HEHEHE,MAS HILMI,
dengan ada peraturan kucluk yang aneh memuakken ituh,
jadi janganlah NGAMBEK PARA MARTA,
JINGKALAO ANAK ANAK DAPET UNDANGAN KE GOREJAH SAKBELAH
DI DEPOK JUGAK?
lah..MAOK NGAJI DI MESJID KOK ENGGAK BOLEH?
jadi SALAHKAH ANAK ANAK ITUH,JINGKALAO KE GOREJAH MAOK
MEMUJIH TUHAN ALLOHNYAH??
satu tantangan kritis buat para MASJIDAN YANG MEMBUAT ANAK ANAK
MINGGAT KE GOREJAH DEPOK SAKBELAHAN ITUH!!!
Eko Bambang Subiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Hilmi,
Saya khawatir jangan-jangan itu bukan masjid, tapi bangunan yang dinamakan
masjid dan sebenarnya itu pameran kekayaan saja. Lalu buat apa bikin masjid
bagus-bagus jika harus dibatasi pengunjungnya. Saya ngeri orang memang suka
mengedepankan simbol. Banyak masjid dibangun bagus-bagus tapi bangunan itu
tidak bisa membuat masyarakat memahami dan mengenal secara baik fungsi masjid
baik secara religius maupun sosial. Orang membangun masjid sering menjadi
simbol. Simbol keumatan, simbol kesolehan, simbol ketaatan, simbol
religiusitas, namun tidak pernah menjadikan dirinya benar-benar orang yang
religius.
Saya kira Tuhan tidak menilai pahala seseorang dari berapa banyak dia
membangun masjid dan seberapa bagus masjid dibuat.
Pak Hilmi, untuk mengurangi rasa kecewa asumsikan saja keinginan mengunjungi
masjid depok kemarin itu sebagai salah persepsi dan salah tujuan, bahwa
bangunan itu ternyata bukan masjid dalam arti tempat ibadah, tetapi masjid
sebagai bangunan mewah, jadi tidak bisa berwisata rohani. Saya kira bapak dan
keluarga akan lebih bisa menikmati wisata rohani dengan mengunjungi
masjid-masjid yang saya kira di Indonesia jauh lebih kaya secara kultural
seperti masjid demak, masjid sunan ampel di surabaya, dan masjid-masjid kuno di
seluruh Indonesia yang mempunyai nilai historis bagi perkembangan Islam di
Indonesia. Biasanya disetiap alun-alun kota ada masjid Jami, saya kira nilai
bangunannya tidak kalah mewah. :)
salam,
Eko Bambang S
Pada tanggal 07/01/24, Iyo Tengil <[EMAIL PROTECTED]> menulis:
IRONI DI MASJID "KUBAH EMAS" DEPOK
Kegundahan seorang Ayah
Hari minggu tgl 14 Januari 2007, kami sekeluarga
(istri dan kedua anak saya masing-masing berumur 9 dan
5 tahun) bermaksud pergi ke untuk sholat ashar di
Masjid "Kubah Emas" (kalau tidak salah namanya Masjid
Dian Al Mahri), Istri dan kedua anak saya begitu
bersemangat untuk sholat di Masjid yang terletak
daerah Meruyung, Depok tsb, Selain sholat saya juga
ingin memberikan alternatif wisata rohani yang positif
pada anak saya. Namun saat kami hendak masuk ke pintu
gerbang Masjid, satpam penjaga melarang anak saya
masuk dengan alasan masih di bawah 10 tahun
(begitupula nasib sama dialami pengunjung lainnya).
Saya melihat pengumuman yang memang menuliskan
melarang anak usia dibawah 10 tahun masuk ke areal
masjid dengan alasan untuk menjaga kebersihan,
ketertiban, dan kekhusuan ibadah. Saya langsung
terhentak kaget, kecewa karena seumur hidup saya baru
kali ini saya menemui sebuah Masjid yang membuat
larangan anak kecil masuk, bahkan ke halamannya saja
tidak boleh. Yang semakin menusuk hati saya adalah
kekecewaan yang begitu terlihat dari ekspresi anak
saya terutama anak laki-laki saya yang berusia 5
tahun, dia heran dan bertanya "kenapa yah, aku tidak
boleh masuk?, emangnya yang punya mesjid tidak suka
anak kecil yah?". Saat itu saya tidak bisa menjawab
apapun, jawaban seperti apa yang harus saya berikan
pada anak saya?. Selama ini saya berusaha untuk selalu
membiasakan anak saya sholat di masjid sebelah rumah.
