ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Per tama2 saya ingin ucapkan terimakasih utk pak Budhiana (thank you for being you), dan tentunya artikel pak Sum cukup menyentuh, membuat kita gelisah, sedih dan marah...marah karena amburadulnya system kependudukan di tanah air, para imigrant dari luar jkt yg menetap di jkt sehatrusnya mempunyai access utk menerima kartu yg syah utk menjadi penduduk jkt, ini memang prosedure yg sulit karena administrasi sekecil apapun memerlukan dana dan tentunya para imigrant ini sama sekali tak mampu, saya sendiri tidak tau dari mana kita harus memulai nya, Pemda DKI sepertinya sudah kehilangan kontrol dalam penataan penduduk dan proses pengesyahan warga jkt, hingga hari ini masih banyak tuna wisma (gelandangan?) pelacur2, anak2 kecil yg tumbuh liar mengamen disiang hari, apakah mereka sekolah? penanganan sanitary kota (infra structure) dan tentu saja kemacetan lalulintas yg minta ampun memalukan nya, sudah berapa kali kita menggonta ganti gubernur DKI ini ? tak satupun mampu merubah kota ini, dan banjir....adduhh mulut saya memang suka merembet ke mana2 kalau lagi kesel begini, well..lets go back to that original issue (smile....). Penangan kesehatan sosial dan bantuan pasien rakyat miskin, saya bisa mengerti kalau rumah sakit hrs menyandera bayi karena rumah sakit bukan lembaga sosial, mereka membutuhkan uang to keep the business floating, tetapi yg perlu dirubah adalah system administrasi nya, di USA kalau kita melahirkan kita bisa langsung pulang tanpa bayar karena umum nya mereka punya asuransi disini, kalaupun tidak punya asuransi karena rakyat miskin, maka pemerintah akan ambil alih utk mengongkosinya anak rakyatnya. Di Indo. tentunya tak bisa karena pasien miskin, boro2 asuransi utk beli susu atau formula baby pun gimana entar kali ya...disinilah menteri kesehatan atau department kesehatan dan pemda DKI membuat undang2 utk melindungi rakyat miskin dan melindungi rumah sakit, bayi yg sudah lahir tidak bisa dong disandera, tidak manusiawi namanya, pasien wajib membayar sebagian rekening rumah sakit, dept. kesehatan berkewajiban utk membantu sisanya, setiap department kan ada budgetnya, itu mangkanya ada system bantuan rakyat miskin, hanya karena gak ada KTP ? mau berobat atau matipun susah karena tidak ada KTP ? sangat tidak manusiwi ! Kependudukan yg syah harus diringankan supaya bisa di access semua rakyat, bukankah kalau mereka tercatat secara syah akan mudah pula penanganan administrasi nya ? Kemiskinan saudara2 kita adalah kemiskinan kita bersama, kita tidak bisa memicingkan mata sebelah hanya karena itu sikap yg lebih mudah, kita harus membuka mata dan menghadapinya dengan cara menelorkan ide2 kita utk membantu pemerintah utk membuat strategy kependudukan/ admisnitstrasi lebih mudah dan effesien. good subject to talk about guys ! salam' O
Budhiana Kartawijaya <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Pak Sumar Sastrowardoyo yth, Saya pernah mencoba belajar hidup bersama komunitas WTS, homoseks, preman, dll di kawasan Bongkaran Tanah Abang Jakarta (lihat http://budhiana.blogspot.com). Kawasan ini dulu ditempati/dikuasai Hercules c.s. Saya dan beberapa teman mendirikan rumah belajar di pinggiran rel. Lumayan, muridnya 125 orang. Sejak saya pindah ke Bandung tahun 20001, pembinaan dilakukan oleh kawan-kawan yang bekerja di Indosat. Menjadi orang miskin itu menyedihkan. Beberapa kali saya harus mencari dana kepada kawan-kawan untuk mengobati sakit mereka. Ada kala saya harus mencari uang untuk menebus bayi dari rumahsakit. Bayi-bayi ini adalah "anak-anak haram" (I hate the words). Mereka nggak bisa dapat keringanan karena nggak ada surat miskin. RT dan RW tidak mau mengeluarkan surat miskin karena mereka secara formal nggak punya KTP/kartu keluarga. Dus mereka bukan warga RW setempat. Jadi, ya saya ngemis duit dari teman-teman saya yang tahu kegiatan saya. Yang paling konyol kalau ada yang meninggal. Untuk menguburnya kita bingung. Sebab mau pesan lubang kuburan harus ada surat kematian dari lurah. Ya lurah nggak mau mengeluarkan surat kematian karena mereka bukan penduduk setempat. Lagi-lagi nggak ada KTP. Akhirnya, jenazah yang meninggal pagi hari baru dapat dikubur sore hari. Itu pun terpaksa kita nyogok-nyogok. Apa boleh buat, sebab kami ingin supaya ruh dan jasad mereka yang disisihkan di dunia ini, segera disambut dan dipeluk oleh Yang Maha Kasih. So...karena tidak masuk persyaratan administratif, mereka dianggap bukan