Capres AS Sekolah SD di Menteng
Tuduhan bahwa kandidat presiden AS, Senator Barack
Obama, pernah menjalani pendidikan Islam radikal di
Indonesia dibantah keras. Pengelola SDN Menteng I,
tempat Obama sekolah di Jakarta, mengatakan tuduhan
itu tidak berdasar. Sebab, sekolah mereka adalah
sekolah umum yang menerima murid dari berbagai latar
belakang agama, bukan hanya muslim.
Sejak mengumumkan secara resmi penacalonannya sebagai
presiden pada pemilihan presiden (pilpres) AS 2008,
Obama langsung mendapat serangan dari musuh-musuh
politiknya. Melalui internet, televisi, dan media
cetak, senator dari Negara Bagian Illinois itu dituduh
pernah mendapat pendidikan Islam radikal di Indonesia.
Tuduhan itu berdasar pada temuan bahwa Obama pernah
sekolah di sebuah sekolah Islam, madrasah, di
Indonesia. Salah satu yang getol menyerang alumnus
Harvard Law School 1988 itu adalah jaringan berita Fox
News Channel milik konglomerat media Rupert Murdoch.
Dalam wawancara dengan Associated Press (AP) kemarin,
Kepala SDN Menteng I Jakarta Akmad Solikhin mengakui,
berdasar data sekolah, memang benar bahwa Obama pernah
menuntut ilmu di sekolahnya.
Untuk memperkuat keterangannya, Solikhin menunjukkan
dokumen berupa formulir biodata yang mencatat data
Obama saat mendaftar di sekolah tersebut. Dalam data
itu, nama senator kulit hitam dalam sejarah AS
tersebut tertulis Barry Soetoro, anak Lulu Soetoro,
pegawai dinas geografi yang beralamat di Menteng Dalam
RT 007/RW 03. Tempat dan tanggal lahir Obama tertulis
Honolulu 4-8-61. Disebutkan pula bahwa kewarganegaraan
Obama adalah Indonesia dan beragama Islam.
Solikhin membantah tegas saat ditanya tentang dugaan
adanya pelajaran Islam radikal. Dia menegaskan bahwa
SDN Menteng I menerima murid dari semua latar belakang
agama sejak sekolah itu berdiri jauh sebelum Obama
sekolah di sana pada 1968.
Tuduhan itu sama sekali tidak berdasar, tegas
Solikhin. Memang betul, sebagian besar murid kami
adalah muslim, namun murid Kristen juga kami terima
dengan baik. Semua anak bisa sekolah di sini. Sebab,
kami adalah sekolah umum, tambahnya.
Keterangan Solikhin tersebut diperkuat dengan
pengakuan Iis Darmawan, 63. Mantan guru Obama di taman
kanak-kanak itu mengungkapkan bahwa dia ingat betul
profil Obama saat anak-anak. Dia seorang anak yang
tinggi dengan rambut keriting dan memiliki kemampuan
belajar cepat bahasa lokal serta mahir dalam pelajaran
matematika. Bahkan, saya ingat, saat itu dia pernah
membuat karangan berjudul I Want To Become
President, cerita Iis.
SDN Menteng I dikenal sebagai salah satu SD elite di
Jakarta. Mayoritas wali murid SD tersebut berasal dari
kelompok masyarakat menengah atas. Bahkan, kabarnya,
cucu mantan Presiden Soeharto juga bersekolah di sana.
Solikhin yang dengan bangga menunjukkan foto Obama
saat masih sekolah di SDN Menteng I itu berharap
tuduhan terhadap Obama segera berakhir. Kami bangga
pernah memiliki murid seperti Obama. Dan saya harap
jika dia terpilih sebagai presiden, hubungan AS dengan
Indonesia semakin kuat dan dia mampu memberikan
perspektif baru terhadap Islam, paparnya.
Sri Murtiningsih, yang juga pernah menjadi guru Obama
dan telah mengajar di SDN Menteng I selama 39 tahun,
mengungkapkan, dirinya memiliki ingatan kuat bahwa
Obama adalah seorang anak kecil yang kidal. Seperti
murid lainnya, dia mengikuti kurikulum standar seperti
matematika, pelajaran menulis, bahasa Indonesia, serta
dalam satu minggu menerima dua kali pelajaran agama
dan olahraga, terangnya.
Murtiningsih menceritakan, tetangganya berlari ke
rumahnya saat melihat di televisi bahwa salah satu
muridnya maju menjadi kandidat presiden AS. Mereka
berteriak, muridmu akan menggantikan Bush. Air mata
saya langsung menetes mendengarnya, ungkapnya.
