Itulah kalau mau tahu salah satu contoh juga kepicikan-kepicikan pemahaman yang tidak semestinya terjadi. Artinya tidak bisa memisahkan permasalahan dan mendudukkan perkara pada tempatnya. Makanya sewajarnyalah kalau umat terlalu gampang dibelokkan pemahamannya, lha wong punya masjid "kubah emas' saja nggak boleh dimasuki anak kecil. Demi kebersihan ? buat apa mesjid bersih kalau umatnya hatinya kotor ? Tak ada artinya apa2 kecuali bagikan kuburan iman yang mati. Padahal masjid dibangun untuk apa ???
Wassalam. On 1/24/07, Eko Bambang Subiantoro <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Pak Hilmi, Saya khawatir jangan-jangan itu bukan masjid, tapi bangunan yang dinamakan masjid dan sebenarnya itu pameran kekayaan saja. Lalu buat apa bikin masjid bagus-bagus jika harus dibatasi pengunjungnya. Saya ngeri orang memang suka mengedepankan simbol. Banyak masjid dibangun bagus-bagus tapi bangunan itu tidak bisa membuat masyarakat memahami dan mengenal secara baik fungsi masjid baik secara religius maupun sosial. Orang membangun masjid sering menjadi simbol. Simbol keumatan, simbol kesolehan, simbol ketaatan, simbol religiusitas, namun tidak pernah menjadikan dirinya benar-benar orang yang religius. Saya kira Tuhan tidak menilai pahala seseorang dari berapa banyak dia membangun masjid dan seberapa bagus masjid dibuat. Pak Hilmi, untuk mengurangi rasa kecewa asumsikan saja keinginan mengunjungi masjid depok kemarin itu sebagai salah persepsi dan salah tujuan, bahwa bangunan itu ternyata bukan masjid dalam arti tempat ibadah, tetapi masjid sebagai bangunan mewah, jadi tidak bisa berwisata rohani. Saya kira bapak dan keluarga akan lebih bisa menikmati wisata rohani dengan mengunjungi masjid-masjid yang saya kira di Indonesia jauh lebih kaya secara kultural seperti masjid demak, masjid sunan ampel di surabaya, dan masjid-masjid kuno di seluruh Indonesia yang mempunyai nilai historis bagi perkembangan Islam di Indonesia. Biasanya disetiap alun-alun kota ada masjid Jami, saya kira nilai bangunannya tidak kalah mewah. :) salam, Eko Bambang S Pada tanggal 07/01/24, Iyo Tengil <[EMAIL PROTECTED]> menulis: > > IRONI DI MASJID "KUBAH EMAS" DEPOK > Kegundahan seorang Ayah > > Hari minggu tgl 14 Januari 2007, kami sekeluarga > (istri dan kedua anak saya masing-masing berumur 9 dan > 5 tahun) bermaksud pergi ke untuk sholat ashar di > Masjid "Kubah Emas" (kalau tidak salah namanya Masjid > Dian Al Mahri), Istri dan kedua anak saya begitu > bersemangat untuk sholat di Masjid yang terletak > daerah Meruyung, Depok tsb, Selain sholat saya juga > ingin memberikan alternatif wisata rohani yang positif > pada anak saya. Namun saat kami hendak masuk ke pintu > gerbang Masjid, satpam penjaga melarang anak saya > masuk dengan alasan masih di bawah 10 tahun > (begitupula nasib sama dialami pengunjung lainnya). > > Saya melihat pengumuman yang memang menuliskan > melarang anak usia dibawah 10 tahun masuk ke areal > masjid dengan alasan untuk menjaga kebersihan, > ketertiban, dan kekhusuan ibadah. Saya langsung > terhentak kaget, kecewa karena seumur hidup saya baru > kali ini saya menemui sebuah Masjid yang membuat > larangan anak kecil masuk, bahkan ke halamannya saja > tidak boleh. Yang semakin menusuk hati saya adalah > kekecewaan yang begitu terlihat dari ekspresi anak > saya terutama anak laki-laki saya yang berusia 5 > tahun, dia heran dan bertanya "kenapa yah, aku tidak > boleh masuk?, emangnya yang punya mesjid tidak suka > anak kecil yah?". Saat itu saya tidak bisa menjawab > apapun, jawaban seperti apa yang harus saya berikan > pada anak saya?. Selama ini saya berusaha untuk selalu > membiasakan