Segarkan Politik Ibukota Jakarta
   
  Mencermati peristiwa alam berupa hujan deras seputar lebih daripada 12 jam 
terus menerus tanpa henti dari Kamis sore 1 Pebruari 2007 sampai dengan Jumat 
pagi 2 Pebruari 2007 yang kemudian berdampak banjir lokalan yang mendera 
Jakarta, pertanda sudah saatnya Politik Ibukota Jakarta perlu disikapi ulang. 
Apalagi bilamana kondisi paling ekstrem terjadi, yakni secara bersamaan waktu 
terjadi hujan lokalan di Jakarta disertai banjir kiriman dari hulu Jakarta dan 
laut pasang di hilir Jakarta.
  Peristiwa alam yang berulang seharusnya dapat diperhitungkan apalagi kini 
telah dikenali adanya ilmu pengetahuan praktis tentang pengamatan siklus 
semisal 5 (lima) tahunan bahkan 25 (dua puluh lima) tahunan dsb, belum lagi 
praktek penginderaan jarak jauh oleh satelit. Dengan kata lain, alam yang 
berulah, manusia yang berakal adalah layak berupaya menangkal ulah alam itu, 
terlepas bahwa ulah alam itu juga seringkali dianggap sebagai dampak ulah 
manusia pula.
  Dipahami, wilayah DKI Jakarta itu 40% berpermukaan dibawah muka air pasang 
laut, yakni yang kini dikenali sebagai Kota Jakarta Utara dan Kota Jakarta 
Pusat. Oleh karena itulah sejak era Batavia sudah ada rekayasa Banjir Kanal 
Barat. Artinya, secara alamiah, situasi dan kondisi objektif itu tidaklah mudah 
dihindari atau diabaikan, apalagi koefisien resapan air juga semakin mengecil 
sebagai konsekwensi akumulasi pembangun-an sarana dan prasarana kota guna 
menampung sejumlah kegiatan warga kota Jakarta.
  Dengan demikian, dapat dirunut, bahwa intensitas kegiatan warga kota Jakarta 
itulah yang menjadi akar masalah penurunan koefisien resapan air, karena untuk 
keperluan mendukung kegiatan2 itu, didirikan berbagai bangunan gedung dan jalan 
yang ujung2nya menutupi lebih rapat permukaan2 terbuka bagi resapan air.
  Oleh karena itulah, kedepan perlu dipikirkan terapan koefisien resapan air 
lebih besar di Kota-kota Jakarta Utara dan Jakarta Pusat dibandingkan di 
Kota-kota Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta Selatan. Upaya ini tampaknya 
tidak cukup dengan membangun sejumlah sumur resapan ataupun ruang2 terbuka 
seperti Lapangan MoNas, Lapangan Banteng dlsb, tetapi juga menurunkan tingkat 
kegiatan warga kota di Kota Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Untuk upaya yang 
terakhir inilah, maka Politik Ibukota Jakarta perlu disegarkan kembali, 
misalnya dengan mengurangi peran dan fungsi. Artinya perlu pergeseran, misalnya 
memberdayakan gagasan Megapolitan dengan orientasi berbagai peran dan fungsi 
yang kini ditanggung oleh Kota Jakarta Utara dan Kota Jakarta Pusat dialihkan 
ke wilayah2 BoTaBek. Mungkin, perkiraan ini masih terlalu awal, Kota Jakarta 
Utara berorientasi Kota Pelabuhan Laut Interinsuler dan Kota Jakarta Pusat 
berorientasi Kota Pemerintahan Republik Indonesia. Boleh jadi,
 kantor pusat DKI Jakarta direlokasikan ke wilayah BoTaBek, termasuk kantor2 
pusat Perbankan Nasional dan Asing. Lebih ekstrem lagi, Istana Negara dan 
Istana Merdeka dijadikan museum nasional saja, karena berbagai identitas Kota 
Jakarta Utara dan Kota Jakarta Pusat sebagai pertanda peradaban nasional perlu 
dilestarikan guna nation state & character building. Ini baru semisalnya, lebih 
baiknya lagi ya dilakukan satu kaji kelayakan nasional secara terpadu. 
Bagaimanapun, besaran daripada kerugian materiil dan immaterial akibat banjir 
kali ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, bukan ? Nah, inilah yang semoga juga 
menjadi Pekerjaan Rumah bagi para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI 
Jakarta yang akan datang. Kapasitas pimpinan puncak daerah di DKI Jakarta 
kedepan tidaklah cukup sosok yang berciri solidarity maker dan politisi yang 
handal semata namun juga yang berkemampuan dan berwawasan teknis teknologi 
karena memiliki disiplin yang melekat juga tentang teknis teknologi
 yang memadai, terutama menyangkut Pembangunan Tata Ruang Lingkungan Kota Yang 
Berkelanjutan. Artinya, yang bersangkutan kelak secara operasional dapat saja 
didukung oleh pembantu2nya yang antara lain menguasai praktek solidarity making 
dan kinerja lazimnya politisi yang handal. Yang penting Jakarta jadi Kota Hijau 
Berkelanjutan.
  Perlu dicatat juga, bahwa penurunan tingkat intensitas kegiatan2 warga kota 
juga berarti penurunan tingkat intensitas tranportasi darat yang pada 
gilirannya mengurangi akumulasi kemacetan lalulintas kota, karena kalau tidak 
maka solusi memperbanyak busway, monorail dan subway, ujung2nya juga sia2 saja 
sebab belum tentu mampu mengatasi peningkatan intensitas kegiatan warga kota 
multi peran dan multi fungsi yang sekarang tidak terbatas ini di kemudian hari. 
Yang penting Jakarta juga jadi Bebas Polusi.
  Sebagai urun rembug, semoga lontaran pemikiran ini dapat mengundang berbagai 
tanggapan yang konstruktif bagi perlindungan dan pengamanan kota Jakarta 
sendiri yang telah melegenda sejak bernama Nusakalapa, Sundakelapa, Jayakarta 
dan Batavia, dari ancaman, gangguan, hambatan dan tantangan berupa bencana2 
terutama berasal-usul alam yang bagaimanapun tidak terhindarkan apalagi 
destruktif.
  Akhirulkata, bersahabat dengan alam itu juga adalah sikap politik yang 
konstruktif.
  Jakarta, 4 Pebruari 2007
  Ikatan Cendekiawan Demokrat Indonesia 45,
  Pandji R. Hadinoto / SekJen. eMail : [EMAIL PROTECTED] 
   

 
---------------------------------
Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful email and get 
things done faster.

Kirim email ke