Ini rumor lama. Tidak semua foto bisa menampilkan gambar yang ditafsirkan
sebagai kepala singa. Tergantung dari sudut dan tertentu image (citra) kepala
singa ini tampak, tentu saja dengan bersusah payah konsentrasi dan membayangkan
gambar kepala singa di dalam foto. Nah?
Sampai kapan manusia lepas dari kebodohan ini?
Mari kita tunggu orang bisa beramai-ramai bersama melihat dengan mata kepala
sendiri kepala singa tersebut, sokur ada yang berna i mencabut kumis singanya
untuk bukti.
Ingat, ketika paska kerusuhan tahun 65, orang meributkan ada gambar (slihuet)
BK di bulan. Mengapa bukan gambar Kennedy saja?
Prinarotomo
HKSIS <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
----- Original Message ----- From: Rachmat Hadi-Soetjipto
To: HKSIS
Sent: Saturday, 20 January, 2007 19:05
Subject: [HKSIS] E-Mail schreiben an: Kepala Singa di Makam Bung Karno «
Abdul Manan Blogs
Kepala Singa di Makam Bung Karno
Rezim Soeharto mencoba melenyapkan Bung Karno dengan menempatkan makamnya
di Blitar, Jawa Timur, sejauh mungkin dari Jakarta. Tetapi de-soekarnoisasi
itu gagal. Makam Bung Karno tiap hari tetap diziarahi ribuan rakyat.
MACAN mati meninggalkan kulit, gajah mati meninggalkan gading. Orang besar
mati meninggalkan nama. Itulah yang terjadi pada Bung Karno, Presiden Pertama
RI dan salah satu proklamator kemerdekaan, meski rezim Soeharto mencoba
menghapus nama Soekarno dari sejarah. Polemik sejarah tentang siapa sebenarnya
penggali Pancasila bisa dibilang termasuk bagian dari upaya ini.
Rezim Soeharto melakukan segala hal untuk mengecilkan dan menghabisi
Soekarno, termasuk melarang kunjungan keluarga dan kerabatnya ketika ia sakit,
menuduhnya terlibat PKI, termasuk kemudian menolak memenuhi keinginan Soekarno
sebelum wafatnya, yang ingin dimakamkan secara sederhana di Batutulis, Jawa
Barat.
Putra bungsunya, Guruh Soekarnoputra, menceritakan kepada D&R, Bung Karno
wanti-wanti kalau meninggal jangan dibuatkan batu nisan, kijing. Jangan
dituliskan segala macam gelar. Hanya tulislah Di sini Beristirahat Bung Karno,
Penyambung Lidah Rakyat Indonesia. Dan, kuburan itu kalau bisa di bawah pohon
rindang.
Adapun soal tempat, itu macam-macam. Dalam salah satu surat cinta untuk Ratna
Sari Dewi atau Hartini-istri-istrinya-Bung Karno menulis: Aku ingin dikuburkan
bersamamu. Tapi, tentang perincian lokasinya ada di buku biografi Soekarno
karangan Cindy Adams, yakni ingin dimakamkan di Jawa Barat, sekitar daerah
Priangan. Harus kelihatan ada sungai, gunung-gunung. Jadi, Bapak pesannya
begitu, ucap Guruh.
Setelah sakitnya mendadak menjadi gawat, Bung Karno diangkut ke RSAD Gatot
Subroto pada petang hari, 16 Juni 1970. Ia meninggal pada Minggu, 21 Juni 1970.
Rachmawati Soekarnoputri, putri Bung Karno, menceritakan kepada D&R, hari itu
diadakan rapat keluarga dan semua sepakat Bung Karno bisa dimakamkan sesuai
dengan testamennya, yakni dimakamkan di Batutulis.
Bahkan, Hartini dan Dewi bersama-sama memohon kepada Soeharto agar
mengizinkan penguburan Soekarno di pekarangan rumahnya di Batutulis, sesuai
kehendak Soekarno. Batutulis adalah rumah Soekarno tempat ia menjalani tahanan
rumah pertama kali, sebelum kemudian dipindah ke Wisma Yaso di Jakarta.
