Pak Satrio Arismunandar...
 
 justru rekan2 milist ini sangat respect dan menghormati teman2 yg ikut acara 
penganugerahan proses seleksi di tempat anda....
 
 Dan utk Claiming Value...
 Trans TV atau TV lain yg melakukan..atau siapa pun..sah2 saja!!
 the making of branding....utk melakukan benchmark..itu sah..di benarkan...gak 
ada yg salah..dan gak boleh ada yg menyalahkan...
 
 tp kl saat ini, anda berbicara business management yg ada di buku...
 dan bebicara nilai2 yang akan di deliver perusahaan anda kepada publik...
 hrs nya buku itu mengingatkan terlebih dulu kpd anda....
 
 bbrp part yg hrs anda lakukan...
 hal2 yg bisa anda kontrol...
 mind identity..behavior identity...visual identity
 
 kemudian..setelah ketiga part itu anda lakukan, akan ada 
result....'persepsi'...
 dan persepsi itu adalah hal yg tidak bs anda kontrol...persepsi akan terbentuk 
dr masyarakat....
 
 tapppiiii....
 walopun persepsi gak bisa anda kontrol...paling tidak...anda bisa arahkan, 
ok?!!
 
 tentu anda bisa liat arah persepsi masyarakat...sdkit berkaca...komentar 
rekan2 di milsit ini adalah persepsi masyarakat...
 
 kl mau persepsi dr masyarakat yg sesuai dng keinginan anda...pikirkan lah, dan 
tunjukan kepada masyarakat...
 event seperti kemarin bisa membuat Brand Identity dr perusahaan anda sebagai 
slh satu perusahaan yg mengkomersilkan proses rekrutment...
 
 anda gak slh koq..tenang aja,
 tp..masyarakat jg gak bisa disalahin, pak!!!
 
 (untung aja gak ada yg ngurusin RUU Tentang Persepsi..dan gak bakalan ada deh)
 
 
 rgds,
 ODE
  








Satrio Arismunandar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                  
Jawaban pribadi:
  
 1. Bukan hanya Trans TV. Tapi menurut saya, hampir semua media TV (dan media 
cetak) di Indonesia menganut ideologi pasar. Apalagi industri TV adalah 
industri padat modal dan padat teknologi. Kecuali media milik parpol yang 
diadakan memang untuk kampanye calon tertentu.
  
 2. Dalam konteks bisnis, yang dilakukan Trans TV tidak melanggar hukum apapun 
dan tidak ada paksaan apapun kepada siapapun untuk ikut tes rekrutmen. Semuanya 
bersifat sukarela. Mereka yang ikut tes di Senayan, saya yakin, sadar 
sesadar-sadarnya bahwa peluang mereka cukup kecil, tetapi mereka punya 
keinginan, punya kebutuhan, dan punya mimpi. Mereka memilih berjuang untuk 
mencapai mimpinya, dan tidak pulang begitu saja meninggalkan gelangang 
persaingan. Saya hormat pada mereka (dan saya harap Anda juga punya apresiasi 
yang sama, tidak mengecilkan mereka), dan itulah yang kita butuhkan. Orang yang 
mau berjuang keras, siap berkompetisi, tidak cepat menyerah dan tidak cengeng. 
Orang menjadi matang karena perjuangan.
  
 3. Dalam ilmu bisnis, apa yang dilakukan Trans TV ini mungkin bisa dinamakan 
"claiming value". Setiap perusahaan harus menjaga, bahkan meningkatkan 
image-nya. Baca saja semua buku manajemen, dan beritahu saya jika ada ilmu 
manajemen yang mengajarkan hal yang berbeda. Mungkin cara-cara yang dilakukan 
Trans TV itu tidak biasa. Tetapi justru di situ point-nya. Anda menjadi 
berbeda, Anda menjadi "luar biasa", karena tidak sama dengan yang lain. Seperti 
Muhammad Ali yang selalu omong besar sebelum bertanding, tetapi orang toh 
menaruh respect karena Ali memang punya sesuatu kemampuan bertinju yang layak 
dikagumi. Tentu, ada saja orang yang menganggap Ali sombong. Itu risiko Ali, 
karena ia mengklaim value ("saya The Greatest"). Justru karena klaim itu, orang 
yang sebal melihat "kesombongan" Ali akhirnya mempertarungkan Ali dengan 
petinju hebat, Sonny Liston, dan ternyata Ali yang menang! 
  
 4. Saya akui, berada dalam kondisi sebagai pencari kerja yang bersaing 
tidaklah menyenangkan. Saya tahu betul sebab pernah jadi pengangguran. Tapi 
kompetisi ketat sudah menjadi kelaziman karena kesempatan kerja yang terbatas. 
Hal serupa berlaku di dunia pendidikan. Saya dulu juga ikut tes Sipenmaru 
bersama puluhan ribu lulusan SMA lain di Gelora Senayan sebelum akhirnya 
keterima di UI. Itu tahun 1980. Namun, penciptaan lapangan kerja tak bisa 
begitu saja dipikulkan jadi tanggung jawab Trans TV. Di sini ada peran 
kebijakan pemerintah dan kondisi ekonomi nasional yang pertumbuhannya juga 
rendah.
  
