----- Original Message ----- 
From: Rachmat Hadi-Soetjipto
To: HKSIS
Sent: Saturday, 20 January, 2007 19:05
Subject: [HKSIS] E-Mail schreiben an: ?Kepala Singa? di Makam Bung Karno 
? Abdul Manan Blog?s



?Kepala Singa? di Makam Bung Karno
Rezim Soeharto mencoba ?melenyapkan? Bung Karno dengan menempatkan 
makamnya di Blitar, Jawa Timur, sejauh mungkin dari Jakarta. Tetapi 
?de-soekarnoisasi? itu gagal. Makam Bung Karno tiap hari tetap diziarahi 
ribuan rakyat.

MACAN mati meninggalkan kulit, gajah mati meninggalkan gading. Orang besar 
mati meninggalkan nama. Itulah yang terjadi pada Bung Karno, Presiden 
Pertama RI dan salah satu proklamator kemerdekaan, meski rezim Soeharto 
mencoba menghapus nama Soekarno dari sejarah. Polemik sejarah tentang siapa 
sebenarnya penggali Pancasila bisa dibilang termasuk bagian dari upaya ini.

Rezim Soeharto melakukan segala hal untuk mengecilkan dan ?menghabisi? 
Soekarno, termasuk melarang kunjungan keluarga dan kerabatnya ketika ia 
sakit, menuduhnya terlibat PKI, termasuk kemudian menolak memenuhi keinginan 
Soekarno sebelum wafatnya, yang ingin dimakamkan secara sederhana di 
Batutulis, Jawa Barat.

Putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra, menceritakan kepada D&R, Bung Karno 
wanti-wanti kalau meninggal jangan dibuatkan batu nisan, kijing. Jangan 
dituliskan segala macam gelar. Hanya tulislah Di sini Beristirahat Bung 
Karno, Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dan, kuburan itu kalau bisa di 
bawah pohon rindang.

Adapun soal tempat, itu macam-macam. Dalam salah satu surat cinta untuk 
Ratna Sari Dewi atau Hartini-istri-istrinya-Bung Karno menulis: ?Aku ingin 
dikuburkan bersamamu.? Tapi, tentang perincian lokasinya ada di buku 
biografi Soekarno karangan Cindy Adams, yakni ingin dimakamkan di Jawa 
Barat, sekitar daerah Priangan. ?Harus kelihatan ada sungai, gunung-gunung. 
Jadi, Bapak pesannya begitu,? ucap Guruh.

Setelah sakitnya mendadak menjadi gawat, Bung Karno diangkut ke RSAD Gatot 
Subroto pada petang hari, 16 Juni 1970. Ia meninggal pada Minggu, 21 Juni 
1970. Rachmawati Soekarnoputri, putri Bung Karno, menceritakan kepada D&R, 
hari itu diadakan rapat keluarga dan semua sepakat Bung Karno bisa 
dimakamkan sesuai dengan testamennya, yakni dimakamkan di Batutulis.

Bahkan, Hartini dan Dewi bersama-sama memohon kepada Soeharto agar 
mengizinkan penguburan Soekarno di pekarangan rumahnya di Batutulis, sesuai 
kehendak Soekarno. Batutulis adalah rumah Soekarno tempat ia menjalani 
tahanan rumah pertama kali, sebelum kemudian dipindah ke Wisma Yaso di 
Jakarta.

Namun Soeharto-yang sedang pada tahap-tahap awal dalam mengonsolidasikan 
kekuasaannya-rupanya tidak ingin mendirikan suatu tempat ziarah yang terlalu 
dekat dengan Jakarta. Soeharto menolak permohonan itu.

Bukan hanya itu. Bahkan, menurut penuturan mantan Duta Besar RI di Moskwa, 
Manai Sophiaan, permintaan istri Bung Karno yang lain, Fatmawati, agar 
jenazah Bung Karno disemayamkan di rumah Jalan Sriwijaya, bukan di Wisma 
Yaso, juga tidak diizinkan. Alasannya: mau diberi upacara pemakaman 
kehormatan militer.