anak saya sholat di masjid sebelah rumah. > Namun saat ia begitu antusias untuk melihat Masjid > yang begitu tersohor dan indah justru ia tidak bisa > masuk. Akhirnya kami sholat Ashar di Mushola dekat > pintu gerbang Masjid "Kubah Emas". Mushola yang -maaf- > tempat wudhunya tidak terawat dan kotor namun welcome > kepada kami termasuk anak-anak saya. > > Setelah sholat saya berpikir mengapa pemilik Masjid > itu menerapkan sebuah aturan yang bahkan melebihi > aturan di Masjidilharam? dimana ada orang yang thawaf > terlihat membawa bayi dan tidak dilarang oleh Asykar > (polisi kerajaan). Saya tidak pernah mendengar atau > membaca sebuah ayat atau hadits yang melarang anak > dibawah 10 tahun tidak diperbolehkan pergi ke Masjid. > Yang saya tahu memang Rasulullah melarang anak kecil > sholat di shaff terdepan bukan melarang datang sholat > ke Masjid. Saya khawatir aturan di Masjid "Kubah Emas" > ini melewati apa yang digariskan Rasulullah. > > Secara Psikologis , pelarangan ini tentu menjadi > kontraproduktif dengan proses pengenalan dan > pembiasaan dini agar anak dekat dengan Masjid dan mau > ke Masjid. Bayangkan jika semua Masjid melarang anak > dibawah usia10 tahun sholat di Masjid, maka Masjid > akan kehilangan jama'ahnya sebab generasi mudanya > tidak pernah dibiasakan pergi ke Mesjid. Generasi muda > Islam akan semakin jauh dari tempat sujud ke Tuhannya > dan mungkin mereka akan "phobia" dengan Masjid. > > Jika memang pemilik Masjid Kubah "Emas" ingin > membatasi segmen pengunjung maka seharusnya jangan > disebut Masjid, sebut saja "ini adalah tempat sholat > pribadi kami yang berada di areal pribadi, setiap yang > ingin sholat harus ikut peraturan keluarga kami". > Sebab jika disebut Masjid maka sudah memasuki dimensi > publik dimana semua muslim berhak sholat di Masjid > manapun termasuk dengan anak-anaknya. Tentu setiap > orang tua harus menjaga anaknya agar tertib. > > Terakhir saya berharap "pemilik" Masjid "Kubah Emas" > (juga ke masjid > manapun) mau meninjau kebijakannya. Anak adalah > harapan masa depan Islam, mereka harus didik dekat dan > cinta Masjid sejak dini, kalau tidak mereka akan lebih > dekat pada "tempat" lain yang belum tentu membawa > kebajikan bagi mereka.. Saya berharap pula, Masjid > yang begitu megah, mewah dan konon menelan biaya > ratusan milyar rupiah lebih ramai dengan kegiatan > lainnya selain tempat sholat, seperti pengajian dan > pengkajian dan seminar Islam, mentoring/pengajian bagi > anak-anak yang pasti akan tertarik karena halamannya > luas dan indah. Betapa mubazirnya Masjid ini jika > hanya dipakai "hanya" untuk sholat dan itu pun > dibatasi. Kita bisa berkaca pada Masjid Nabawi pada > awalnya dijaman Rasulullah masih hidup, dibangun > secara sederhana, dengan atap dari pelepah kurma, > dinding dari lumpur yang dikeraskan. Namun Masjid itu > begitu kaya dengan aktivitas, menjadi tempat > Rasulullah membina ummatnya, bermusyawarah tentang > masalah ummat Islam, mengatur strategi, menimba ilmu > dan disitulah peradaban Islam mulai dibangun. > > Saya pribadi masih punya PR untuk menjelaskan kepada > anak laki-laki saya agar ia tidak salah "belajar", > jangan sampai ia punya persepsi bahwa Masjid bukan > tempat anak-anak untuk dekat sama Tuhannya......, > naudzubillah minzalik. > > Hilmy Wahdi. > Psikolog Alumnus UI > Mahasiswa Program Doktor UNJ > Dosen tidak tetap di FE UI ekstension > Ayah dari dua anak yang sedang belajar untuk dekat > dengan Tuhannya. > > __________________________________________________________ > Don't pick lemons. > See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos. > http://autos.yahoo.com/new_cars.html >