 5. Soal gaji, standar yang diberikan AJI adalah kondisi yang ideal. Namun, 
kondisi industri media kita memang tidak ideal. Itulah sebabnya, perusahaan 
yang sanggup memberi gaji sebesar itu untuk karyawan baru yang belum 
berpengalaman bisa dihitung dengan sebelah tangan. Selain itu, survey AJI belum 
memperhitungkan benefits dari berbagai aspek lain di luar gaji. Misalnya, 
bonus, uang dinas luar kota, dinas luar negeri, dan sebagainya. 
  
 6. Alhamdulillah, karena pencapaian sales Trans TV tahun 2006 melebihi target, 
tahun 2007 ini akan dibagikan bonus yang kira-kira berkisar antara 3 sampai 
30-an kali gaji. Tentu saja, berdasarkan merit system, prestasi kerja ikut jadi 
bahan pertimbangan (bonus tiap karyawan tidak sama, melihat kinerjanya). Yang 
berhak mendapat bonus adalah karyawan yang sudah diangkat. Saya tidak bermimpi 
untuk dapat bonus sebesar 30 kali gaji,  tapi (tolong doakan!) kalau saya dapat 
separuhnya saja, Anda boleh temui saya di Trans TV untuk saya traktir makan 
Nasi Padang! (NB: Kalau teman Anda lebih sabar dan bertahan di Trans TV, dia 
pasti juga kebagian bonus!)
 
    Satrio Arismunandar 
Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184627
  
 http://satrioarismunandar6.blogspot.com  
 



 

 ----- Original Message ----
From: irzan blitz <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Cc: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Tuesday, January 23, 2007 2:00:44 AM
Subject: [mediacare] Untuk Bung Satrio di Trans TV

  Bung Satrio, 
Saya kagum dengan tulisan-tulisan Anda di milis ini.
Kritik dan ulasan Anda sangat mengena. Tajam dan
akurat. Secara pribadi, saya sangat respect dengan
Anda. Tapi mengenai, jawaban Anda mengenai pola
rekrutmen Trans Corp yang menurut saya tidak etis dan
tidak berperikemanusian, menjadi tanda tanya besar
terhadap kredibilitas Anda.
Televisi tempat Anda bekerja mungkin menganut prinsip
Ideologi Pasar. Tidak mengindahkan norma-norma
kemanusiaan dan kondisi riil di masyarakat. lebih
mementingkan imej perusahaan yang kredibel. Secara
bisnis mungkin sehat, tapi secara etika sangat tidak
waras.
bagaimana tidak, lowongan kerja kok menjadi ajang
untuk mencari sensasi.
Melalui Anda, (untuk Trans TV or Trans 7), apakah
tidak terlintas sedikitpun bagaimana sulitnya
orang-orang mencari kerja. Dengan biaya Rp 1 MILIAR,
dihamburkan sekadar mencari piagam. 
Sudah SEJAHTERAKAH karyawan Trans Corp?? Apakah  gaji
reporternya sudah sesuai dengan standar AJI (katanya
untuk reporter baru idealnya Rp 3,2 juta)...
Dari 11o ribu orang dengan yang diterima hanya 500
orang, kurang dari 10 persen saja tentu jadi bahan
ketawaan. Bukankah ini akan menjadi blunder bagi Trans
Corp sendiri, jika nantinya gaji karyawan baru itu
ternyata tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. 
Ada beberapa karyawan saya yang menyesal masuk Trans
TV. Sebelumnya dia bekerja pada salah satu media cetak
nasional. Kemudian pindah ke Trans karena tawaran
kerja sebagai reporter televisi. tentu saja dengan
prestise yang menyilaukan mata. Setelah diterima,
ternyata gajinya tak nyana sama sekali. Berada di
bawah kisaran Rp 1,5 juta. Modusnya, saat seleksi
manajemen TV tak menyebutkan berapa gaji yang
ditawarkan. 
"Ah, sialan ketipu gue," kata teman saya itu.
namanya juga bisnis, bagi Trans TV itu tentu sah-sah
saja. namanya juga ideologi pasar, apa saja  dilakukan
demi meraih rating televisi yang lebih oke dan
kepercayaan narasumber dan pengiklan yang lebih baik.
Tapi secara kemanusiaan, cara-cara seperti ini sangat
kurang ajar. Bukannya dapat kerja, si pelamar cuma
ngabisin ongkos ke senayan dan browsing via
internet.... 
bagaimana Trans?

IR 








  
---------------------------------
Need Mail bonding?
Go to the Yahoo! Mail Q&A for great tips from Yahoo! Answers users.
     
                       

 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

Kirim email ke