Sempat terjadi perundingan antara Hoegeng, Kepala Polisi RI, yang waktu itu 
bertindak mewakili keluarga Bung Karno, dengan Alamsjah Ratu Prawiranegara 
dan Tjokropranolo, asisten pribadi Presiden Soeharto, untuk memutuskan di 
mana Bung Karno dimakamkan.

Akhirnya, Soeharto sendiri yang memutuskan di Blitar, dengan alasan supaya 
dekat dengan makam ibunda Bung Karno. ?Pihak keluarga waktu itu sempat 
bertahan agar tetap sesuai dengan amanah beliau (Bung Karno). Tapi keputusan 
di tangan pemerintah,? kata Rachmawati.

Ada yang menarik sehubungan dengan keputusan memakamkan Bung Karno di Blitar 
itu. Menurut Subayo Anam, mantan kepala biro penerangan Departemen 
Penerangan. sekitar pukul 07.00, 21 Juni 1970, disiarkan di radio Bung Karno 
wafat. Waktu itu, di Istana Negara diadakan sidang. Pak Harto memanggil Bung 
Hatta dan juga memanggil keluarga Bung Karno. ?Cuma, saya tidak tahu apa 
yang dinyatakan oleh pihak keluarga, itu hanya mereka yang bisa 
 menjelaskan,? tutur Subagyo kepada D&R.

Lalu mereka mengumumkan bahwa Bung Karno akan dimakamkan didekat makam 
ibundanya di Blitar. Kemudian juga akan diadakan upacara kenegaraan. 
?Begitu selesai pengumuman tersebut, langsung saja saya beritahukan hal 
tersebut kepada para wartawan bahwa Bung Karno akan dimakamkan di makam 
pahlawan,? cerita Subagyo, ?waktu itu, wartawan menjadi ribut karena 
bagaimana mungkin seorang presiden yang meninggal dalam tahanan akan 
dimakamkan di makam pahlawan. Waktu itu kan ada pendapat yang mengatakan 
Bung Karno tidakboleh dimakamkan di makam pahlawan.? Karena Subagyo 
dianggap sebagai narasumber berita tersebut, ia dipanggil tim pemeriksa 
pusat. Ia ditanya, apa betul Bung Karno akan dimakamkan di taman makam 
pahlawan. ?Saya mengatakan bahwa saya orang Blitar. Waktu ibunda Bung Karno 
meninggal, ia dimakamkan di taman makam pahlawan Taman Bahagia Sentul,? 
ujarnya.

Akhirnya, 21 Juni 1970 siang, Bung Karno dibawa ke Blitar. ?Saya ingat 
benar ketika sampai di sana ada papan nama besar bertuliskan Taman Bahagia 
Sentul, memang tempat itu adalah makam pahlawan,? tutur Subagyo pula. Tapi, 
tidak lama setelah itu, makam tersebut ditutup. Para pahlawan yang sudah 
dikubur di situ kemudian dipindah ke Medukgerit. Ironisnya, makam pablawan 
itu dipindahkan dari Sentul dengan alasan sudah penuh. Dari tahun 1970 
sampai 1979, makam Bung Karno tidak boleh dikunjungi orang dari Jakarta, 
kecuali masyarakat Blitar.

Pada awal 1970-an, makam Bung Karno dijaga tentara. Tak ada orang yang boleh 
mendekat, bahkan keluarganya sekalipun, kata Mat Sanuri, 44 tahun, penjaga 
makam yang sudah bekerja sejak 1972.

Baru pada 1978, makam itu dipugar dan dibangun, selesai pada 1979. Tepat 
pada haul Bung Karno, 21 Juni 1979, Soeharto meresmikan bangunan makam. 
Masih kata Mat Sunari, ?Itulah pertama kali ia ke makam Soekarno, itu pun 
hanya untuk peresmian.?

