Bung Nugroho,
Saya kurang tahu nama si bencong ini, seperti yang disebutkan rekan saya Irawan
Santoso dan Budi Sucahyono. Bila memang ia bernama Ronald, kami kurang tahu,
benar-benar tidak tahu.
Malah satu kali ketika dia (si bencong) datang ke kantor entah untuk yang
keberapa kalinya tahun lalu. Ia malah menyebutkan adanya keterlibatan anggota
BIN. Mendengar pengakuan dia saya terbellak tak percaya. Apakah benar? Awalnya
saya menduga mungkin anggota BIN yang si bencong sebutkan adalah person dari
Direktorat Ekonomi. Namun saya tak berani berasumsi sejauh itu.
Usai si bencong menyebutkan adanya anggota BIN dalam skandal Makindo. Saya
mendesak dia ketika dalam rapat,"Sebutkan? Jangan asal tuding!" Namun reaksi
dari pemred dan redaktur eksekutif kami rupanya hanya adem ayem saja. Sampai
satu ketika ketika saya bertemu empat mata dengan Brigjen (Pol) Anton Bachrul
Alam di ruang kerjanya setahun lalu, Pak Anton malah balik bertanya ke
saya,"Ndri, kamu dibayar berapa sama Makindo?"
Dari ucapan yang keluara dari Pak Anton, saya malah mempunyai kesimpulan si
bencong adalah makelar yang 'dipasang' ke media oleh orang Makindo. Ibarat
lingkaran setan, ketika ujungnya telah diketahui. Saya malah tertawa dalam
hati, "musuhku ternyata ada tepat di depanku."
Bila si bencong ini pernah berkoar bahwa TEMPO, FORUM, GATRA, KOMPAS, dsb
diberi 'uang damai' mungkin itu hanya isu atau kenyataan, saya tak mau ambil
pusing. Dan yang pasti semua yang dibeberkan si bencong masih menjadi tanda
tanya bagi saya, berapa yang sudah dibagi-bagi oleh Makindo ke semua media yang
lagi butuh duit.
Salam,
Adrian S
Nugroho Dewanto <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
rasanya saya tahu yang dimaksud dengan si bencong itu.
lebih setahun lalu, saya pernah ditelepon seseorang yang mengaku
bernama ronald. dia telepon ke kantor dan mengajak bertemu.
dalam pertemuan di sebuah kedai kopi, dia menawarkan informasi
tentang "kebusukan" makindo. kira-kira ceritanya tentang komplain
sejumlah investor di singapura yang duitnya digunakan makindo
untuk investasi di indonesia. dia sendiri mengaku mewakili kepentingan
para investor singapura itu.
saya kemudian minta dia membawa data-data awal. tapi data-data
yang dibawa dalam pertemuan berikut kurang meyakinkan. maka
saya katakan cerita seperti itu sulit ditulis.
dia kemudian mencoba merayu dengan mengatakan akan memasang
iklan. saya jawab, sebagai redaksi saya tak ada urusan dengan iklan.
tak mau menyerah, dia terus membujuk. kali ini mengiming-imingi
saya dengan sejumlah uang. iming-iming itu juga saya tolak.
dari tiga kali pertemuan, saya simpulkan informasi yang dia tawarkan
sama sekali tidak layak untuk ditulis. menyadari sikap saya dia tak
pernah menghubungi saya lagi.
buat wartawan, informasi yang akurat dengan verifikasi yang cukup
merupakan modal awal untuk menulis berita.
sebelum ini, saya dan teman-teman di kantor saya telah beberapa kali
menulis tentang makindo secara kritis. tentu saja dengan data yang cukup.
insya Allah kami akan terus seperti itu.
salam,
At 11:31 PM 1/20/2007, you wrote:
>Bung Moderator,
>
>Sepengetahuan saya yang dimaksud rekan kami dengan bencong itu yang
>mengetahui persis profilnya adalah redaktur eksekutif kami SWU dan
>pemred kami sendiri. Kami pernah melihat wajahnya dan berbincang
>dengannya. Namun tak sekalipun kami diberitahu siapa dia. Iblis
>jadi-jadian atau manusia normal...
>
>Kontak saja Sukowati Utami atau SWU dia pasti tahu...
>
>Salam,
>Adrian S
>Wartawan yang sedang kesusahan
>
>MOD:
>
>
>Alangkah lebih baik bila yang disebut-sebut sebagai "bencong" itu
>dituliskan nama lengkap atau inisialnya, biar lebih akurat. Juga,
>ada hubungan apa antara dia dengan Makindo?
>
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.