Bung wido, tenkiu for emailnya tentang duet faisal basri dan rano 
karno, emang kayaknya ini duet maut, yg satu ekonom yg vokal satunya 
lagi aktor betawi yg kawakan.

Dari bbrp calon yg ada memang saya berharap agar faisal basri bisa 
maju dalam pilgub dki, selain dia tidak memiliki ikatan apapun dengan 
penguasa lama, dia juga tidak kalah tegas dalam memegang prinsip yang 
ia yakini, paling tidak ini dibuktikan ketika ia keluar dari PAN, 
partai yang ia sendiri sebagai pendirinya. Nah klo calon lain (Adang 
dan Foke) - maaf bung wido bukan black campaign - sy rasa mereka 
masih ada rasa ewuh pakewuh dengan SBY.

Sebaiknya memang PDIP mencalonkan Faisal Basri saja dan saya sangat 
berterima kasih jika itu yang terjadi dan rasanya PAN jg akan ngikut 
dibelakangnya, kecuali jika PAN sudah melupakan jasa2 pendirinya, 
ingat Faisal Basri itu juga pernah menjadi tim suksesnya amien rais 
ketika pilpres dahulu, so, it's time untuk membalas budi.

JIka nantinya bang faisal jd maju, pesen saya kepada beliau dan 
mungkin jg untuk members dimilis ini yg kebetulan jd timses faisal, 
agar faisal jg menjalin komonikasi dengan kalangan islam yg selalu 
memojokan tokoh2 islam moderat. Karena di sebuah milis para ikhwan 
dan akhwat, faisal basri pernah dipojokan dengan menyebutkan faisal 
adalah antek islam liberal.


http://www.rakyatmerdeka.co.id/indexframe.php?
url=situsberita/index.php?pilih=lihat_edisi_website&id=26843

Rakyat Merdeka
Kamis, 25 Januari 2007, 05:56:11 WIB

Tiga Cagub PDIP Kritik SBY
Cari Simpati Megawati? 

Para kandidat cagub yang melamar ke PDIP tampaknya mulai memasang 
strategi baru untuk meraih simpati PDIP dan Ketua Umumnya, Megawati 
Soekarnoputri. Para cagub itu rame-rame mengkritik Presiden SBY yang 
dinilai salah menerapkan kebijakan di Ibukota. 

"KAMPANYE" para cagub itu terlihat dari materi yang disampaikan tiga 
kandidat cagub PDIP yaitu Bibit Wauyo, Faisal Basri dan Sarwono 
Kusumaatmadja yang bersama-sama menjadi pembicara dalam Round Table 
Discussion di cafeMarios Place, Menteng, Jakarta Pusat Kemarin. 

Tema diskusi itu sebenarnya membicarakan kinerja Gubernur Sutiyoso 
dan persiapan menyabut Pilkada DKI Jakarta. Namun entah karena 
kebetulan atau memang bagian strategi kampanye, tiga kandidat 
tersebut umumnya mengkritik kebijakan SBY yang dianggap sebagai salah 
satu penyebab kegagalan Pemda DKI menyelesaikan permasalahan Ibukota. 

Seperti diketahui, Megawati bersama PDIP belakangan makin keras 
mengkritik kebijakan Presiden SBY-JK. Bahkan, dalam rapat kerja 
nasional (rakernas) di Bali, Mega melontarkan kritik keras kepada 
SBY. Mega menilai, selama dua tahun kepemimpinan SBY-JK, hanya tebar 
pesona. 

Dalam acara itu, Bibit Waluyo misalnya, menilai kegagalan Sutiyoso 
mengurangi kemiskinan karena kegagalan pemerintahan pusat menciptakan 
basis kekuatan ekonomi di daerah. "Saat ini orang daerah masih ingin 
ke Jakarta, karena di daerah orang tidak bisa berbuat apa-apa, petani 
mau beli pupuk saja susah," katanya. 

Kandidat lainnya, Faisal Basri menyoroti soal intervensi pemerintahan 
pusat dalam pengelolaan Pemda DKI. Katanya, saat ini aset-aset milik 
Pemda DKI masih dikuasai pemerintah pusat dan pengelolaannya belum 
diserahkan ke Pemda DKI. "Seharusnya pemerintah pusat mempercayakan 
pengelolahan aset-aset ke Pemda DKI, seperti Kemayoran, Senayan, 
Tandjung Priok, dan lahan lainnya. Apa gunaya ada desentralisasi 
kalau masih ada intervensi," tegasnya. 

Kritik kepada pemerintah pusat juga disampaikan Sarwono. Menurutnya, 
pemerintah pusat saat ini tidak punya keinginan untuk menjadikan 
Jakarta menjadi lebih baik. Katanya, kebijakan membatasi masa bakti 
gubernur sudah tidak relevan dengan perkembangan politik saat ini. RM


Kirim email ke