Kali ini saya acungkan dua jempol tangan kepada pak Panji. Di 
tulisan pak Panji di bawah ini tidak lagi saya temui slogan 
Pancasila, UUD RI dan NKRI. Pak Panji a.n. Ikatan Cendekiawan 
Demokrat Indonesia 45 di bawah ini telah mengulas problematik banjir 
di Jakarta secara profesional dan realistis. Bila pak Panji tokh 
masih menyinggung topik politik di akhir tulisannya, singgungan itu 
pun manis sekali bunyinya "Akhirulkata, bersahabat dengan alam itu 
juga adalah sikap politik yang konstruktif."

Betul pak Panji cs, manusia amat kecil dibanding alam. Manusia tidak 
bisa menundukkan alam tapi bisa mengenali sifat-sifat alam dan 
mengendalikannya, alias bersahabat dengannya. Pemerintah kolonial 
Belanda pun telah bersahabat dengan air di Jakarta, dan 
kesimpulannya perlu dibangun sistim drainase di sekitar Menteng dan 
Kemayoran waktu itu, serta Banjir Kanal I & II. Maka sampai sekarang 
daerah paling akhir yang akan terendam air di Jakarta (bila Jakarta 
seandainya tenggelam total) adalah daerah Menteng dan Kemayoran itu. 
Selebihnya pemerintah kolonial Belanda waktu itu menjadikan daerah 
Jakarta Selatan sebagai bumper, apabila ada banjir kiriman dari 
Bogor dan sekitarnya. Tanah Jakarta Selatan yang gembur subur itu 
amat cepat menyerap air. Namun tanah reserve banjir Jakarta Selatan 
itu kini telah habis ditutup hotel, mall, rumah villa, aspal, maka 
banjir kiriman dari Bogor dan sekitarnya kini menyelonong langsung 
ke pusat Jakarta. Orang Belanda bilang "eigen schuld, dikke bult" 
(benjol besar karena salah sendiri).

Semoga DPRD Jakarta memfokuskan diri pada problematik banjir di 
Jakarta ini, alias betul-betul memilih gubernur/wakilnya yang punya 
program solusi menanggulangi air. Kasihan rakyat akar rumput yang 
lagi-lagi menderita. Rumah-rumah orang kaya sih telah 
diuruk/ditinggikan 3 meter di atas aspal, jadi meski pun Jakarta 
banjir jir jir jir, mereka tetap bisa enak-enakan nonton TV di 
rumahnya.

Salam prihatin, Danny Lim, Nederland


--- In [email protected], "Pandji R. Hadinoto" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Segarkan Politik Ibukota Jakarta
>    
>   Mencermati peristiwa alam berupa hujan deras seputar lebih 
daripada 12 jam terus menerus tanpa henti dari Kamis sore 1 Pebruari 
2007 sampai dengan Jumat pagi 2 Pebruari 2007 yang kemudian 
berdampak banjir lokalan yang mendera Jakarta, pertanda sudah 
saatnya Politik Ibukota Jakarta perlu disikapi ulang. Apalagi 
bilamana kondisi paling ekstrem terjadi, yakni secara bersamaan 
waktu terjadi hujan lokalan di Jakarta disertai banjir kiriman dari 
hulu Jakarta dan laut pasang di hilir Jakarta.
>   Peristiwa alam yang berulang seharusnya dapat diperhitungkan 
apalagi kini telah dikenali adanya ilmu pengetahuan praktis tentang 
pengamatan siklus semisal 5 (lima) tahunan bahkan 25 (dua puluh 
lima) tahunan dsb, belum lagi praktek penginderaan jarak jauh oleh 
satelit. Dengan kata lain, alam yang berulah, manusia yang berakal 
adalah layak berupaya menangkal ulah alam itu, terlepas bahwa ulah 
alam itu juga seringkali dianggap sebagai dampak ulah manusia pula.
>   Dipahami, wilayah DKI Jakarta itu 40% berpermukaan dibawah muka 
air pasang laut, yakni yang kini dikenali sebagai Kota Jakarta Utara 
dan Kota Jakarta Pusat. Oleh karena itulah sejak era Batavia sudah 
ada rekayasa Banjir Kanal Barat. Artinya, secara alamiah, situasi 
dan kondisi objektif itu tidaklah mudah dihindari atau diabaikan, 
apalagi koefisien resapan air juga semakin mengecil sebagai 
konsekwensi akumulasi pembangun-an sarana dan prasarana kota guna 
menampung sejumlah kegiatan warga kota Jakarta.
>   Dengan demikian, dapat dirunut, bahwa intensitas kegiatan warga 
kota Jakarta itulah yang menjadi akar masalah penurunan koefisien 
resapan air, karena untuk keperluan mendukung kegiatan2 itu, 
didirikan berbagai bangunan gedung dan jalan yang ujung2nya menutupi 
lebih rapat permukaan2 terbuka bagi resapan air.
>   Oleh karena itulah, kedepan perlu dipikirkan terapan koefisien 
resapan air lebih besar di Kota-kota Jakarta Utara dan Jakarta Pusat 
dibandingkan di Kota-kota Jakarta Barat, Jakarta Timur dan Jakarta 
Selatan. Upaya ini tampaknya tidak cukup dengan membangun sejumlah 
sumur resapan ataupun ruang2 terbuka seperti Lapangan MoNas, 
Lapangan Banteng dlsb, tetapi juga menurunkan tingkat kegiatan warga 
kota di Kota Jakarta Utara dan Jakarta Pusat. Untuk upaya yang 
terakhir inilah, maka Politik Ibukota Jakarta perlu disegarkan 
kembali, misalnya dengan mengurangi peran dan fungsi. Artinya perlu 
pergeseran, misalnya memberdayakan gagasan Megapolitan dengan 
orientasi berbagai peran dan fungsi yang kini ditanggung oleh Kota 
Jakarta Utara dan Kota Jakarta Pusat dialihkan ke wilayah2 BoTaBek. 
Mungkin, perkiraan ini masih terlalu awal, Kota Jakarta Utara 
berorientasi Kota Pelabuhan Laut Interinsuler dan Kota Jakarta Pusat 
berorientasi Kota Pemerintahan Republik Indonesia. Boleh jadi,
>  kantor pusat DKI Jakarta direlokasikan ke wilayah BoTaBek, 
termasuk kantor2 pusat Perbankan Nasional dan Asing. Lebih ekstrem 
lagi, Istana Negara dan Istana Merdeka dijadikan museum nasional 
saja, karena berbagai identitas Kota Jakarta Utara dan Kota Jakarta 
Pusat sebagai pertanda peradaban nasional perlu dilestarikan guna 
nation state & character building. Ini baru semisalnya, lebih 
baiknya lagi ya dilakukan satu kaji kelayakan nasional secara 
terpadu. Bagaimanapun, besaran daripada kerugian materiil dan 
immaterial akibat banjir kali ini sudah tidak bisa ditolerir lagi, 
bukan ? Nah, inilah yang semoga juga menjadi Pekerjaan Rumah bagi 
para kandidat Gubernur dan Wakil Gubernur DKI Jakarta yang akan 
datang. Kapasitas pimpinan puncak daerah di DKI Jakarta kedepan 
tidaklah cukup sosok yang berciri solidarity maker dan politisi yang 
handal semata namun juga yang berkemampuan dan berwawasan teknis 
teknologi karena memiliki disiplin yang melekat juga tentang teknis 
teknologi
>  yang memadai, terutama menyangkut Pembangunan Tata Ruang 
Lingkungan Kota Yang Berkelanjutan. Artinya, yang bersangkutan kelak 
secara operasional dapat saja didukung oleh pembantu2nya yang antara 
lain menguasai praktek solidarity making dan kinerja lazimnya 
politisi yang handal. Yang penting Jakarta jadi Kota Hijau 
Berkelanjutan.
>   Perlu dicatat juga, bahwa penurunan tingkat intensitas kegiatan2 
warga kota juga berarti penurunan tingkat intensitas tranportasi 
darat yang pada gilirannya mengurangi akumulasi kemacetan lalulintas 
kota, karena kalau tidak maka solusi memperbanyak busway, monorail 
dan subway, ujung2nya juga sia2 saja sebab belum tentu mampu 
mengatasi peningkatan intensitas kegiatan warga kota multi peran dan 
multi fungsi yang sekarang tidak terbatas ini di kemudian hari. Yang 
penting Jakarta juga jadi Bebas Polusi.
>   Sebagai urun rembug, semoga lontaran pemikiran ini dapat 
mengundang berbagai tanggapan yang konstruktif bagi perlindungan dan 
pengamanan kota Jakarta sendiri yang telah melegenda sejak bernama 
Nusakalapa, Sundakelapa, Jayakarta dan Batavia, dari ancaman, 
gangguan, hambatan dan tantangan berupa bencana2 terutama berasal-
usul alam yang bagaimanapun tidak terhindarkan apalagi destruktif.
>   Akhirulkata, bersahabat dengan alam itu juga adalah sikap 
politik yang konstruktif.
>   Jakarta, 4 Pebruari 2007
>   Ikatan Cendekiawan Demokrat Indonesia 45,
>   Pandji R. Hadinoto / SekJen. eMail : [EMAIL PROTECTED] 
>    
> 
>  
> ---------------------------------
> Check out the all-new Yahoo! Mail beta - Fire up a more powerful 
email and get things done faster.
>


Kirim email ke