Apa ada yang memadai kepiawaian politisnya dan organisatorisnya? Apa ada yang sudah berani? Dan bagaimana "peraturannya"? Bolehkah seorang wanita sekarang menjadi hulubalang seperti Cut Nya' Din dulu? Setelah seorang perempuan, Megawati Soekarnoputri, akhirnya "diperbolehkan" bahkan menjadi Presiden RI, tentu tidak ada problem bila seorang wanita Indonesia pun akan mengurusi permasalahan pertahanan negara sebagai seorang menteri. Mau tidak mau saya jadi ingat lagu tahun 1950-an doeloe, ketika masih bermukim di Negeri Nyiur Melambai, yang dinyanyikan oleh Sam Saimun dengan suara baritonnya. Liriknya diantaranya berbunyi: "Wanita didjadjah pria sedjak doeloe, Didjadikan perhiasan sangkar madoe ... Namun ada kala pria tak berdaja, tekoek loetoet disoedoet kerling wanitaaaaa ...". Salam, Bismo DG Praha
