Osh Sensie
setuju Sensei
Kita harus pegang teguh janji karate ya sensei 

Osh
salam dari bjm
Deddy Mansyur <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                                     
Dear MTI or MIT or TIM or TMI i mean TNI,
  
 Apakah bangsa kita NKRI(Negara Kegilaan Rupiah Indonesia),  bangsa GILA?
  
 Sudah tentu dong.
  
 Pemimpin bangsanya gila semua.
  
 Sudah tahu mayoritas rakyat Indonesia sengsara, mereka  persetan banget sama 
rakyat. Instead, gaji mereka dinaikin. Jalan-jalan ke LN,  pengeluaran ongkos 
hotel di mark up. Korban-korban lumpur panas? Hell no. Biarin  saja rakyat mati 
sengsara. Studi banding di LN jalan terus. Suruh mereka studi  banding di 
Houston, nanti sensei suruh push up di dojo UH. Berurusan sama orang  
pemerintahan di persulit terus. Polisi? Masih prit jigo dijalanan? 
Preman-preman  di bis umum? Perlu PETRUS barangkali. Pokoknya GILA semua.
  
 Mungkin kita semua perlu dengar lagu Bimbo, "Tuhan".  Mereka pada jauh sama 
tuhan, dikerjain sama tuhan. Hukum karma, know what I  mean.
  
 GILA! GILA! GILA!
  
 salam,
 sensei deddy mansyur
 university of houston
 www.uh.edu/shotokan 
  
  
  
    ----- Original Message ----- 
   From:    MTI 
   To: [email protected] 
   Sent: Monday, January 29, 2007 12:12    AM
   Subject: [mediacare] Gila!
   