Selain menelusuri ke bekas sekolah Obama dan para
mantan gurunya, AP juga mengonfirmasi ke Departemen
Agama (Depag) tentang status sekolah Obama di
Indonesia. Sutopo, juru bicara Depag, menyatakan,
klaim bahwa Obama belajar di sekolah muslim radikal
sama sekali tidak berdasar. SDN Menteng I adalah
sebuah sekolah umum yang diperuntukkan bagi semua
orang dari beragam agama, jelasnya. Sebelumnya,
dia belajar di Fransiskus Assisi yang memang
jelas-jelas sekolah Katolik, tambahnya.
Mengutip situs ensiklopedi maya, Wikipedia, Obama
lahir di Honolulu, Hawaii. Ayahnya adalah Barack
Hussein Obama Sr., kelahiran Alego, sebuah desa di
Provinsi Nyanza, Kenya, dan ibunya Ann Dunham,
perempuan kelahiran Wichita, Kansas. Pada saat Obama
berumur dua tahun, kedua orang tuanya bercerai.
Ayahnya melanjutkan studi di Harvard untuk mengambil
gelar PhD dan selanjutnya pulang kembali ke Kenya.
Sedangkan ibunya menikah lagi dengan pelajar asing
asal Indonesia, Lulu Soetoro.
Oleh keluarga barunya, Obama dipindah ke Jakarta dan
tinggal selama empat tahun. Dia kembali ke Hawaii dan
tinggal bersama keluarga kakeknya. Ayah Obama
meninggal dunia akibat tabrakan mobil di Kenya saat
Obama berumur 21 tahun. Sedangkan ibunya meninggal
beberapa bulan setelah Obama menerbitkan buku biografi
yang membuat dia sangat populer pada 1995, Dreams from
My Father.
Keputusan Barack Obama menjadi kandidat presiden untuk
Pemilu 2008 disambut dengan antusias oleh kubu
Demokrat maupun Republik. Dia dianggap mewakili
generasi baru politisi AS yang akan membawa gagasan
segar. Pencalonannya juga akan menandai ditutupnya
sejarah panjang rasisme di negeri itu.
Bukan karena latar belakangnya yang kompleks (ayah
kulit hitam, ibu kulit putih, dan masa kecil sebagian
di Indonesia) yang membuat tokoh itu begitu menarik.
Menurut editorial The Washington Post (18/1), janjinya
untuk mengubah paradigma politik AS yang oleh para
pemilih dinilai penuh dengan politik partai dan
politik rasial membuat rakyat AS antusias. Obama
mencerminkan harapan rakyat AS, entah benar atau
tidak, bahwa negara ini telah sampai pada satu titik,
yaitu mengatasi sejarah rasisme, tulis Washington
Post. Jika Obama terpilih sebagai presiden, akan
tercipta sejarah baru; untuk kali pertama presiden AS
dijabat warga berkulit hitam.
Banyak pendukung Obama di Partai Demokrat AS khawatir
nasib Obama akan sama dengan John Kerry yang gagal
membendung kritik saat pencalonannya sebagai kandidat
presiden pada 2004 dengan menantang Presiden George W.
Bush. Sebuah kelompok yang berhubungan dengan kelompok
konservatif, Swift Boat Veterans for Truth, menuding
bahwa Kerry tidak berhak mendapat medali Perang
Vietnam. Tekanan itu membuat Kerry mengambil keputusan
paling penting dalam karirnya kemarin, dengan
menyatakan tidak maju lagi dalam Pilpres 2008.
Mendapat serangan atas masa lalunya, Obama tidak
tinggal diam. Dalam acara Today di jaringan TV NBC
kemarin, dia menyatakan laporan tentang masa lalu
pendidikan kanak-kanaknya sebagai tuduhan yang
terburu-buru dan menggelikan. Saya memang pernah
tinggal di Indonesia dan belajar di sebuah sekolah
pada umur 7 dan 8 tahun. Tidak ada yang aneh, seperti
banyak yang dilakukan oleh orang AS, ujar Obama.
Serangan balik Obama itu dinilai pengamat politik AS
sebagai sinyal bahwa Obama akan berjuang untuk
melindungi reputasinya dalam kampanye presiden.
Direktur Komunikasi Tim Kampanye Obama, Robert
Gibbs, langsung mengirimkan e-mail ke media untuk
melawan tuduhan itu. Kami tidak sama dengan dia
(Kerry, Red), ujar Robert Gibbs. Kami yakin
tuduhan itu mereda dengan sendirinya. Sebab, hal itu
memang tidak benar.
Mengenai tulisan di dokumen biodata Obama di SDN
Menteng I yang mencatat senator Obama beragama Islam,
Gibbs menyatakan tidak tahu hal itu. Senator Obama
tidak pernah menjadi seorang muslim, tegasnya.
Pada umur 6 tahun, dia ada di sekolah Katolik dan
dia belajar sebagai seorang Kristen, ujarnya. Saat
ini senator Obama adalah anggota United Church of
Christ.
-----
Jawa Pos, 26 Januari 2007
____________________________________________________________________________________
Want to start your own business?
Learn how on Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/r-index