CENDRAWASIH POS

Senin, 05 Februari 2007

Bos DPO Poso Dibawa Jakarta 

*Termasuk 17 Tersangka Pembunuhan Untuk Solidaritas Tibo 

JAKARTA -Agar proses penindakan hukum tidak menimbulkan kericuhan, kemarin Bos 
Buron Poso yang diduga sebagai pelaku berbagai aksi kekerasan di Poso, Basri 
beserta lima rekannya dibawa ke Jakarta. Dengan pesawat Polisi jenis F-50, 
mereka mendarat di bandar udara Halim Perdana Kusuma pukul 13.56, setelah 
sebelumnya sempat transit di Palangkaraya, Kalimantan Tengah. Jadwal kedatangan 
para tersangka tersebut molor dari jadwal semula yang diperkirakan pada pukul 
11.00 WIT. 

Selain Basri Cs, dalam pesawat yang sama juga diangkut 17 orang tersangka 
pembunuhan terhadap dua warga Masamba Desa Pongge'e, Kecamatan Pamoan Timur 
Arham Badarudin dan Wandi. Dua pedagang ikan itu dibunuh sebagai bentuk 
solidaritas terhadap eksekusi Tibo Cs. Dalam proses evakuasi yang berlangsung 
cepat, kedua kelompok tersangka itu dibawa menggunakan bus polisi secara 
terpisah dengan tujuan berbeda. Kelompok Basri Cs diangkut dengan menggunakan 
Bus KIA warna perak bernomor polisi 1086-VII ke Rutan Mabes Polri, sedangkan 17 
tersangka lainnya diangkut oleh Bus Mitsubishi hijau bernomor polisi 1032-VIII 
ke Rutan Narkotika Polda Metro Jaya dan ditahan secara terpisah agar pengakuan 
satu sama lain tidak sama. 

Sedangkan satu mobil tahanan dipergunakan untuk mengangkut barang bukti dan 
berkas perkara. Pengamanan terhadap para tersangka dilakukan secara ketat oleh 
polisi berpakaian preman yang juga masuk dalam bus tahanan. Ketika berada di 
dalam bus tahanan, tidak ada raut muka tegang di wajah Basri. Buron yang 
ditangkap oleh Densus 88 Anti Teror Mabes Polri pada Kamis (1/2) lalu, masih 
sempat menyunggingkan senyum tipis kepada para wartawan yang melihatnya dari 
jendela bis. Pria berambut keriting dan berkaus putih itu tampak tenang duduk 
di belakang supir. 

Sementara itu, rekannya Abdul Muis yang berstelan hitam justru menampakan raut 
muka tegang. Namun ada yang berbeda pada tersangka eksekutor penembakan Pendeta 
Irianto Kongkoli pada 25 Oktober 2006. Rambut pria berkaca mata itu tampak 
lebih pendek daripada ketika ditangkap pada 11 Januari 2007. Menurut Wakadiv 
Humas Polri Anto Bachrul Alam, 23 tersangka yang dibawa ke Jakarta bukannya 
tanpa alasan. Polri bermaksud melakukan pemeriksaan lebih dalam lagi kepada 
para tersangka, terutama agar kondisi keamanan di Poso, yang saat ini relatif 
aman, tidak terpengaruh. "Kita berharap masyarakat di Poso tidak terpecah 
perhatian dengan penanganan kasus ini," tambahnya. 

Penanganan kasus Basri Cs dan kasus 17 tersangka tersebut dipindahkan juga agar 
tidak ada kesan diskriminatif. "Agar berimbang juga. Kasus Hasanudin (tersangka 
mutilasi tiga siswi di Poso, Red) juga disidang di Jakarta. Jadi kita netral, 
tidak ada diskriminasi," tambah pria yang saat itu memakai seragam polisi 
tersebut. Khusus untuk kasus pembunuhan dua nelayan muslim, sudah turun fatwa 
Mahkamah Agung bahwa persidangan kasus tersebut akan dilangsungkan di 
Pengadilan Negeri Jakarta Selatan. "Berkas perkara segera kita serahkan ke 
Kejaksaan," tambahnya. 

Keberadaan Basri Cs dalam pesawat berwarna biru dan putih tersebut merupakan 
"kejutan" bagi para wartawan, karena sebelumnya hanya diinformasikan bahwa yang 
dibawa ke Jakarta kemarin hanya 17 tersangka, tidak bersama Basri Cs. Kepastian 
bahwa Basri Cs ada di dalam pesawat baru diketahui sesaat setelah pesawat 
berhenti di landasan. Kapolda Sulawesi Tengah Brigjen Pol. Badrodin Haiti yang 
kemarin ikut bersama rombongan tersangka menolak anggapan bahwa dipindahkannya 
para tersangka dari Sulteng adalah imbas dari kondisi daerah tersebut yang 
belum kondusif.

 "Bukan karena kondisi Poso belum kondusif, sekarang Anda bisa masuk kemana 
saja aman. Mereka dibawa ke Jakarta untuk pengembangan kasus, ada beberapa 
kasus yang harus dibuktikan di Jakarta," tambahnya. Untuk kasus Basri, pria 
yang saat itu memakai T-shirt hijau tersebut mengungkapkan pihaknya berharap 
pengadilan kasus itu bisa dilangsungkan di Poso. "Tapi kalau tidak mungkin ya 
kita sidang disini," tambah pria berkaca mata hitam tersebut. Basri sudah 
mengakui 17 kasus dari 32 kasus yang disangkakan kepadanya antara lain kasus 
mutilasi dan Bom Tentena. Soal motif Basri, tambahnya, lebih dikernakan dendam 
dan sakit hati karena banyak keluarga yang menjadi korban kerusuhan di Poso. 

Pihak keamanan Poso saat ini sedang melakukan operasi penegakan hukum dan 
rehabilitasi pasca konflik seperti penanganan pengungsi, rehabilitasi sosial, 
mental, dan fisik. "Juga dikembalikan hak peribadatan, jadi tidak ada masalah," 
tambahnya. Operasi penangkapan DPO juga tetap dilakukan. Saat ini kepolisian 
sedang mengejar sekitar 11 sampai 12 orang DPO yang belum tertangkap. (ein/nue)

Kirim email ke