Saya tidak mengerti mengapa Presiden Venezuela Hugo
Chavez ini harus petentang-petenteng mencari-cari
musuh. Saya kira orang ini gila hormat dan sanjungan
secara ndak ketulungan, seorang pengidap penyakit
megalomania yang gawat.

Kalau memang program ekonomi dan sosialnya dengan
sistem perencanaan yang diatur dan dikendalikan
birokrasi masuk akal dan praktis, silahkan dicoba.
Kalau kelihatan tanda-tanda berhasil meningkatkan
kemakmuran rakyat kecil, bagus. Tapi sementara itu
fungsi kontrol pers hendaknya tetap diaktifkan,
bukannya dipasung seperti yang hendak dia lakukan pada
perusahaan telekomunikasi Venezuela dengan cara 
nasionalisasi, dijadikan instansi pemerintah. Sebab
harus diingat, kalau semua sudah diatur negara, dimana
semua fungsi dijalankan pegawai negeri termasuk hal
kecil seperti pengelolaan pasar swalayan, dimana
customers bukan lagi raja, maling dan korupsi bisa
merajalela, ini perlu kontrol. 

(Terlalu lama milih-milih tomat atau cabe dihardik.
Kalau ditanya barangnya jelek kok harganya mahal,
dijawab kasar kalau tak suka silahkan beli di tempat
lain. Kalau ditanya kenapa listrik selalu saja
senen-kemis, sering mati, ditanggapi dengan
angkat-bahu. Direkturnyapun tak berminat menjawab, itu
urusan orang di atas. Pegawai negeri kok. Dan orang di
atas asyik ngarang pidato).

Dan jangan lupa sistem ini sudah gagal memakmurkan
rakyat di tempat lain, karena menyebabkan pemerataan
kemiskinan. Semua harus ngantri panjang dengan kupon
jatah kebutuhan pokok seperti di banyak negara Eropa
Timur dan almarhum Uni Sovyet dulu, sehingga akhirnya
dicampakkan dan rezim-rezim pendukungnya bertumbangan
seperti kartu domino.

Dan saya tidak mengerti mengapa si Hugo ini harus
membangun industri senjata seperti mau perang
besar-besaran. Membeli senjata dan membangun angkatan
perang secara berlebihan akan merisaukan tetangga dan
mengundang kecurigaan, dan ini sama dengan
mencari-cari musuh. Kalau memang program partainya
adalah untuk mensejahterakan rakyat kecil, maka
seharusnya dana digunakan untuk kemaslahatan rakyat,
bukannya untuk konfrontasi.

Lalu petentang-petentang hendak melawan Amrik yang
hanya berseberangan laut sempit dengan negaranya. Apa
gunanya? Bukankah itu hanya akan membuat marah macan?
Kalau tidak menyerang dan menerkam, mereka mungkin
berusaha mendongkel. Letnan jenderal atau mayor
jenderal yang memimpin pasukan elit mungkin
digosok-gosok supaya melakukan kudeta. CIA mungkin
men-drop dana gede dan fasilitasi di
perguruan-perguruan tinggi borjuis untuk melancarkan
demonstrasi besar-besaran setiap hari. 

Saya pernah membaca mengenai sebuah negara di masa
lalu yang memiliki pemimpin gila-sanjung seperti Senor
 Hugo Chavez. Supaya kelihatan hebat di mata
negara-negara komunis dia tantang Amerika Serikat (Go
to Hell with Your Aid!!, teriaknya) dan dia rangkul
Fidel Castro. Dan dia elus-elus partai komunis yang
menganjurkan supaya dia membeli senjata besar-besaran
dari Rusia dan Cina Komunis. Ada kapal selam,
kapal-kapal perusak yang perkasa, sebuah penjelajah ,
pesawat-pesawat jet tempur MIG-19 dan 21, pembom
jarak-jauh TU-16 dan banyak rudal dan tank dan panser,
belum lagi pelontar granat roket RPG. Semula untuk
membebaskan bagian wilayahnya yang masih dijajah
negara kolonial (dapat dipahami), tapi kemudian
diarahkan untuk konfrontasi dengan negara tetangga
yang katanya "proyek nekolim" Inggris-Amerika Serikat.