* Bung Karno Marah

Apakah semua yang datang ke makam adalah soekarnois? ?Ya, sebagian besar 
seperti itu,? kata Sutanto, tukang foto yang sudah sejak 1978 beroperasi di 
situ. Peziarah umumnya berasal dari berbagai macam kalangan. Warga keturunan 
Cina juga banyak yang datang.

Motif kedatangan para peziarah juga bervariasi. Pelajar asal Malang, 
misalnya, mau berekreasi. Para aktivis pro-Megawati merasa tak afdal jika 
datang ke Blitar tanpa berziarah ke makam Bung Karno.

Yang punya tujuan aneh-aneh juga tidak sedikit, lanjut Mat Sunari. Ada orang 
yang ingin hajatnya terkabul datang ke makam itu. Yang bermotivasi semacam 
itu umumnya berasal dari luar Kota Blitar. Bulan Agustus lalu, misalnya ada 
orang dari Bogor yang berpuasa selama 15 hari. Ada juga yang ingin dapat 
jodoh atau ingin rezekinya lancar.

Pernah ada peristiwa menghebohkan yang meramaikan makam itu, yakni soal foto 
makam Bung Karno yang menampakkan ?kepala singa?. Peristiwa ini terjadi 
hari Rabu, 25 September 1996, saat Keluarga Besar Pengurus Dewan Pimpinan 
Pusat Penerus Pelopor Kemerdekaan Bangsa Indonesia nyekar ke makam tersebut. 
Mereka mengambil foto makam Bung Karno.

Setelah foto itu dicetak terjadi heboh karena terlihat gambar kepala singa 
di batu nisan Bung Karno yang terbuat dari marmer itu. Hal ini tentu saja 
menggemparkan warga sekitar dan mengundang berbagai penafsiran.

Ada yang mengatakan ?Bung Karno marah? karena saat itu tak lama setelah 
terjadinya Peristiwa 27 Juli: penyerbuan berdarah yang didukung pemerintah 
Soeharto terhadap markas Dewan Pimpinan Pusat PDI yang dikuasal kubu 
Megawati Soekarnoputri di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ada juga yang 
beranggapan, potret kepala singa itu hanyalah efek fotografi karena pantulan 
cahaya lampu kilat dari bidang mengkilap yang bisa memunculkan gambar apa 
saja.

Yang jelas, kehebohan itu sendiri menunjukkan betapa berartinya keberadaan 
makam Bung Karno bagi masyarakat di Blitar. Bahkan, sesudah matinya, nama 
Bung Karno masih jadi andalan untuk mencari penghidupan oleh rakyat 
setempat. Sepanjang jalan menuju makam terlihat banyak pedagang suvenir 
berjajar di pinggir jalan. Mereka menjual kaus, tas, asbak, kalung, dan 
beragam hasil kerajinan tangan bikinan warga Blitar.

Makam Bung Karno sendiri tiap harinya dijaga 12 orang. Ada yang bertugas 
menjaga kebersihan taman, makam, dan yang menjaga kantor. Semuanya digaji 
oleh Pemerintah Daerah Blitar. Ada yang digaji harian, ada juga yang 
bulanan, tergantung masa kerjanya. Sunari sendiri, sekalipun sudah bekerja 
sejak 1972, baru diangkat sekitar 10 tahun lalu sebagai pegawai pemerintah 
daerah, dengan gaji Rp 350.000 per bulan.

Soekarno pada akhirnya memang terlalu besar untuk bisa dikecilkan.

Satrio Arismunandar/Laporan: Rachmat H. Cahyono, Reko Alum (Jakarta), dan 
Abdul Manan (Surabaya)

D&R Edisi 980926-006/Hal. 22 Rubrik Sejarah

 

Kirim email ke