Sejauh Mana CIA Terlibat Dibalik Tragedy G30S-PKI ???? > "IBRAHIM ISA Alias BRAMIJN" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Betulkah Ada 'DEWAN REVOLUSI' ? > Sejak Letnan Kolonel Untung, Komandan Batalyon Cakrabirawa, > Pasukan Pengawal Presiden, bersama rekan-rekannya, kebanyakan dari > Angkatan Darat, membentuk 'Dewan Revolusi' melalui suatu gerakan > militer yang diberi nama oleh para pelakunya sebagai GERAKAN 30 > SEPTEMBER (1965), perkataan - 'D e w a n R e v o l u s i ' - > selalu dikaitkan dengan tudingan tertuju pada PKI atau Presiden > Sukarno.
Saya dulu ikut demo dalam Kapi-Kami dalam menggulingkan Bung Karno. Terus terang saja, saya sendiri cuma ikut2an sekolahku di SMA VI waktu itu didatangi anggauta2 KAMI yang telah dilarang oleh Bung Karno. kami sebenarnya dipaksa untuk berdemo karena sewaktu anggauta2 KAMI itu datang mengumpulkan siswa2 SMA VI, mereka dikawal oleh RPKAD. Julius Usman juga adalah kaki tangan dari Kami meskipun waktu itu Julius Usma masih siswa SMA VI. Secara jujur saja saya ungkapkan disini, kebanyakan para siswa emoh ikut2an politik, tapi satu hal yang perlu saya tekankan disini, bahwa kami semua tidak ada yang pro-Bung Karno, semua masyarakat di Indonesia sudah bosan dengan kepemimpinan Bung Karno yang ekonominya serba melarat dan kambing hitamnya selalu Amerika dan nekolim. Jadi kami semua sebenarnya memang mengharapkan jatuhnya Bung Karno, siapapun penggantinya masa bohoh, yang penting Sukarno itu jatuh. Jadi urusan tipu2 politik tentang Dewan Revolusi, maupun surat SP 11 Maren yang palsu, bukanlah hal yang baru, seluruh masyarakat di Indonesia sudah menerima issu2 seperti itu, namun komentar semuanya sama yaitu biarlah issu2 bohong tentang dewan revolusi, dan biarkanlah Suharto memalsu SP 11 Maret, yang penting Sukarno bisa dijatuhkan. Demikianlah, akal licik apapun yang mau digunakan Suharto, rakyat banyak mendukungnya karena yang penting tujuannya yaitu digantinya Sukarno dengan presiden yang lain. Memang pergantian presiden belum tentu menyebabkan kondisi bertambah baik, paling sedikit kita rakyat Indonesia akan merasakan situasi yang baru. Apalagi issue menyatakan bahwa Suharto itu digerakkan oleh CIA, maka rakyat banyak makin mengharapkan bahwa dengan kembali RI pro-Amerika tentunya ekonomi akan bebas embargo sehingga rakyat bisa hidup kembali dengan ikat pinggang dikendorkan. Demikianlah, itu kenyataan, jadi tak usahlah anda mempermasalahkan betul atau tidaknya ada Dewan Revolusi karena hal itu bukan hal yang sangat penting. Andaikata tidak betul, lalu mau apa??? Juga kalo betul mau apa??? Betul atau tidak, tetap saja tujuannya sama yaitu Sukarno harus diganti karena rakyat sudah muak sang Presiden mengangkat diri sendiri jadi presiden seumur hidup. Kita memang menyesalkan bahwa Suharto juga menjerumuskan bangsa dan negara kita, namun penyesalan itu bukanlah berarti bahwa kita mengharapkan kembalinya Bung Karno jadi Presiden !!!! Sama saja halnya dengan keadaan sekarang, ada yang menganggap bahwa situasi sekarang lebih parah daripada situasi zaman Suharto. Mungkin yang menganggapnya demikian hanyalah orang2 yang mendukung Suharto saja yang mengganggap seperti itu. Dalam hal ini, saya tetap berpendapat, bahwa meskipun keadaan sekarang lebih buruk katimbang zaman pemerintahan Suharto, tetap saja haram kalo Suharto mau naik kembali, apalagi seharusnya dia diadili seperti Sadam Hussein dan dihukum gantung oleh pengadilan negeri. Apakah anda pikir kalo saja terbukti dewan revolusi itu bohong akan bisa membalik sejarah dengan mengembalikan kekuasaan Sukarno??? Jelas tidak bisa, saya pribadi tetap menganggap sepantasnya Sukarno itu ditangkap dan diadili bukan malah dihormati sebagai pahlawan. Suharto sengaja menjadikan Sukarno sebagai Pahlawan dengan maksud agar dirinya nanti juga tetap dianggap sebagai pahlawan meskipun dijatuhkan dengan kudeta