Kandidat Presiden AS Itu Digoyang Isu "Madrasah"

Rabu, 24 Jan 07 15:52 WIB

 



 

Panggung politik AS sedang ramai dengan isu seputar kabar bahwa kandidat
presiden AS dari Partai Demokrat Senator Barack Obama, pernah mengenyam
pendidikan dasar disebuah madrasah di Indonesia.

 

Isu ini pertama kali digulirkan oleh majalah "Insight"- sebuah majalah
internet mingguan yang dimiliki kelompok media konservatif Washington Times-
pekan lalu, berdasarkan informasi dari sumber-sumber anonim.

 

Dalam dua bukunya berjudul "Dreams From My Father" dan "The Audacity of
Hope", Obama sendiri mengakui bahwa selama tinggal di Indonesia mulai umur 6
sampai 10 tahun, dia pernah dua tahun belajar di sekolah Islam dan dua tahun
belajar di sekolah Katolik.

 

Hal tersebut dibenarkan oleh Bandung Winadijanto, bekas teman sekolah Obama
di sekolah I Basuki. Namun Bandung pada CNN mengatakan, sekolah Basuki bukan
sekolah Islam tapi sekolah umum.

 

"Banyak yang beragama Kristen, Budha, juga Konghuchu, jadi sekolah campuran,
" aku Bandung.

 

Sementara itu, deputi kepala sekolah Basuki, Hardi Priyono juga mengatakan
bahwa sekolahnya adalah sekolah umum. "Kami tidak fokus pada agama. Dalam
kehidupan sehari-hari, kami menghormati agama, tapi kami tidak memberikan
perlakuan khusus, " jelasnya.

 

Menurut reporter CNN yang berkunjung ke sekolah Basuki, para siswa dan siswi
sekolah itu mengenakan seragam rapi dan guru-gurunya mengenakan pakaian yang
dikenakan masyarakat Barat pada umumnya.

 

Sejumlah kalangan menilai isu ini sengaja dihembuskan dan dibesar-besarkan
oleh media dan kalangan politisi tertentu. Juru bicara Obama, Robert Gibs
menuding jaringan media Fox News sengaja membesar-besarkan isu yang tidak
penting. Ia bahkan menyindir slogan Fox News 'adil dan berimbang' dalam
menyajikan pemberitaan.

 

Sementara itu, Howard Wolfson- juru bicara tim sukses Hillary Clinton yang
juga mencalonkan diri menjadi kandidat presiden AS-menilai pemberitaan
tentang Obama bias dan tidak memperhatikan standar-standar jurnalisme.

 

Sekilas tentang Barack Obama

 

Barack Obama lahir di Honolulu, Hawai pada 4 Agustus 1961. Ayahnya penganut
Kristen asal Kenya yang menikah dengan perempuan kulit putih Amerikan asal
Kansas.

 

Kedua orangtuanya bercerai, dan setelah ibunya menikah lagi dengan orang
Indonesia, Obama tinggal di Indonesia selama beberapa tahun.

 

Dalam wawancara dengan AFP, Obama mengatakan bahwa kehidupannya di Indonesia
telah membuka matanya tentang kondisi ektrim antara kemiskinan dan kekayaan
di seluruh dunia.

 

"Kondisi itu membuat saya berpikir tentang gap yang besar dalam hal
kesempatan di banyak negara di dunia. Hal itu juga membuat saya memahami,
bisa jadi apa orang yang kehidupannya sangat miskin, bagaimana korupsi bisa
menghilangkan kesempatan, " ungkap Obama.

 

Obama menikah dengan Michelle Robinson yang berprofesi sebagai pengacara. Ia
dikaruniai dua anak perempuan dan keluarganya adalah anggota dari
perkumpulan Chicago's Trinity United Church of Christ.

 

Ia kuliah di Occidental College di Calfornia, Columbia University di New
York dan Harvard Law School. Di Harvard ia menjadi orang Afro-Amerika
pertama yang memegang jabatan bergengsi sebagai editor di Harvard Law
Review.

 

Ia terjun ke politik di negara bagian Midwest, Illinois sebagai pengacara
untuk hak-hak sipil. Selama tiga tahun ia duduk di perwakilan negara bagian
itu sebelum akhirnya mendapat kesempatan untuk ikut berkompetisi menjadi
anggota Senat AS pada tahun 2004.

 

Sosoknya mulai menyita perhatian publik AS saat ia memberikan pidato yang
menggugah di Konvensi Nasional Demokrat di Boston. Dalam pidatonya ia
mengatakan, "Tidak ada Amerika hitam dan Amerika putih, latin Amerika dan
Asia Amerika, kita semua satu, kita semua bersumpah setia pada garis dan
bintang, kita semua membela Amerika Serikat." Ucapannya itu disambut tepuk
tangan meriah

 

Obama juga dikenal vokal menentang invasi AS ke Irak tahun 2003. Nama Obama
kini bersinar dan ia memegang kunci menuju Gedung Putih. Jika terpilih,
Obama akan menjadi warga AS keturunan Afrika pertama yang menjadi presiden
AS. (ln/iol)

 

Source : http://www.eramuslim.com/news/int/45b71c77.htm

 

 

 

 

Polling BBC: Citra Negara AS di Mata Dunia Bertambah Buruk

Selasa, 23 Jan 07 14:51 WIB

 



 

Hasil polling BBC World Service yang dirilis Selasa (23/1) menyebutkan,
bertambah buruknya citra AS di mata masyarakat dunia antara lain terkait
dengan persoalan Irak dan kamp penjara Guantanamo.

 

Berdasarkan hasil polling di 18 negara, jumlah responden yang meyakini bahwa
AS adalah negara yang banyak memberikan pengaruh positif pada dunia, turun
tujuh poin dibandingkan tahun lalu, dari 36 persen menjadi 29 persen.

 

Sekitar 52 persen responden menilai AS kini lebih banyak memberikan pengaruh
negatif. Prosentase itu naik dari tahun sebelumnya yang hanya 47 persen.

 

Hasil Polling itu diumumkan pada hari yang sama ketika Presiden AS George W.
Bush memberikan pidatonya di depan Kongres. Anggota Kongres AS sendiri,
mayoritas tidak menyetujui kebijakan Bush di Irak yang telah banyak
menimbulkan kerusakan dan tindak kekerasan selama empat tahun invasi AS.

 

Secara keseluruhan, polling BBC melibatkan 26.381 responden dari 25 negara.
Dari polling itu didapat kesimpulan bahwa tiga dari empat orang tidak setuju
dengan kebijakan AS di Irak, 2/3 responden tidak setuju dengan cara AS
memperlakukan para tersangka teroris yang ditahan di kamp tahanan
Guantanamo, Kuba.

 

"Keputusan terbaru pemerintahan AS untuk mengirim lebih banyak lagi tentara
ke Irak tidak sejalan dengan opini publik global. Kebijakan kemungkinan akan
makin memperburuk citra AS selanjutnya, " kata Doug Millier, Presiden
GlobeScan, lembaga penyelenggara survey.

 

Lebih lanjut hasil polling menunjukkan, 65 persen responden tidak setuju
dengan kebijakan AS saat perang Israel-Hizbullah tahun 2006 kemarin, 60
persen tidak setuju dengan cara AS menyikapi isu program nuklir Iran, 56
persen tidak setuju dengan sikap AS soal pemanasan global dan 54 persen
tidak setuju dengan kebijakan AS atas program nuklir Korea.

 

Lebih dari 2/3 responden meyakini bahwa kehadiran militer AS di Timur Tengah
telah memicu lebih banyak konflik dan bukan untuk mencegahnya. Hanya 17
persen responden yang beranggapan bahwa militer AS adalah pasukan yang
menjaga stabilitas keamanan.

 

Polling menunjukkan bahwa publik AS cenderung memiliki keraguan yang serius
terhadap kebijakan luar negeri AS. Mayoritas responden dari Amerika
menyatakan ketidaksetujuannya dengan cara AS menangani perang Irak (57
persen) dan pemanasan global (54 persen). Hampir setengah dari jumlah
responden asal AS menolak kebijakan AS di Guantanamo dan kebijakan AS
terhadap Iran.

 

Dari hasil polling juga diketahui bahwa mayoritas publik Inggris-sekutu
dekat AS-memiliki pandangan yang buruk terhadap AS. 57 persen responden asal
Inggris menilai pengaruh AS di dunia sangat negatif dan 81 persen menentang
tindakan AS dalam perang Irak.

 

Survey itu dilaksanakan antara tanggal 3 November 2006 dan tanggal 9 Januari
2007, meliputi negara-negara antara lain, Argentina, Australia, Brazil,
Chili, China, Mesir, Prancis, Jerman, Inggris, Hungaria, India, Indonesia,
Italia, Kenya, Libanon, Mexico, Nigeria, Phillipina, Polandia, Portugal,
Rusia, Korea Selatan, Turki, Uni Emirat Arab dan Amerika Serikat.
(ln/arabworldnews)

 

Source : http://www.eramuslim.com/news/int/45b5be21.htm

 

<<attachment: image002.jpg>>

<<attachment: image003.jpg>>

Kirim email ke