Namun Soeharto-yang sedang pada tahap-tahap awal dalam mengonsolidasikan
kekuasaannya-rupanya tidak ingin mendirikan suatu tempat ziarah yang terlalu
dekat dengan Jakarta. Soeharto menolak permohonan itu.
Bukan hanya itu. Bahkan, menurut penuturan mantan Duta Besar RI di Moskwa,
Manai Sophiaan, permintaan istri Bung Karno yang lain, Fatmawati, agar jenazah
Bung Karno disemayamkan di rumah Jalan Sriwijaya, bukan di Wisma Yaso, juga
tidak diizinkan. Alasannya: mau diberi upacara pemakaman kehormatan militer.
Sempat terjadi perundingan antara Hoegeng, Kepala Polisi RI, yang waktu itu
bertindak mewakili keluarga Bung Karno, dengan Alamsjah Ratu Prawiranegara dan
Tjokropranolo, asisten pribadi Presiden Soeharto, untuk memutuskan di mana Bung
Karno dimakamkan.
Akhirnya, Soeharto sendiri yang memutuskan di Blitar, dengan alasan supaya
dekat dengan makam ibunda Bung Karno. Pihak keluarga waktu itu sempat bertahan
agar tetap sesuai dengan amanah beliau (Bung Karno). Tapi keputusan di tangan
pemerintah, kata Rachmawati.
Ada yang menarik sehubungan dengan keputusan memakamkan Bung Karno di Blitar
itu. Menurut Subayo Anam, mantan kepala biro penerangan Departemen Penerangan.
sekitar pukul 07.00, 21 Juni 1970, disiarkan di radio Bung Karno wafat. Waktu
itu, di Istana Negara diadakan sidang. Pak Harto memanggil Bung Hatta dan juga
memanggil keluarga Bung Karno. Cuma, saya tidak tahu apa yang dinyatakan oleh
pihak keluarga, itu hanya mereka yang bisa menjelaskan, tutur Subagyo kepada
D&R.
Lalu mereka mengumumkan bahwa Bung Karno akan dimakamkan didekat makam
ibundanya di Blitar. Kemudian juga akan diadakan upacara kenegaraan. Begitu
selesai pengumuman tersebut, langsung saja saya beritahukan hal tersebut kepada
para wartawan bahwa Bung Karno akan dimakamkan di makam pahlawan, cerita
Subagyo, waktu itu, wartawan menjadi ribut karena bagaimana mungkin seorang
presiden yang meninggal dalam tahanan akan dimakamkan di makam pahlawan. Waktu
itu kan ada pendapat yang mengatakan Bung Karno tidakboleh dimakamkan di makam
pahlawan. Karena Subagyo dianggap sebagai narasumber berita tersebut, ia
dipanggil tim pemeriksa pusat. Ia ditanya, apa betul Bung Karno akan dimakamkan
di taman makam pahlawan. Saya mengatakan bahwa saya orang Blitar. Waktu ibunda
Bung Karno meninggal, ia dimakamkan di taman makam pahlawan Taman Bahagia
Sentul, ujarnya.
Akhirnya, 21 Juni 1970 siang, Bung Karno dibawa ke Blitar. Saya ingat benar
ketika sampai di sana ada papan nama besar bertuliskan Taman Bahagia Sentul,
memang tempat itu adalah makam pahlawan, tutur Subagyo pula. Tapi, tidak lama
setelah itu, makam tersebut ditutup. Para pahlawan yang sudah dikubur di situ
kemudian dipindah ke Medukgerit. Ironisnya, makam pablawan itu dipindahkan dari
Sentul dengan alasan sudah penuh. Dari tahun 1970 sampai 1979, makam Bung Karno
tidak boleh dikunjungi orang dari Jakarta, kecuali masyarakat Blitar.
Pada awal 1970-an, makam Bung Karno dijaga tentara. Tak ada orang yang boleh
mendekat, bahkan keluarganya sekalipun, kata Mat Sanuri, 44 tahun, penjaga
makam yang sudah bekerja sejak 1972.