oleh penguasa dimasa akan datangnya. Nasib Suharto lebih bagus dari Sukarno hanya karena Suharto menyadari bahwa keselamatan jiwanya hanya bisa dilakukan apabila mengundurkan diri sebelum "di-Sukarno-kan" atau "di-Sadam Hussein-kan". Andaikata saja Sukarno hidup lagi, tentu dia akan menyesal kenapa tidak sempat mengundurkan diri dengan cara2 seperti Suharto dengan menunjuk penggantinya yang bersumpah akan melindungi dirinya dan keluarganya !!!! Kalo mau bicara politik, mana mungkin CIA tidak menyusup kedalam tubuh PKI??? Dan kalo CIA menyusup kedalam PKI, mana mungkin Aidit tidak mengetahuinya??? Kenyataannya, Sukarno bekas anggauta CIA, dan Aidit sendiri juga anggauta CIA karena dibutuhkan untuk menyusupkan spion2 dari Indonesia ke Cina. Tahukah anda bahwa Aidit itu sahabat kental dari dubes Amerika di Jakarta P.Jones ???? Di Amerika sendiri terjadi persaingan yang saling menyalahkan cara2 menangani Indonesia. Akhirnya P.Jones ditarik pulang karena gagal memanfaatkan PKI, atau mungkin juga sudah berhasil memanfaatkan PKI dan fungsi PKI sudah usai dan sudah waktunya dikubur. Bagi Amerika atau dalam dunia spionase adalah biasa agen bangsa lain dimanfaatkan kemudian disingkirkan setelah tugasnya selesai. Apalagi kalo kita mengingat kembali, setelah Sukarno dan PKInya dikubur, urusan China dan Vietnam mencapai penyelesaian politik yang sangat memuaskan pihak Amerika. Bayangin saja, angkatan perang Amerika yang begitu mahal memboroskan dana dalam Perang Vietnam tidak mencapai hasil yang diinginkan. Malah perang spionase inilah yang biayanya lebih sedikit ternyata lebih berhasil. Bukan cuma Sukarno, Aidit dan PKI-nya saja yang berhasil dilindas, tetapi juga ketua Mao Tse Dong itu berhasil di-Sukarno-kan melalui Revolusi Kebudayaan yang digerakkan oleh agen2 CIA disana. Dan hasil rontoknya kekuasaan Mao di Cina bisa jadi atas jasa2nya Aidit. Bukan hal yang kebetulan kalo Suharto yang juga anggauta CIA yang direkrut Amerika dengan sengaja membunuh mati Aidit dengan tuduhan yang rasional karena dia adalah ketua PKI, padahal Suharto sesungguhnya kuatir kalo Aidit itulah yang akan naik jadi Presiden karena dukungan CIA. Suharto mungkin menyadari bahwa reputasi jasa2 Aidit terhadap CIA lebih banyak katimbang jasa2nya Suharto. Hubungan Aidit dengan CIA jauh lebih erat daripada hubungan Suharto dengan CIA. Jadi wajar saja kalo Suharto menganggap bahwa Aidit ini adalah saingan berat yang harus disingkirkan. Dalam hal ini, kemungkinan besar, CIA sudah memberi warning kepada Suharto untuk melindungi Aidit, namun Suharto pura2 bingung dan melaporkan kepada pihak CIA bahwa Aidit belum ditemukan entah dia berada dimana. Demikianlah, Aidit akhirnya diberitakan mati terbunuh oleh RPKAD. Betulkah Aidit mati ditangan RPKAD ??? Bisa jadi RPKAD ini hanyalah dijadikan kambing hitam oleh Suharto untuk mendapatkan excuse dari pihak CIA. Akibatnya, Suharto bertengkar dengan Sarwo Edhi Wibowo. Juga bisa dipastikan bahwa Sarwo Edhie sendiri juga merupakan bibit unggul yang kemungkinannya sedang dipertimbangkan untuk naik singgasana oleh pihak CIA. Namun dengan cara memfitnah Sarwo Edhie sebagai penjagal Aidit, maka Suharto berhasil menyingkirkan pertimbangan CIA untuk menaikkan Sarwo Edhie. Besar kemungkinannya bahwa unggulan CIA yang pertama adalah mencalonkan Aidit untuk menjadi pengganti Bung Karno!!! Suharto mengetahui bahwa Aidit diunggulkan CIA sebagai pengganti Bung Karno berdasarkan informasi dari Ali Murtopo yang juga agen penting CIA di Indonesia. Kemudian orang kedua yang dianggap pantas untuk nantinya diorbitkan adalah Sarwo Edhie karena Sarwo Edhie merupakan anggauta RPKAD yang dilatih di Amerika dimana dia berhasil menunjukkan dirinya memang paling cerdas, berbakat, dalam semua hal mempunyai ranking prestasi sekolah dan lapangan tertinggi dari semua calon lainnya. Bisa jadi, karena CIA gagal menaikkan