http://www.hariansib.com/index.php?option=com_content&task=view&id=22338&Itemid=36
Banjir, Salah Siapa?
Written by Redaksi
Feb 03, 2007 at 09:00 AM
Ibukota RI, Jakarta terendam banjir. Itu adalah berita besar yang
terpampang di hampir seluruh media.
Banjir, memang melumpuhkan Jakarta, menenggelamkan rumah warga dan
menyebabkan ribuan warga mengungsi. Sungguh menyedihkan bahwa simbol negara
kita bagaikan tercekam dalam penderitaan. Kereta api lumpuh. Sarana
transportasi macet total.
Ada apa dengan banjir? Sungguh amat disayangkan bahwa kita sebagai warga
negara tak pernah belajar dari pengalaman. Beberapa tahun lalu, Jakarta pernah
mengalami hal yang sama. Jakarta dan sekitarnya terendam oleh banjir besar
selama seminggu. Kemacetan dan kelumpuhan multisektor terjadi.
Bertahun-tahun kemudian Jakarta dilanda oleh banjir secara sporadis.
Hingga kini banjir kemudian terjadi lagi. Tinggi banjir yang bahkan mencapai 3
meter telah menyebabkan kota Jakarta dan sekitarnya bagaikan lautan air. Danau
besar terbentuk di mana-mana dan lautan manusia yang menderita juga bertambah.
Persoalan ini memang persoalan klasik. Sayangnya, antisipasi tidak pernah
datang. Penataan banjir bagaikan persoalan kecil dibandingkan dengan
pengembangan perumahan, pembangunan koridor baru busway atau menjelang pilkada
di jantung Indonesia itu. Padahal, seandainya bisa menjadi barometer, gagalnya
antisipasi banjir di sana adalah sebuah kegagalan dalam menunjukkan keseriusan
membangun yang dimulai dari pemerintah pusat sendiri.
Banjir dalam skala besar tidak mungkin terjadi jika tidak ada kerusakan
besar. Itu adalah kenyataan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh kita
semua. Kerusakan besar memang terjadi di mana-mana, terutama di Jakarta. Daerah
penyangga tidak cukup kuat untuk menjadi daerah resapan dan penahan luapan air.
Daerah itu telah diubah menjadi bangunan tinggi dan kuat.
Semua yang bisa dikonvensi akan dikonvensi, atas nama pembangunan memang
menjadi sebuah kalimat yang selalu diamini oleh pelaksana pembangunan. Bukan
saja di Jakarta, di hampir semua kota besar, lahan kosong, pepohonan hijau,
bahkan pinggiran sungai, dijadikan objek pembangunan. Dibangunlah di atasnya
pemukiman, mall, pusat bisnis dan lain sebagainya, yang memang secara ekonomis
amat menguntungkan.
Tetapi yang terjadi memang sebuah pertukaran yang tidak selamanya
menguntungkan. Alam punya batas toleransi sendiri. Maka kerugian yang diberikan
pada manusia diganti dengan meluapnya air dimana-mana ketika musim penghujan
datang. Maka fenomena yang kita saksikan adalah alam membuktikan kekuatannya.
Kita teringat dengan puisi yang berasal dari suku kuno di pedalaman
Amerika Latin. Mereka menyatakan, "pepohonan jangan ditebang, karena pohon
berdiri di atas debu nenek moyang". Itu adalah ekspresi kehidupan yang di era
modern semakin langka maknanya. Kebalikannya justru terjadi. Pohon dianggap
gangguan dan tidak perlu sama sekali. Bahkan jika mau, pohon kemudian
diciptakan manusia dalam bentuk pajangan.
Manusia merusak alam, maka alampun membalaskan sakitnya dirusak. Itulah
yang kemudian terjadi ketika banjir ini terjadi. Entah untuk kesekian kalinya
alam menyatakan hal ini dan entah untuk sampai kapan, kebijakan pembangunan
akan lebih berpihak kepada upaya memperbaiki lingkungan. Akan tetapi dilihat
dari sudut pandang manapun, banjir yang terjadi di Jakarta, sebagai pusat
pemerintahan, pusat bisnis dan pusat sosial-ekonomi masyarakat Indonesia,
adalah masalah kita bersama. Sebuah iklan punya jargon," tanya kenapa". Kita,
seharusnya tak perlu bertanya-tanya mengenai banjir yang terjadi ini. Tidak
perlu, "kenapa tanya". Yang perlu adalah melakukan sesuatu untuk mencegah
terulangnya banjir ini di masa depan. (***)