Siaran Pers

Untuk diterbitkan segera

 

 

Kongres I Ikatan Perempuan Positif Indonesia diselenggarakan di
Surabaya, 31 Januari - 4 Februari 2007

 

 

Jakarta, 20 Januari 2007 - Untuk pertama kali sejak didirikan pada 17
Juni 2006, Ikatan Perempuan Positif Indonesia (IPPI) akan melangsungkan
Kongres I IPPI pada 31 Januari 2007 hingga 4 Februari 2007 di Surabaya,
Jawa Timur.

 

Sebanyak 70 orang perempuan yang hidup dengan HIV dan yang terdampak
oleh AIDS dari seluruh Indonesia akan hadir dalam Kongres I IPPI
tersebut.

 

Kongres I IPPI merupakan agenda tindak lanjut dalam upaya untuk
mendirikan jaringan nasional perempuan yang hidup dengan HIV dan yang
terdampak oleh AIDS, yang pertama kali dicetuskan dalam lokakarya khusus
perempuan di Hotel Raddin, Ancol, Jakarta, pada bulan Juli 2005. 

 

Sebagai bagian dari rangkaian acara Pertemuan Nasional HIV dan AIDS ke-3
yang diadakan pada 4 - 8 Februari 2007 di Surabaya, diharapkan IPPI
dapat disosialisasikan sebagai jaringan nasional pertama bagi perempuan
yang hidup dengan HIV dan terdampak oleh AIDS di Indonesia.

 

Tujuan dari dibentuknya jaringan tersebut adalah untuk meningkatkan
kualitas hidup perempuan dengan HIV dan yang terdampak oleh AIDS melalui
pemberdayaan dan kesetaraan dalam semua aspek kehidupan. Upaya-upaya
tersebut akan diimplementasikan dalam rencana kerja IPPI di masa
mendatang.

 

"Setelah mengetahui diri kami HIV-positif, bukan berarti kami tidak bisa
apa-apa, kami bersatu untuk memberdayakan diri dan menyebarkan pesan
kepada perempuan-perempuan Indonesia lainnya," Frika Chia dari Yayasan
PITA, yang juga anggota tim penasehat IPPI, mengatakan.

 

Sementara itu, anggota tim penasehat IPPI lainnya, Baby Rivona Nasution,
mengatakan bahwa berdirinya IPPI akan sangat membantu perempuan yang
hidup dengan HIV dan terdampak oleh AIDS.

 

"Karena kita sadari kesetaraan jender di Indonesia belum terjadi," kata
Baby, yang juga bekerja di LSM Medan Aceh Partnership.

 

Ia mengatakan bahwa IPPI diharapkan dapat menjadi wadah bagi perempuan -
baik mereka yang hidup dengan HIV (ODHA), terdampak oleh AIDS (OHIDHA),
maupun yang berisiko - untuk mendapatkan informasi lengkap dan tepat
mengenai HIV dan AIDS, dan menjadi wadah bagi pengembangan diri untuk
meningkatkan kualitas hidup.

 

"Mudah-mudahan dengan IPPI, perempuan Indonesia lebih berinisiatif untuk
mengakses layanan informasi yang tersedia, khususnya mengenai kesehatan
seksual dan reproduksi, tanpa harus menunggu," kata Baby.

 

Dalam Kongres I IPPI akan dibahas dan disahkan Anggaran Dasar dan
Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) organisasi, program kerja IPPI, diadakan
pemilihan anggota dewan serta koordinator nasional, dan penetapan
wilayah kerja IPPI.

 

 

Kongres I IPPI difasilitasi oleh Yayasan Spiritia dengan Kelompok
Dukungan Perempuan Independen Jakarta sebagai tim pelaksana, serta
didukung penuh oleh Komisi Penanggulangan AIDS Nasional (KPAN) dan
Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS).

 

Kongres selama tiga hari ini akan menghadirkan Emmy Lucy Smith dari
Indonesia Against Child Trafficking (ACT) dan Nining Mukatamar dari
Yayasan Kakak Solo sebagai fasilitator, serta Direktur Surabaya Children
Crisis Center (SCCC) Suryono sebagai pembicara.

 

Kongres diharapkan akan ditutup oleh Menteri Negara Pemberdayaan
Perempuan Dr. Meutia Hatta serta Sekretaris Komisi Penanggulangan AIDS
Nasional Dr. Nafsiah Mboi, MPH.

 

 

Informasi lebih lanjut hubungi:

 

Puji Astuti Hoesin (Tary) | Panitia pelaksana Kongres I IPPI | +62 813
155 502 08 | [EMAIL PROTECTED]

 

 

Kirim email ke