human. Keterasingan administratif menyebabkan lahir susah (disandera) , mati pun susah (disandera juga). Betapa sulitnya orang miskin. salam Budhiana Bandung Sumar Sastrowardoyo wrote: -------------------------------------------------------------------------------- Kemiskinan Itu Seperti Apakah? Sutrisno seorang penarik becak, tinggal di rumah kontrak di Kampung Bambu, Legok, Tangerang. Penghasilannya hanya sekitar Rp.10.000 - Rp.15.000/hari. Jumlah yang tidak banyak untuk sebuah kehidupan di pinggiran kota besar. Dengan Sumarni isterinya, ia punya anak perempuan bernama Puji berusia 8 tahun. Karena faktor kemiskinan, Puji belum juga bersekolah karena orang tuanya tak mampu membiayai. Tapi Sutrisno masih bisa menabung lantaran Sumarni hamil anak kedua. Ia harus memaksa diri untuk menyisihkan penghasilannya demi membiayai kelahiran anaknya. Lantaran ia tidak punya akses untuk mendapatkan kartu sehat untuk orang miskin. Bahkan upaya untuk mendapat kartu miskin dari desa juga terganjal karena Sutrisno belum punya KTP Tangerang. 21 Desember 2006, air ketuban Sumarni mulai keluar. Saudara ipar Sutrisno membawanya ke rumah bidan Anifah dekat rumah kontrakan mereka. Anifah tak sanggup menangani Sumarni karena tekanan darahnya tinggi. Bidan menyarankan agar Sumarni di bawa ke Klinik MA yang peralatannya lebih lengkap dan ada dokternya. Di klinik yang cukup besar itu tekanan darah Sumarni naik lagi tetapi jalan lahir bayi terus membuka. Menjelang pukul 24.00 lahirlah bayi perempuan yang diberi nama Alfiah. Ketika Sutrisno hendak membawa isteri dan bayinya pulang, ia terkejut karena tagihan biaya persalinan sebesar Rp. 1,75 juta. Sutrisno hanya membawa Rp. 900 ribu. Lantas ia meminjam ke ayahnya yang juga penarik becak. Saudara iparnya menggadaikan teve 14 inci. Jumlah uang yang terkumpul hanya Rp. 1,25 juta. Kurang Rp. 450 ribu. Meski demikian, uang itu di bawanya ke klinik, tetapi manajemen klinik menyatakan biaya persalinan harus dilunasi baru bayi bisa di bawa pulang. 25 Desember 2006 Sutrisno yang tak lulus SD pulang ke rumah mertuanya di Lampung Timur untuk meminjam uang. Kepergiannya cukup lama, 13 hari; karena ternyata mertuanya sudah pindah ke Sumatera Selatan. Ayah mertua sampai menjual barang-barang dan meminjam pada saudaranya hingga terkumpul Rp.600 ribu. Sayang sekali biaya persalinan dan perawatan bayi membengkak menjadi Rp. 4.3 juta. Sirnalah sudah angan-angan Sutrisno untuk melunasi biaya tersebut. Selama Sutrisno mencari uang untuk pelunasan, bayi Alfiah disandera klinik. Sumarni menahan duka. Payudaranya mulai mengecil karena hampir 21 hari tak ia gunakan untuk menyusui bayinya. Payudaranya yang penuh air susu sering terasa sakit, bahkan ia sering merasa 'meriang'; sehingga ia harus sering memompa ASInya keluar. ASI yang sangat dan penting dibutuhkan bayinya pun terbuang sia-sia. Drama penyanderaan ini berakhir pada 24 Januari 2007 setelah suatu pihak teve swasta turut campur bersama Sekjen Komisi Nasional Perlindungan Anak Arist Merdeka Sirait mengajak Sutrisno dan isteri menemui pengelola klinik. Humas Klinik MA belakangan mengaku hanya meminta Sutrisno mencari kartu miskin agar klinik bisa membebaskan dari semua biaya. Setelah kasus diatas, beberapa hari kemudian di Tangerang terjadi lagi kisah penyanderaan serupa yang dilakukan oleh seorang bidan. Bahkan lebih lama, hampir 3 bulan. [Sumber : Televisi dan Suratkabar ] [Non-text portions of this message have been removed] [Non-text portions of this message have been removed] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Diharapkan Member Milis saling berinteraksi dengan baik dan harmonis. Dalam suasana kekeluargaan, santai, tidak harus formal, tidak saling menghujat dan tidak diskriminative. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Yahoo! Groups Links --------------------------------- Food fight? Enjoy some healthy debate in the Yahoo! Answers Food & Drink Q&A. [Non-text portions of this message have been removed] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Diharapkan Member Milis saling berinteraksi dengan baik dan harmonis. Dalam suasana kekeluargaan, santai, tidak harus formal, tidak saling menghujat dan tidak diskriminative. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Yahoo! Groups Links --------------------------------- Don't pick lemons. See all the new 2007 cars at Yahoo! Autos. --------------------------------- Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question on Yahoo! Answers.
