Tidak smua org china di Indonesia beruntung nasibnya. Di Kepulauan Riau ( T.Pinang. Natuna) banyak warga china yg hidupnya (maaf) cuma jadi kuli kasar, meski mereka kerja keras. Di Kalimantan, terutama Pontianak dan Singkawang, tidak lebih berutung dibandingkan saudara2nya yg lain. Banyak dari mereka yg hidup di bawah garis kemiskinan. Banyak dari mereka yg memiliki anak perempuan, berharap untuk mendapatkan suami dari taiwan atau hong kong, dengan tujuan untuk meningkatkan taraf hidupnya. Banyak yg berutung, banyak juga yang nasibnya ga jauh beda dgn TKW kita di LN. Atau di "jual" ke Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia, dgn kemampuan berbahasa mandarin mereka bisa berpura2 sebagai org RRC atau Taiwan, dgn begitu harga "jual" mereka bisa lebih tinggi.
Dan mereka sangat mudah untuk beradaptasi dan berasimilasi dengan penduduk lokal, bukan hal yg aneh didaerah tersebut kalau perempuan china bersuamikan pria lokal (dayak atau melayu), hal sangat tabu di beberapa daerah, dan biasanya sang perempuan di "buang" oleh keluarganya, tetapi hal itu tidak berlaku sebaliknya. Biasanya Tahun Baru Imlek di Singkawang sangat meriah perayaannya, mungkin Pak Denny bisa jalan2 dan berkunjung kesana. Dan disana anda akan bisa melihat sendiri, siapa yg menjadi kuli atau jadi preman penjaga keamanan...;-) Sangat kontras perbedaannya dengan mereka yg tinggal di Medan atau Jakarta. Mungkin karena taraf hidup dan kesempatan yg lebih baik, dan exlusivitas dari warga china sendiri, terkesan sgt tertutup. Saya juga pengen bertanya spt yg saudara fery tanyakan : apa dasarnya kalau negara ini diserahkan atau di urus oleh orang aceh ...maka akan beres?? ( Ga takut nanti dijadikan negara Islam dan diberlakukan hukum syariah Islam) saleum Bidin