Yang konyolnya lagi dia keluar dari PBB, dia juga
keluar dari IOC. Untuk menyaingi PBB dia bentuk
CONEFO, untuk menandingi Olimpiade dia selenggarakan
GANEFO (Games of the New Emerging Forces). Dia undang
ribuan atlit dari berbagai negara. Bagi negara-negara
miskin di Afrika yang tidak punya dana, dia berikan
dana untuk membeli tiket pesawat dan dia sediakan
akomodasi asal negara-negara tersebut bisa mengirim
atlit mereka, demi gebyar-nya pesta olahraga untuk
menyaingi Olimpiade ini (dalam rangka konfrontasi
melawan Amerika Serikat dan antek-anteknya). Ini semua
karena gosok-gosokan
komunis.

Dan proyek-proyek megalomania dan petentang-petenteng
ini dilaksanakan dengan latar belakang kehancuran
ekonomi. "Ekonomi Terpimpin" yang diprakarsai Karl
Marx menyebabkan hiper-inflasi yang dahsyat,
harga-harga membubung, naik hampir setiap hari karena
uang dicetak siang-malam tanpa batas (untuk membiayai
proyek-proyek semacam pembelian senjata dan GANEFO
tadi). Rakyat yang kelaparan dianjurkan makan jagung
kering makanan ternak dan menangkap tikus sebagai
lauknya.

Saya kira yang dilakukan Hugo Chavez mengarah ke apa
yang diperbuat pemimpin gila-sanjung itu yang akhirnya
tumbang atau mungkin juga dibantu ditumbangkan oleh
negara-negara yang dia petentang-petentengi tadi. 

Kalau tujuan adalah untuk memakmurkan rakyat, mengapa
harus mencari-cari musuh? Bukankah sebenarnya harus
disertai upaya mencari sahabat sebanyak mungkin untuk
bisa membantu? Chavez seyogianya memusatkan perhatian
pada upaya memperbaiki kesejahteraan rakyat Venezuela.
 Bukannya menjadikan rakyat Venezuela sebagai batu
injakan dan korban bagi nafsu gila-sanjung dan
pidato-pidato kerasnya yang menggebu-gebu bombastis,
yang sebagian besar hanya berisi slogan kosong
contekan atau daur-ulang pidato-pidato serupa di masa
lalu. 

Kalau Chavez memang beriktikad baik hendak memakmurkan
rakyat Venezuela mengapa tidak menempuh cara yang
ditempuh Deng Xiaoping dan murid-muridnya? "Saya tak
peduli kucing hitam atau kucing putih, yang penting
menangkap tikus", ujarnya. Dan untuk itu dia merangkul
pengusaha Amerik, Jepang dan negara-negara Barat
Eropa. Mengundang mereka ber-investasi di Cina.
Membuka usaha patungan dengan pengusaha lokal Cina
yang dibiarkan bersemi dan tumbuh.

Atau Chavez bisa saja memilih melaksanakan
program-program partainya, walaupun program "neo-com"
sekalipun, kalau memang dia yakin akan berhasil.
Buktikan bahwa program itu bisa jalan dan sukses. Tapi
tak perlu disertai politik konfrontasi
petentang-petenteng yang bisa mengundang kudeta
militer dan demonstrasi mahasiswa borjuasi yang
dibantu mengobarkannya dengan pendanaan dari luar. 

Dan pers jangan dipasung, oposisi politik jangan
ditindas, para pemimpinnya jangan di-bui, jangan
berusaha memerintah dengan dekrit dan jangan berusaha
menjadi presiden seumur hidup. Sistem demokrasi dengan
pemilu berkala tetap dipertahankan, sehingga jika
ternyata rakyat Venezuela tidak puas dengan kerja
birokrasi pemerintahan partainya yang ternyata cuman
lebih banyak slogan dan propaganda kosong, silahkan
turun panggung untuk diganti pemerintahan baru. ADIOS!

