CENDRAWASIH POS Senin, 05 Februari 2007 Mengenal Tokoh-Tokoh Kunci "Penguasa" Tanah Runtuh, Poso
Demi Adik-adiknya, Sekolah Basri Tak Lulus SMP Tertangkapnya Basri alias Bagong, pentolan DPO yang dituding polisi menjadi aktor utama kasus kekerasan berbau SARA di Palu dan Poso, mengejutkan keluarga dan orang-orang dekatnya. Tak terkecuali ibunda Basri yang terpaksa mengungsi di rumah famili. BUDIYANTO-MURTALIB, Palu Saat ditemui Radar Sulteng (Grup Cenderawasih Pos), Ny Satinem, ibu kandung Basri, mengungsi di rumah saudaranya di Jl P. Taraka, Kelurahan Gebangrejo, Poso Kota. Wanita 55 tahun itu mengaku sangat terpukul ketika mendengar kabar anaknya ditangkap polisi. Apalagi, tuduhannya tidak main-main: terlibat berbagai kasus kerusuhan bernuansa SARA. Menurut informasi dari keluarga, Basri lahir di Poso pada 10 Agustus 1976. Dia hanya mengenyam pendidikan formal hingga kelas 3 SMPN I Poso. Itu pun tidak sampai lulus. Dia memilih berhenti sekolah karena melihat kondisi ekonomi orang tua yang tidak mampu. "Dia berhenti sekolah saat kelas 3 SMP. Dia memilih mengutamakan keempat adiknya agar bisa sekolah," kenang bibi Basri yang enggan disebutkan namanya. Menurut keluarganya, Basri tak pernah mengenyam sekolah khusus keagamaan. Sekolah dasar ditamatkan Basri di SD 27 Poso dan dilanjutkan di SMP I Poso. Menurut Satinem, Basri selalu hormat dan patuh kepada orang tua. Dia juga dikenal suka menolong orang lain. "Anak saya itu nggak pernah macem-macem. Tiap hari kerjanya di kebun, membantu bapaknya merawat tanaman. Dia juga suka tanam sayur. Kalau tiba waktu panen, saya yang jual di pasar," tuturnya. Dari bekerja membantu orang tua, Basri memperoleh setengah dari hasil kebun. "Kalau dia panen, saya yang jual. Hasilnya kami bagi dua. Basri setengah, orang tua setengah. Wong anak saya hidup dari hasil kebun yang tidak seberapa, kok diberitakan bisa beli senjata dan pelor. Saya kaget dan tidak percaya tuduhan itu," cerita Satinem, tak kuasa menahan lelehan air mata. Nenek tujuh cucu itu lantas menceritakan masa kecil Basri. Seperti anak-anak kecil seusianya, Basri biasa-biasa saja. Dia suka bermain dan bersenda gurau. Basri juga dikenal sebagai anak yang kalem. Yang lebih menonjol di antara rekan-rekannya, Basri suka menolong teman yang susah. Pengakuan ibu kandungnya itu dibenarkan Sriyani, 30, adik kandung Basri. "Kakak saya itu pendiam dan rajin membantu Bapak sama Mama di kebun. Saya tidak percaya mendengar kabar bahwa kakak saya berbuat jahat dan macam-macam," ungkapnya. Sriyani mengaku mendengar Basri sebagai DPO dari media massa. "Keluarga tahu, Basri jadi DPO dari televisi dan koran," kata ibu satu anak itu. Ditanya apa aktivitas Basri akhir-akhir ini, baik Satinem maupun Sriyani mengaku tidak tahu persis. "Sejak menikah pada 2000, Basri tinggal bersama mertuanya di Jl Pulau Jawa I. Yang kami tahu dia hanya bekerja di kebun dan rajin salat. Soal yang lain, kami tidak tahu. Tapi, kami tetap tidak percaya kalau Basri terlibat dalam tindakan kriminal," kata Satinem. Dari pernikahannya dengan Sunarni, Basri dikaruniai dua anak. Yakni, Annurul Fitra, 5, dan Safiana Jedda, 2. Basri adalah anak pertama dari lima bersaudara. Perilaku Basri yang suka menolong juga diakui para tetangganya. "Anaknya rajin dan suka menolong siapa saja. Bahkan, saat warga mengungsi karena ada kerusuhan, Basri membantu ngangkatin barang ke mobil," terang salah satu tetangga Basri yang tak mau namanya dikorankan. Bagaimana pengakuan Basri di depan wartawan di Polda Sulteng Jumat lalu bahwa keterlibatannya dalam berbagai kerusuhan itu karena disulut dendam setelah 26 orang keluarganya tewas dibantai? Peristiwa itu terjadi pada 2000 di wilayah Kilo Sembilan dan Buyung Katedo. Pengakuan Basri itu dibenarkan Satinem. "Benar, banyak sekali keluarga kami yang dibantai saat kerusuhan. Bahkan, jumlahnya lebih dari 26 orang (seperti disebut Basri dalam jumpa pers, Red)," ujarnya. "Saat pembantaian di Buyung Katedo, keluarga saya dari ayah Basri, banyak yang mati. Belum dari keluarga saya di Kilo Sembilan, tidak terhitung. Kalau digabung dan dihitung, saudara dan keluarga Basri yang dibantai lebih dari 26 orang," lanjutnya. Satinem meminta aparat kepolisian memperlakukan anaknya secara manusiawi. "Anakku dituduh macem-macem. Tapi, saya minta dia diperlakukan manusiawi, karena pengadilanlah yang akan menentukan benar atau tidaknya kasus yang dituduhkan," pinta Satinem. Selain itu, polisi diminta bersikap adil dalam penegakan hukum. "Jangan cuma umat Islam yang diuber-uber. Mengapa polisi tidak menangani pembantaian Buyung Katedo?" ujarnya dengan nada meninggi. "Saya tidak berharap apa-apa sama mereka (polisi). Kita semua akan mati dan di akhirat ada pengadilan yang lebih adil. Saya percaya Allah akan menunjukkan kebenaran yang sesungguhnya," paparnya. Bukan hanya orang tua Basri yang mengharapkan keadilan hukum. Tersangka sendiri saat dimintai keterangan di Mapolda mengakui berbagai kasus yang disangkakan. Namun, dia juga minta keadilan hukum atas pembantaian keluarga saat terjadi konflik 2000 lalu. Atas kejadian tersebut, Basri yang saat itu berusia sekitar 24 tahun menaruh dendam dan melakukan pembalasan. Niat Basri kian bulat setelah mendapat nasihat dari bapak-bapak yang disebutnya dari Pulau Jawa. Saat itulah Basri mengaku rajin bergabung dengan bapak-bapak itu. Yang jelas, Basri menilai perbuatannya selama ini merupakan bentuk jihad melawan kaum kafir, termasuk aparat kepolisian. Di hadapan Wakadiv Humas Mabes Polri Brigjen Pol Anton Bachrul Alam kemarin, Basri mengaku bertobat dan tidak akan mengulangi perbuatan tersebut. Dia berharap rekan-rekan DPO lainnya menyerah. Bahkan, bapak-bapak yang dari Jawa, kata Basri, diminta memberikan nasihat yang benar karena dinilai dapat merusak generasi muda Poso. "Saya minta bertobat karena apa yang kita lakukan selama ini banyak merugikan orang lain," katanya. Basri mengakui, pada kontak senjata dengan aparat 22 Januari lalu, dia sempat terkena tembakan di perut. Dia pun hendak menyerah. Namun, bapak-bapak dari Jawa mengharamkan. Sebenarnya, masih banyak yang hendak diungkap Basri. Namun, tim penyidik dari Densus 88 melarang. Basri langsung dibawa ke tempat pemeriksaan khusus