Sarwo Edhie seperti yang sudah direncanakan sebelumnya, maka SBY sekarang diangkat oleh CIA jadi presiden RI karena SBY adalah menantu dari Sarwo Edhie. Prestasi dan kemampuan SBY dimata Amerika dinilai lebih baik dari Sarwo Edhie dulu. Demikianlah, dengan tulisan saya diatas kesimpulannya cuma satu, bahwa Sukarno belum pernah jadi agen komunis. Sukarno juga bukan berpaham aliran komunis. Dia lebih cocok dinamakan aliran opportunis. Komunis dulu memang ada di Indonesia sewaktu dipimpin oleh Muso, Tan Malaka, dan banyak tokoh2 lainnya dimana kesemuanya tak ada yang mampu berkomunikasi dalam bahasa Inggris seperti Sukarno. Kalo akhirnya Sukarno yang berhasil didukung CIA menjadi presiden tentunya wajar, karena untuk mendapatkan dukungan, lobby2 berbahasa inggris tentunya sangatlah penting. Demikianlah, dengan dukungan Amerika itulah, PKI digilas Sukarno yang kemudian mendudukkan teman dekatnya jadi ketuanya dan dialah DN Aidit yang sangat setia dengan Sukarno. Yang tidak banyak diketahui umum adalah bahwa Aidit itu fasih berbahasa Inggris dan Belanda, isterinya seorang dokter lulusan Belanda. Bahkan isteri Aidit nyaris dibunuh oleh Suharto, namun berhasil dilindungi Amerika melalui agen penting CIA, yaitu ibu Dewi Sukarno yang khusus datang ke Indonesia hanya untuk menjengung isteri DN Aidit. Lucunya, isteri DN Aidit yang bernama Dr. Sutanti Aidit tidak diganggu seujung rambutpun oleh Suharto dan rezimnya. Isteri Aidit ini dengan terang2an dibela oleh CIA. Suharto rencananya juga ingin menyingkirkan ibu Dr. Sutanti Aidit ini, namun karena perintah CIA yang dengan keras melarangnya, akhirnya tidak berhasil dilakukan. Ibu Dr. Sutanti Aidit diberi pekerjaan oleh CIA melalui organisasi Katolik Indonesia, beliau menjadi dokter kepala Poliklinik dari Rumah Sakit Atmajaya dan setiap hari bekerja sebagai dokter Poliklinik di Fakultas Kedokteran Atmajaya. Namun beliau tidak pernah menuliskan namanya di Resepnya yang disertai nama suaminya Aidit. Nama beliau di Poliklinik Atmajaya adalah Dr.Sutanti A. Tidak ada mahasiswa maupun dosen2 Atmajaya sendiri yang tahu bahwa Dr.Sutanti A itu adalah isteri tokoh PKI yang dibunuh Suharto yaitu Aidit. Demikianlah, sedikit tulisan saya diatas tentang peranan CIA baik dalam G30S PKI, ataupun dalam Gestok. Kalo anda menganggapnya sebagai perang antara Komunis dan Amerika, tentunya keliru, juga bukan perang antara ABRI dan PKI. Yang benar adalah perebutan kekuasaan antar anggauta CIA itu sendiri yang dalam hal ini adalah Sukarno, Aidit, Suharto, Sarwo Edhie, maupun Ali Murtopo. Ali Murtopo memang berambisi besar, namun dia bukanlah pilihan CIA. Usaha Ali Murtopo mencari dukungan CIA agar bisa naik jadi presiden ternyata gagal dan dia nyaris dihabisi oleh Suharto setelah rekan Ali Murtopo yaitu jenderal ......o (lupa namanya) berhasil disingkirkan dipensiun oleh Suharto melalui jebakan "Peristiwa Malari" yang melibatkan Dr.Hariman Siregar. Semoga anda semua bisa merenungkannya dan saya persilahkan membantahnya, fakta yang saya tulis bisa saja di recheck baik kepada kedubes Amerika di Jakarta, maupun kepada Suharto sendiri. Mungkin isteri Aidit, Dr.Sutanti A masih hidup dan masih berpraktek di poliklinik Atmajaya ???? Anda boleh menanyakan setiap mahasiswa Fakultas kedokteran Atmajaya tentang kebenaran tulisan saya ini. Bahkan Dr.Sutanti A ini sangat terkenal dikalangan detailer perusahaan2 obat diseluruh Jakarta karena beliaulah yang paling berkuasa menetapkan jenis maupun merek obat yang akan dibeli atau digunakan dalam Poliklinik Atmajaya. Juga dalam hal ini, siapa yang tidak tahu kalo organisasi Katolik di Indonesia memiliki hubungan yang sangat dekat dengan CIA???? Cosmas Batubara adalah salah satu tokoh Katolik yang paling berjasa dalam mengempeskan kekuasaan Sukarno dan diangkat Suharto menjadi menteri setelah dirinya jadi presiden. Ny. Muslim binti Muskitawati.