--- Tejo Sulaksono <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Kalau gak salah Presiden Sukarno yang pertama
> pemimpin didunia ini yang berani meng-gotohell-kan
> Amrika. Hebat sekali Sukarno sudah dilikuidasi
> perlahan-lahan beberapa puluh tahun yang lalu tapi
> seruan dan isi politiknya yang bebas aktif dan tidak
> mau dijajah oleh AS malah berkembang lagi. Sekarang
> ini di Amerika Selatan. Sebaliknya "ajaran" dan
> praktik Suharto yang otoriter berat semangkin
> dikikis habis diatas dunia. Mahathir juga pernah
> dikatakan seperti Sukarno, karena dia berani melawan
> Barat. Yang penting di negara-negara Selatan kalau
> punya elit politik yang bener-bener elit!, harus
> berani bebas dari imperium AS dan bekerja untuk
> rakyatnya. Akhmadinejad juga berani. Lalu bagaimana
> dengan SBY-JK dkk? Silahkan melihat kerjanya,
> terutama. Silahkan memuja atau mengkritisi, ini kan
> demokrasi? Atau kita mau dibungkem lagi?
> 
> Chalik Hamid <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>             Chavez: Go to Hell, America !   Karakas,
> (Analisa)   Dalam wawancara televisi dan radio,
> Presiden Venezuela Hugo Chavez, Senin (22/1),
> mengatakan ‘Go to Hell, gringos !’ (Pergilah ke
> Neraka) kepada pejabat-pejabat AS serta menyebut
> Menlu AS Condoleezza Rice sebagai ‘Nona’ dan
> mengejek kebijakan Washington yang ikut campur atas
> masalah dalam negeri Venezuela.   Ini adalah
> komentar paling keras Chavez menanggapi kritik
> Washington yang mengecam diberinya wewenang luas
> Chavez oleh Majelis Nasional negeri itu. Wewenang
> baru ini diperkirakan akan disetujui pekan ini yang
> memberi Chavez otoritas untuk meluluskan UU dalam
> masa 18 bulan.   “Go To Hell, gringos !. Go Home !,”
> demikian dikatakan Chavez menanggapi kritik yang
> dilontarkan Deputi Jurubicara Deplu AS Tim Casey
> yang menyebut UU tersebut ‘membuat kami khawatir’.  
> Chavez juga mengecam aksi AS di Timur Tengah,   “Apa
> yang diinginkan emperium itu ?. Nona Condoleezza
> yang mengatakannya, ingin menciptakan peta
>  geo-politik yang baru di Timur Tengah,” kata
> Chavez.   Dalam pidatonya ini, yang pertama dalam
> lima bulan terakhir, Chavez juga menyinggung
> gagasan-gagasan pemikir sosialis Fidel Castro,
> mengirim salam kepada rekannya pemimpim Kuba yang
> tengah sakit, Fidel Castro, sekutu paling dekatnya. 
>  “Mereka menangkap Saddam dan menggantungnya. Bukan
> urusan saya menilai ia baik atau tidak, tapi Saddam
> adalah presiden negara itu,” kata Chavez.   Sambil
> memegang surat kabar kontroversial yang menunjukkan
> gambarnya tengah memperhatikan serius para penari
> samba Brazil yang memakai bikini saat KTT di Rio de
> Janeiro, Chavez tertawa dan mengatakan: “Saya tak
> tahu ke mana harus melihat. Tapi ini adalah
> pemandangan yang bagus.”   Chavez, yang terpilih
> kembali dengan suara mayoritas, mengatakan ia akan
> melakukan reformasi untuk menata ulang Venezuela
> menjadi negara sosialis. Di antara rencananya adalah
> menasionalisasi perusahaan telekomunikasi utama
> negeri itu CANTV serta sektor-sektor listrik
>  dan gas alam. (AP/tkz)   




 
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke