Baguslah Abidin menulis bahwa tidak semua orang Tionghoa di Indonesia berperuntungan. Cukup banyak memang yang miskin, di Tanggerang seluruh orang Tionghoa miskin. Karenanya tidaklah pantas bila semua orang Tionghoa dimintai uang ekstra bila berurusan dengan pegawai negeri. Namun miskin atau kaya, orang Tionghoa biasanya rajin bekerja. Bila menjadi kaya, orang Tionghoa tetap bekerja keras. Bila menjadi kaya kwadrat, mereka tetap bekerja keras. Menjadi menjadi kaya pangkat sepuluh pun orang Tionghoa tetap bekerja keras. Mereka baru berhenti bekerja kalau badan sudah rapuh atau pikiran mulai pikun. Saya punya dua anekdote sbb. (bukan untuk menyepelekan orang Indonesia lho):
Anekdote 1: Orang Tionghoa dan orang Indonesia masing-masing mendapat proyek. Keesokan harinya proyek si orang Indonesia telah berpindah tangan ke orang Tionghoa, lalu orang Indonesia yang mendapat provisi dari si orang Tionghoa (karena telah memberikan hak proyeknya) jalan-jalan ke Singapura. Sekembalinya ke Indonesia, si orang Indonesia tidak punya apa-apa lagi, sebaliknya si orang Tionghoa mendapat untung dari dua buah proyek itu dan hidup makmur. Anekdote 2: Orang Tionghoa dan orang Indonesia masing-masing mendapat seekor ayam. Keesokan harinya sayap kanan ayam milik si orang Indonesia digoreng oleh pemiliknya. Besok lusa sayap kirinya dilahap, hari ke tiga paha kanan disantap, begitu seterusnya sampai di hari ke sepuluh ayamnya tidak bersisa lagi. Si orang Tionghoa dalam waktu sepuluh hari itu hanya makan bubur, plus garam, merica, kecap asin dan sedikit bawang goreng. Di hari ke sepuluh ayamnya bertelur sepuluh butir, dierami dan sebulan kemudian menetas menjadi 10 ayam. Setelah dewasa anak-anak ayam bertelur lagi masing-masing sepuluh butir, dierami kemudian menetas menjadi 100 ayam. Demikian seterusnya sampai ayam si orang Tionghoa berjumlah 100.000 ekor. Pada saat itu mulailah si orang Tionghoa makan enak setiap hari, hari ini ayam nanking, besok ayam kuluyuk, besoknya lagi ayam goreng mentega, besoknya lagi ayam opor plus wortel, kentang dan buncis. Tapi karena ayamnya sudah berjumlah 100.000 ekor, tidak bakal habis lagi disantap seumur hidup. Demikianlah dua buah anekdote itu. Orang Tionghoa mirip orang Belanda, amat hemat dan efisien hidupnya. Tapi di mata orang Indonesia, sikap hemat itu dianggapnya PELIT. Oh ya, Abidin bertanya mengapa orang Aceh pantas memimpin Indonesia? Jawab: Mengapa tidak? Sebuah diskusi yang menarik dan bermanfaat. Terima kasih. Salam hangat, Danny Lim, Nederland --- In [email protected], "Abidin M.Asyek" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Tidak smua org china di Indonesia beruntung nasibnya. Di Kepulauan Riau ( > T.Pinang. Natuna) banyak warga china yg hidupnya (maaf) cuma jadi kuli > kasar, meski mereka kerja keras. > Di Kalimantan, terutama Pontianak dan Singkawang, tidak lebih berutung > dibandingkan saudara2nya yg lain. Banyak dari mereka yg hidup di bawah garis > kemiskinan. Banyak dari mereka yg memiliki anak perempuan, berharap untuk > mendapatkan suami dari taiwan atau hong kong, dengan tujuan untuk > meningkatkan taraf hidupnya. Banyak yg berutung, banyak juga yang nasibnya > ga jauh beda dgn TKW kita di LN. > Atau di "jual" ke Jakarta dan beberapa kota besar di Indonesia, dgn > kemampuan berbahasa mandarin mereka bisa berpura2 sebagai org RRC atau > Taiwan, dgn begitu harga "jual" mereka bisa lebih tinggi. > > Dan mereka sangat mudah untuk beradaptasi dan berasimilasi dengan penduduk > lokal, bukan hal yg aneh didaerah tersebut kalau perempuan china bersuamikan > pria lokal (dayak atau melayu), hal sangat tabu di beberapa daerah, dan > biasanya sang perempuan di "buang" oleh keluarganya, tetapi hal itu tidak > berlaku sebaliknya. > > Biasanya Tahun Baru Imlek di Singkawang sangat meriah perayaannya, mungkin > Pak Denny bisa jalan2 dan berkunjung kesana. Dan disana anda akan bisa > melihat sendiri, siapa yg menjadi kuli atau jadi preman penjaga > keamanan...;-) > Sangat kontras perbedaannya dengan mereka yg tinggal di Medan atau Jakarta. > Mungkin karena taraf hidup dan kesempatan yg lebih baik, dan exlusivitas > dari warga china sendiri, terkesan sgt tertutup. > > Saya juga pengen bertanya spt yg saudara fery tanyakan : apa dasarnya kalau > negara ini diserahkan atau di urus oleh orang aceh ...maka akan beres?? ( Ga > takut nanti dijadikan negara Islam dan diberlakukan hukum syariah Islam) > > > saleum > Bidin >
