'Tuh 'kan, meski pun Indonesia dalam keadaan kalah, tapi
perundingannya masih dinamakan KONPERENSI dan mejanya sengaja
dibikin BUNDAR menyatakan KESETARAAN peserta-pesertanya. Logikanya
Indonesia mesti berterima kasih mendapat perlakuan sejajar seperti
itu, bukan?

Yang penting buat Indonesia dulu, sekarang dan di masa depan, adalah
memperkuat diri sendiri. Hanya bila diri sendiri kuat maka pihak
asing (siapa pun juga) tidak bisa mendikte Indonesia. Untuk kuat,
Indonesia mesti ber-total Football. Untuk ber-Total Football
Indonesia mesti bersemangat silaturakhmi. Kalau gontok-gontokan
terus sendiri seperti sekarang 'mah mana bisa kuat atuh?
Haiyaaa ..... :-(.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland


--- In [email protected], "Sunny" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Membandingkan perundingan Indonesia-Belanda  untuk kemerdekaan
Indonesia dengan perundingan Vietnam-USA atau Algeria-Perancis, saya
kira ada perbedaan besar. Vietnam dan Algeria berada pada
perundingan sebagai pemenang perang pembebasab melawan kolonialisme.
Mereka berunding dengan kekuatan dan oleh karena tidak didekte
syarat-syarat USA maupun Perancis, seperti halnya Belanda mendikte
Indonesia.
>
> Perlu diperhatikan bahwa Indonesia dari segi kekuatan militer
lemah, karena sudah kalah. Buktinya Jokya sebagai ibukota Republik
jatuh dan dikuasai oleh Belanda. Presiden Soekarno
menyerah/ditangkap oleh tentara Belanda dan dipenjarakan.
>
> Tetapi, sekalipun demikian dari segi politik belum Indonesia belum
kalah berkat adanya dukungan luarnegeri, yang terutama sekali dari
negeri-negeri sosialis [komunis] di forum-forum internasional.
Munculnya Republik Rakyat Tiongkok pada 1 Oktober 1949 menambah lagi
kekuatan anggota klub negara sosialis. Negera-negara ini sudah pada
prinsipnya mengakui kedaulatan Indonesia. Polandia dibawah
pemerintahan komunis pada tahun 1948 sudah mengakui Indonesia
sebagai negara merdeka.
>
> Satu hal yang juga tak boleh dilupakan ialah solidaritas
internasional dari berbagai organisasi-organisasi  "progresif"
diberbagai negeri termasuk organsasi sejenis di negeri-negeri
penjajah. Contoh yang paling jelas ialah: Partai Komunis Belanda
[CPN] sejak permulaan abad XX sudah mendukung Indonesia bebas dari
kolonialisme Belanda. Semboyan mereka  adalah: "Indie moet  vrij "
[Indonesia harus bebas]. Koran mereka De Warheid selalu ada saja
informasi tentang perjuangan hak-hak rakyat Indonesia.
>
> Selain itu perlu juga dicatat naiknya bintang USA sebagai negara
besar pemenang perang dunia II dalam arena politik dunia.  Dalam
majalah mingguan Belanda, Vrij Nederland, pernah ada artikel yang
ditulis oleh salah seorang peserta delegasi Belanda dalam
perundingan dengan Indonesia, dia menulis  bahwa State Department
menelepon Kementrian Luar negeri Belanda dengan menekan untuk supaya
Belanda segera mengakui kemerdekaan Indonesia [saya hilang clipping
majalah tsb waktu pindah sana sini].
>
> Barangkali tidak keliru bila dikatakan bahwa Indonesia datang ke
perundingan untuk diakui kemerdekaannya bukan atas dasar kemenangan
kekuatan militernya dalam perang pemebebasan seperti halnya dengan
Algeria atau Vietnam, maka oleh karena itu tidak mampu menolak
antara lain: pembayaran hutang-piutang pemerintah Hindia Belanda
sebesar 6 milyar gulden dan mengakui menjadi Republik Indonesia
Serikat.
>
> Bagaimana komentar pakar sejarah terhadap coretan ini?

Kirim email ke