   Gila!
         Sonny    Wibisono, penulis, tinggal di Jakarta
   Koran Tempo - Sabtu, 27    Januari 2007
   Dalam Kamus Besar Bahasa    Indonesia, gila diartikan sebagai sakit ingatan, 
sakit jiwa, sarafnya    terganggu atau pikirannya tidak normal; tidak biasa, 
tidak sebagaimana    mestinya, berbuat yang bukan-bukan; terlalu, kurang ajar, 
ungkapan kagum; atau    dapat juga berarti terlanda perasaan sangat suka. Jadi 
memang pemakaian kata gila tidak melulu    identik dengan seseorang yang sakit 
ingatan. 
   Beberapa hari terakhir ini, media    massa ramai memberitakan kasus 
"menghilangnya" pesawat Adam Air rute    Surabaya-Manado yang belum ditemukan. 
Nasib 102 penumpang dan awak pesawat itu    hingga kini masih tak tentu 
rimbanya. Ketika dikabarkan pesawat Adam Air jatuh    di Desa Rangoan, Sulawesi 
Barat, semua perhatian segera mengarah ke lokasi    tersebut. Informasi ini 
sulit untuk tidak dipercaya, karena cukup detail.    Ketika teman saya tahu 
bahwa informasi tersebut hanya hoax belaka, ia    hanya bisa bergumam, "Gila!" 
   Ditujukan kepada apa atau siapa    ungkapan tersebut, saya tidak tahu. 
Apakah ditujukan kepada orang yang    menyebarkan berita bohong tersebut atau 
kepada pemerintah yang percaya    mentah-mentah berita tersebut tanpa perlu 
melakukan check and recheck    terlebih dulu? Dan ketika membaca ulasan di 
media yang memberitakan bujet    perawatan pesawat dibikin cekak untuk 
menaikkan keuntungan bisnis mereka, dus,    keselamatan penumpang diabaikan, 
lagi-lagi teman saya menggumam untuk yang    kedua kalinya, "Gila!"
   Pada akhir 2006, kita dikejutkan    oleh berita keterlambatan pengiriman 
katering jemaah haji Indonesia di Tanah    Suci. Sekitar 200 ribu anggota 
jemaah haji asal Indonesia harus menahan lapar    lebih dari 30 jam. Sepanjang 
sejarah pengelolaan haji yang sudah dilakukan    pemerintah selama berpuluh 
tahun, baru kali inilah manajemen kateringnya    amburadul. Teman saya pun tak 
bisa tidak untuk berkomentar "gila!" untuk kasus    ini.
   Ketika rakyat di beberapa daerah    terpaksa makan nasi aking hanya untuk 
sekadar bertahan hidup, pada saat yang    bersamaan diberitakan gaji para 
anggota DPRD naik sebesar dua kali lipat dari    sekarang. Hal itu terjadi 
setelah Presiden Yudhoyono menandatangani Peraturan    Pemerintah Nomor 37 
Tahun 2006 pada November lalu. Peraturan tersebut    mengamanatkan dua tambahan 
tunjangan bagi anggota DPRD, yaitu tunjangan    komunikasi intensif dan dana 
operasional. 
   Kenaikan gila-gilaan dialami ketua    dan wakil ketua DPRD. Selain 
mendapatkan tunjangan komunikasi intensif sebesar    Rp 9 juta, ketua DPRD 
masih mendapatkan dana operasional yang mencapai Rp 18    juta, sedangkan wakil 
ketua mendapat dana operasional Rp 9,6 juta! Banyak    orang kemudian 
geleng-geleng kepala dan kembali saya mendengar (bukan hanya    satu) orang 
berkomentar, "Gila!" 
   Dari hari ke hari, kita disuguhi    berita-berita yang tidak hanya dapat 
membuat kita mengurut dada, tapi juga    sering mendorong kita untuk 
berkomentar, "Gila!" Cerita getir memilukan    (bahkan kadang memalukan) dari 
berbagai pelosok negeri ini datang silih    berganti. Masyarakat pun cenderung 
bersikap permissiveness. Hari ini    menjadi headline, esok hari sudah tidak 
dibicarakan atau bahkan    dilupakan. 
   Kondisi ini tampak diperparah    dengan makin bertambahnya jumlah penganggur 
di Indonesia. Dalam penelitiannya,    Profesor M. Harvey Brenner dari 
Universitas John Hopkins mengemukakan, untuk    setiap kenaikan 1 persen angka 
pengangguran, tercatat kenaikan 1,9 persen    penyakit jantung, 4,1 persen 
bunuh diri, dan 4,3 persen pasien baru di rumah    sakit jiwa. Jangan-jangan, 
dengan "kegilaan" yang melanda republik ini,    persentase dari hasil studi 
Brenner bisa berubah.
   Ketua Konvensi Nasional Kesehatan    Jiwa Ontoseno menuturkan gejala sakit 
jiwa yang dialami penderitanya, antara    lain mudah melakukan kekerasan 
seperti membakar atau menggebuki pencuri sampai    mati, manipulatif, cuek, 
serta tidak mengenal apa yang baik dan buruk. Dan hal    tersebut terjadi di 
semua lapisan masyarakat. Satu bait ramalan Jayabaya,    "sungguh zaman sedang 
gonjang-ganjing, menyaksikan zaman gila, tidak ikut gila    tidak dapat 
bagian", bisa jadi menggambarkan keadaan bangsa kita saat ini:    kalau tidak 
ikut gila, kita tidak kebagian. Kalau memang demikian halnya,    sungguh malang 
negara ini. Jelas ada sesuatu yang salah di negeri ini, tapi    dari mana kita 
hendak memulai mengurai benang kusut    ini?
   Tak usah lagi mengurusi hal-hal    remeh-temeh. Banyak persoalan besar yang 
perlu diselesaikan di negeri ini:    bencana lumpur Lapindo, potensi pandemi 
flu burung, berbagai peraturan daerah    yang tumpang-tindih, lemahnya daya 
tarik investasi asing, krisis energi yang    berimpak pada ketahanan nasional, 
reformasi birokrasi yang belum menyentuh    lembaga yudikatif, dan segepok 
masalah besar lain yang masih menunggu.    
   Bahkan Presiden Yudhoyono berjanji    tak akan lagi melakukan kompromi dalam 
mengambil keputusan yang menyangkut    rakyat. Berbagai masalah yang merundung 
negara ini memang membutuhkan tindakan    cepat, tegas, dan nyata--seperti 
dijanjikan Presiden dalam pidato sambutannya    pada acara ulang tahun ke-69 
kantor berita Antara. Dalam konteks ini,    sudah sewajarnya jika Presiden 
bertindak cepat sehingga bisa mengundang    komentar, "Wah, gile bener, 
Presiden sudah bongkar kabinet, tak ada    kompromi lagi rupanya dengan 
parpol," atau mungkin komentar lain yang tidak    kalah gilanya: "Gila benar, 
kapan SBY ada waktu istirahat kalau sampai akhir    pekan pun masih mengurus 
tugas negara." 
   Francis Fukuyama dalam bukunya,    Trust, mengingatkan kita, langkah apa pun 
tak akan cukup untuk    menyelesaikan masalah suatu bangsa tanpa adanya trust, 
jaminan rasa    aman. Sesungguhnya yang diperlukan saat ini adalah kerelaan 
para pemimpin dan    elite untuk saling mendengar, mengakhiri perdebatan, dan 
mencari jalan keluar    terbaik buat menyelamatkan bangsa dari kehancuran. Para 
pemimpin harus duduk    bersama dan mendengarkan aspirasi masyarakat. Dan yang 
tak kalah penting,    pemimpin haruslah memberi contoh teladan yang baik bagi 
rakyatnya. Panutan    harus dimulai dari atas. Tanpa itu semua, jangan harap 
bangsa ini keluar dari    situasi gila seperti saat ini. 
   
http://www.korantempo.com/korantempo/2007/01/27/Opini/krn,20070127,39.id.html 


  
     
                       

 
---------------------------------
Don't pick lemons.
See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos.

Kirim email ke