Apapun yang yang dilakukan oleh “Si Bencong” dan siapa
dia sebenarnya, saya kira tidaklah penting. Forum
Keadilan Palmerah dan jurnalis lain yang bersimpati
tidak usah capek-capek mencari mahluk berkelamin ganda
tersebut sebab inti permasalahannya bukan di sana.
Manusia jadi-jadian seperti ini kerap muncul di dunia
jurnalistik dengan membawa misi sang juragan.  
Lupakanlah Si Bencong dan segala trik tipu-daya
sensualnyaPermasalahan sebenarnya ada pada PBS dan
kawan-kawannya. Keserakakahan menggelayuti mereka.
Dengan dalih mewujudkan dunia pers yang independen
mereka memaksakan diri untuk mengurusi dua fungsi
perusahaan media secara bersamaan, yakni fungsi
jurnalistik dan fungsi usaha. Opo isoooo…..???
Mungkin PBS merasa bisa karena ia adalah alumni
Majalah TEMPE yang enak dibacem dan murah itu, tetapi
bagaimana dengan anak buahnya, mampulah mereka memikul
dua tugas sekaligus?
Akhirnya kenyataan pahit pun harus dihadapi. Satu
persatu awak redaksi FK mulai tumbang, mencari posisi
aman di tempat lain. Hengkangnya awak redaksi sebagian
besar diliputi oleh rasa tidak enak alias sakit hati.
Ada dua peyebab: pertama, gaji tidak pernah dibayar,
kedua ditindas oleh PBS. Haruskah kita merelakan diri
lapar dan merana demi mempertahankan idealisme yang
tidak jelas? Apalagi idealisme itu hanya untuk
memperjuangkan kebesaran seorang PBS.

Sahabat jurnalis tercinta berikut sekelumit kisah saya
saat bergabung dengan Forum Keadilan:
Tahun 2002, ketika FK didera konflik internal,
sehingga nyaris semua awak redaksi hengkang, melalui
seorang teman saya dipekenalkan dengan FK dan PBS.
Dari sana saya mulai menulis berita sesuai dengan
pesanan. Lama-kelamaan saya semakin asik dengan FK
sehingga saya memutuskan bergabung secara penuh.
Hingga awal 2005 semuanya berjalan baik-baik saja.
Selama menjadi anak buah PBS, kesejahteraan kami
memang jauh dari cukup. Gaji kadang dapat, kadang
tidak. Inilah yang mendorong saya dan awak redaksi
lainnya untuk berlomba-lomba mencari iklan sembari
liputan, karena jika tidak melakukan fungsi ganda ini
kami tidak akan bisa membeli sepiring nasi. Saya
bersyukur, karena saya punya banyak kenalan. Dari
merekalah saya disambungkan dengan beberapa orang yang
mau memasang iklan di FK.
Suatu ketika ada informasi tentang hadirnya investor
yang akan membeli keseluruhan saham FK. PBS
mensosialisasikan hal ini kepada seluruh bawahannya.
Entah dipolitisir atau tidak, ternyata pendapat
terbelah. Ada yang setuju menerima investor, ada yang
tidak. Demi kesejahteraan bersama,  saya masuk
kelompok yang setuju, dan PBS tidak setuju. Untuk
mendapatkan kata sepakat polling dilakukan, saya
menang.
Dari sinilah awal kisah intimidasi terhadap saya
dimulai. Saya diperlakukan sebagai sosok ekstrem yang
selalu menghambat kinerja perusahaan. Baik-buruk yang
saya lakukan tetap buruk di mata PBS. Melalui
kecerdikannya saya mulai diadu-domba dengan
kawan-kawan yang lain.
Salah satu contoh trik intimidasi PBS adalah: pertama,
ketika saya terlambat mengirim berita 30 menit.
Menurut saya sebenarnya tidak terlambat jika ia
membuka email yang saya kirim. Atas keterlambatan itu
saya dikenai denda Rp. 50rb. Anehnya, ketika orang
lain melakukan pelanggaran tidak diberi sanksi
apa-apa. Sangat lucu dan konyol….
Kedua, dalam setiap rapat redaksi PBS selalu mengumbar
janji “Barang siapa yang mendapatkan iklan akan diberi
fee sekian persen”. Janji tinggal janji, sebab ketika
saya mendapatkan iklan, saya tidak mendapat fee
seperti dijanjikan. Saya dipaksa harus mengikuti
peraturan baru yang ia bikin. Saya harus membayar
“Jasa Preman” sekian persen. Jasa preman itu adalah
untuk dirinya sendiri.
Ketiga, inilah yang sangat menyakitkan sepanjang hidup
saya. Saya difitnah mengintervensi negosiasi
advertorial Humprey Jemat sehingga harganya menjadi
lebih murah dari kesepakatan awal, padahal waktu itu
saya sudah keluar dari FK. Ketika saya sudah tidak
lagi di Forum PBS terus melakukan fitnah itu. Pada
setiap rapat redaksi saya selalu dijadikan contoh
jelek dihadapan Iman, Hadi, Irawan, Robi, Asnah,
Adang, Widi, Tia, BS, dan lain-lain. Inikah sifat
seorang pemimpin? 
Sebenarnya Mas Budi dan yang lain tahu akal busuk dari
sang jendral, tetapi waktu itu belum cukup amunisi
untuk melawan. Akhirnya saya nekad melawan sendiri
dengan segala resiko. Dan, kini saatnya para wartawan
yang ditindas oleh wartawan itu melawan. Good Luck
untuk kalian semua. Berantas premanisme pers yang
dilakukan oleh alumni “TEMPE” yang enak dibacem dan
murah itu.




 
____________________________________________________________________________________
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know.
Ask your question on www.Answers.yahoo.com

Kirim email ke