Baru pada 1978, makam itu dipugar dan dibangun, selesai pada 1979. Tepat pada
haul Bung Karno, 21 Juni 1979, Soeharto meresmikan bangunan makam. Masih kata
Mat Sunari, Itulah pertama kali ia ke makam Soekarno, itu pun hanya untuk
peresmian.
* Bung Karno Marah
Apakah semua yang datang ke makam adalah soekarnois? Ya, sebagian besar
seperti itu, kata Sutanto, tukang foto yang sudah sejak 1978 beroperasi di
situ. Peziarah umumnya berasal dari berbagai macam kalangan. Warga keturunan
Cina juga banyak yang datang.
Motif kedatangan para peziarah juga bervariasi. Pelajar asal Malang,
misalnya, mau berekreasi. Para aktivis pro-Megawati merasa tak afdal jika
datang ke Blitar tanpa berziarah ke makam Bung Karno.
Yang punya tujuan aneh-aneh juga tidak sedikit, lanjut Mat Sunari. Ada orang
yang ingin hajatnya terkabul datang ke makam itu. Yang bermotivasi semacam itu
umumnya berasal dari luar Kota Blitar. Bulan Agustus lalu, misalnya ada orang
dari Bogor yang berpuasa selama 15 hari. Ada juga yang ingin dapat jodoh atau
ingin rezekinya lancar.
Pernah ada peristiwa menghebohkan yang meramaikan makam itu, yakni soal foto
makam Bung Karno yang menampakkan kepala singa. Peristiwa ini terjadi hari
Rabu, 25 September 1996, saat Keluarga Besar Pengurus Dewan Pimpinan Pusat
Penerus Pelopor Kemerdekaan Bangsa Indonesia nyekar ke makam tersebut. Mereka
mengambil foto makam Bung Karno.
Setelah foto itu dicetak terjadi heboh karena terlihat gambar kepala singa di
batu nisan Bung Karno yang terbuat dari marmer itu. Hal ini tentu saja
menggemparkan warga sekitar dan mengundang berbagai penafsiran.
Ada yang mengatakan Bung Karno marah karena saat itu tak lama setelah
terjadinya Peristiwa 27 Juli: penyerbuan berdarah yang didukung pemerintah
Soeharto terhadap markas Dewan Pimpinan Pusat PDI yang dikuasal kubu Megawati
Soekarnoputri di Jalan Diponegoro, Jakarta. Ada juga yang beranggapan, potret
kepala singa itu hanyalah efek fotografi karena pantulan cahaya lampu kilat
dari bidang mengkilap yang bisa memunculkan gambar apa saja.
Yang jelas, kehebohan itu sendiri menunjukkan betapa berartinya keberadaan
makam Bung Karno bagi masyarakat di Blitar. Bahkan, sesudah matinya, nama Bung
Karno masih jadi andalan untuk mencari penghidupan oleh rakyat setempat.
Sepanjang jalan menuju makam terlihat banyak pedagang suvenir berjajar di
pinggir jalan. Mereka menjual kaus, tas, asbak, kalung, dan beragam hasil
kerajinan tangan bikinan warga Blitar.
Makam Bung Karno sendiri tiap harinya dijaga 12 orang. Ada yang bertugas
menjaga kebersihan taman, makam, dan yang menjaga kantor. Semuanya digaji oleh
Pemerintah Daerah Blitar. Ada yang digaji harian, ada juga yang bulanan,
tergantung masa kerjanya. Sunari sendiri, sekalipun sudah bekerja sejak 1972,
baru diangkat sekitar 10 tahun lalu sebagai pegawai pemerintah daerah, dengan
gaji Rp 350.000 per bulan.
Soekarno pada akhirnya memang terlalu besar untuk bisa dikecilkan.
Satrio Arismunandar/Laporan: Rachmat H. Cahyono, Reko Alum (Jakarta), dan
Abdul Manan (Surabaya)
D&R Edisi 980926-006/Hal. 22 Rubrik Sejarah
---------------------------------
Want to start your own business? Learn how on Yahoo! Small Business.