SUARA MERDEKA
Senin, 05 Februari 2007

"Negara Gagal, Masyarakat Harus Bangkit "

SEMARANG- Masyarakat Indonesia harus bangkit menolong diri sendiri. Negara 
tidak lagi bisa diharapkan untuk menyejahterakan rakyatnya, karena beban yang 
terlalu besar.

''Negara kita makin lumpuh akibat terlalu banyak beban. Tanpa formula 
penyelesaian yang tepat, dalam beberapa tahun ke depan kita akan kolaps. 
Indonesia akan terhindar dari kehancuran kalau masyarakat mampu bangkit untuk 
menolong diri sendiri,'' kata pakar pemerintahan Prof Dr M Ryaas Rasyid MA di 
Semarang, Sabtu (3/2) malam.

Dia berbicara selaku ketua umum Perhimpunan Keluarga Besar Pelajar Islam 
Indonesia (Perhimpunan KB PII) Pusat di depan peserta Muswil III Perhimpunan KB 
PII Jateng di Hotel New Metro. Dikatakan, beban negara di saat krisis sekarang 
menjadi terlalu besar karena selama ini sektor negara terlalu dominan.

''Semua tergantung pada negara, masyarakat tidak punya inisiatif, sehingga 
negara makin lumpuh ketika banyak masalah yang harus diselesaikan,'' kata 
mantan Menteri Negara Otonomi Daerah itu.

Ketua Asosiasi Ilmu Pemerintahan Indonesia (AIPI) itu menyebutkan ciri-ciri 
negara yang mendekati kegagalan. 

Yaitu kekayaan sumber daya (resources) yang tidak terkelola dengan baik, 
program-program pemerintah yang salah sasaran, dan birokrasi yang terlalu gemuk 
sehingga tidak lincah bergerak untuk mengatasi masalah.

Problem terbesar Indonesia dalam jangka pendek, lanjutnya, adalah besarnya 
jumlah rakyat miskin yang mencapai 100,6 juta jiwa atau hampir separo dari 
jumlah penduduk. 

Lalu, jumlah penganggur mencapai 20 juta. Sementara kebijakan negara bergerak 
seperti tanpa arah, investasi rendah, dan sektor manufaktur mandek. 

Beban negara menjadi semakin berat dengan fakta tingkat pendidikan sebagian 
besar penduduk Indonesia (60 persen) yang hanya tamat SD. 

Akibatnya Indonesia sudah mulai tertinggal dengan Malaysia dan Filipina. 

Untuk mengatasinya, katanya, selain diperlukan formula solusi yang tepat dan 
''revolusi'' di bidang pendidikan, masyarakat juga harus mampu memobilisasikan 
dirinya agar bangkit. 

Hasil Muswil 

Ia meminta para anggota ormas yang dipimpinnya ikut mendorong kebangkitan 
masyarakat dan tetap mengkritisi kebijakan-kebijakan pemerintah. 

Muswil yang sekaligus reuni para mantan aktivis PII itu berlangsung dua hari, 
3-4 Februari. Pada sidang pemilihan Minggu pagi kemarin, para utusan pengurus 
cabang se-Jateng secara aklamasi memilih H Ahmad Zaini Bisri SE sebagai ketua 
umum/ketua formatur Pengurus Wilayah Perhimpunan KB PII Jateng periode 
2007-2010. 

Wartawan Suara Merdeka itu menggantikan ketua lama Drs H Achmadi yang menolak 
untuk dicalonkan kembali.

Dalam tahap pencalonan sebenarnya muncul dua nama kandidat. Calon lain adalah 
Drs H Ahmad Fadlil Sumadi SH MHum. Namun pejabat di Mahkamah Konstitusi (MK) 
ini selain tidak berdomisili di Semarang, juga hanya diusulkan oleh satu cabang 
sehingga dinyatakan gugur.

Dalam pidatonya, Zaini Bisri mengajak jajaran KB PII Jateng agar berperan 
sebagai perekat umat Islam. Para eks aktivis PII, katanya, harus berdiri di 
tengah dan bergerak netral di antara kelompok-kelompok umat Islam. (H7,A11-60)

Kirim email ke