Namun saat ia begitu antusias untuk melihat Masjid
yang begitu tersohor dan indah justru ia tidak bisa
masuk. Akhirnya kami sholat Ashar di Mushola dekat
pintu gerbang Masjid "Kubah Emas". Mushola yang -maaf-
tempat wudhunya tidak terawat dan kotor namun welcome
kepada kami termasuk anak-anak saya.
Setelah sholat saya berpikir mengapa pemilik Masjid
itu menerapkan sebuah aturan yang bahkan melebihi
aturan di Masjidilharam? dimana ada orang yang thawaf
terlihat membawa bayi dan tidak dilarang oleh Asykar
(polisi kerajaan). Saya tidak pernah mendengar atau
membaca sebuah ayat atau hadits yang melarang anak
dibawah 10 tahun tidak diperbolehkan pergi ke Masjid.
Yang saya tahu memang Rasulullah melarang anak kecil
sholat di shaff terdepan bukan melarang datang sholat
ke Masjid. Saya khawatir aturan di Masjid "Kubah Emas"
ini melewati apa yang digariskan Rasulullah.
Secara Psikologis , pelarangan ini tentu menjadi
kontraproduktif dengan proses pengenalan dan
pembiasaan dini agar anak dekat dengan Masjid dan mau
ke Masjid. Bayangkan jika semua Masjid melarang anak
dibawah usia10 tahun sholat di Masjid, maka Masjid
akan kehilangan jama'ahnya sebab generasi mudanya
tidak pernah dibiasakan pergi ke Mesjid. Generasi muda
Islam akan semakin jauh dari tempat sujud ke Tuhannya
dan mungkin mereka akan "phobia" dengan Masjid.
Jika memang pemilik Masjid Kubah "Emas" ingin
membatasi segmen pengunjung maka seharusnya jangan
disebut Masjid, sebut saja "ini adalah tempat sholat
pribadi kami yang berada di areal pribadi, setiap yang
ingin sholat harus ikut peraturan keluarga kami".
Sebab jika disebut Masjid maka sudah memasuki dimensi
publik dimana semua muslim berhak sholat di Masjid
manapun termasuk dengan anak-anaknya. Tentu setiap
orang tua harus menjaga anaknya agar tertib.
Terakhir saya berharap "pemilik" Masjid "Kubah Emas"
(juga ke masjid
manapun) mau meninjau kebijakannya. Anak adalah
harapan masa depan Islam, mereka harus didik dekat dan
cinta Masjid sejak dini, kalau tidak mereka akan lebih
dekat pada "tempat" lain yang belum tentu membawa
kebajikan bagi mereka.. Saya berharap pula, Masjid
yang begitu megah, mewah dan konon menelan biaya
ratusan milyar rupiah lebih ramai dengan kegiatan
lainnya selain tempat sholat, seperti pengajian dan
pengkajian dan seminar Islam, mentoring/pengajian bagi
anak-anak yang pasti akan tertarik karena halamannya
luas dan indah. Betapa mubazirnya Masjid ini jika
hanya dipakai "hanya" untuk sholat dan itu pun
dibatasi. Kita bisa berkaca pada Masjid Nabawi pada
awalnya dijaman Rasulullah masih hidup, dibangun
secara sederhana, dengan atap dari pelepah kurma,
dinding dari lumpur yang dikeraskan. Namun Masjid itu
begitu kaya dengan aktivitas, menjadi tempat
Rasulullah membina ummatnya, bermusyawarah tentang
masalah ummat Islam, mengatur strategi, menimba ilmu
dan disitulah peradaban Islam mulai dibangun.
Saya pribadi masih punya PR untuk menjelaskan kepada
anak laki-laki saya agar ia tidak salah "belajar",
jangan sampai ia punya persepsi bahwa Masjid bukan
tempat anak-anak untuk dekat sama Tuhannya......,
naudzubillah minzalik.
Hilmy Wahdi.
Psikolog Alumnus UI
Mahasiswa Program Doktor UNJ
Dosen tidak tetap di FE UI ekstension
Ayah dari dua anak yang sedang belajar untuk dekat
dengan Tuhannya.
__________________________________________________________
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.
http://autos.yahoo.com/new_cars.html
---------------------------------
Never miss an email again!
Yahoo! Toolbar alerts you the instant new Mail arrives. Check it out.