Banjir terjadi karena kesalahan kita semua, tetapi yang lebih salah lagi adalah 
pemerintah yang mempunyai wewenang untuk mengatur segala sesuatunya di negeri 
ini.

Apa salahnya ? banyak dan banyak sekali antara lain tidak menjalankan 
undang-undang atau peraturan yang sudah dibuat. Malahan U2 atau peraturan yang 
dibuat sengaja dipakai untuk mendapatkan keuntungan pribadi ataupun golongan. 
Sehingga muncullah :
- hutan dibabat habis.
- pemukiman baru muncul di daerah resapan.
- pemukiman baru muncul tanpa adanya sumur resapan disetiap perumahan dan tidak 
adanya area resapan. 
- Saluran air disetiap perumahan, cenderung saluran irigasinya dibalutin dengan 
semen sampai dasar sehingga air yang masuk ke saluran tersebut dengan deras 
mengalir ke arah hilir tanpa ada yang meresap ke dalam tanah.
- Masyarakat dibiarkan membuang sampah seenaknya ke dalam saluran air atau 
sungai tanpa ada sanksi tegas dan jelas.
- Masyarakat dibiarkan membangun di atas dan dibantaran selokan air/sungai.
- Halaman bangunan kantor-mall-rumah dsbnya, disemen atau di aspal sehingga 
tidak memberi air untuk meresap ke dalam tanah.
- Dstnya.

Bagaimana untuk mengurangi banjir ?, terapkanlah semua U2 atau peraturan yang 
dibuat dengan tegas dan jelas tanpa pandang bulu. Dan pemerintah harus berani 
menerapkan sanksi atau hukuman terhadap pejabat atau aparat yang bermain mata 
begitu juga kepada masyarakat tanpa pandang bulu.

Ngak malu sama anak kecil yang berceloteh...., Belanda aja yang daratannya 
dibawah permukaan laut ngak pernah dengar tuh kebanjiran...!!!!!!.

JANGAN SALAHKAN ALAM, DAN JANGAN SALAHKAN BOGOR, maluuuuuu dong.... selalu 
nyari kambing hitam - kapan berubahnya !

Slm,
hr

----- Original Message ----
From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]>
To: [EMAIL PROTECTED]
Sent: Monday, February 5, 2007 6:26:02 AM
Subject: [mediacare] Banjir, Salah Siapa?

http://www.hariansi b.com/index. php?option= 
com_content&task=view&id=22338&Itemid=36
 
Banjir, Salah Siapa? 
Written by Redaksi    
 
 
Feb 03, 2007 at 09:00 AM 
Ibukota RI, Jakarta terendam banjir. Itu adalah berita besar yang terpampang di 
hampir seluruh media.
 Banjir, memang melumpuhkan Jakarta, menenggelamkan rumah warga dan menyebabkan 
ribuan warga mengungsi. Sungguh menyedihkan bahwa simbol negara kita bagaikan 
tercekam dalam penderitaan. Kereta api lumpuh. Sarana transportasi macet total.
Ada apa dengan banjir? Sungguh amat disayangkan bahwa kita sebagai warga negara 
tak pernah belajar dari pengalaman. Beberapa tahun lalu, Jakarta pernah 
mengalami hal yang sama. Jakarta dan sekitarnya terendam oleh banjir besar 
selama seminggu. Kemacetan dan kelumpuhan multisektor terjadi.

Bertahun-tahun kemudian Jakarta dilanda oleh banjir secara sporadis. Hingga 
kini banjir kemudian terjadi lagi. Tinggi banjir yang bahkan mencapai 3 meter 
telah menyebabkan kota Jakarta dan sekitarnya bagaikan lautan air. Danau besar 
terbentuk di mana-mana dan lautan manusia yang menderita juga bertambah.

Persoalan ini memang persoalan klasik. Sayangnya, antisipasi tidak pernah 
datang. Penataan banjir bagaikan persoalan kecil dibandingkan dengan 
pengembangan perumahan, pembangunan koridor baru busway atau menjelang pilkada 
di jantung Indonesia itu. Padahal, seandainya bisa menjadi barometer, gagalnya 
antisipasi banjir di sana adalah sebuah kegagalan dalam menunjukkan keseriusan 
membangun yang dimulai dari pemerintah pusat sendiri.

Banjir dalam skala besar tidak mungkin terjadi jika tidak ada kerusakan besar. 
Itu adalah kenyataan yang sangat penting untuk diperhatikan oleh kita semua. 
Kerusakan besar memang terjadi di mana-mana, terutama di Jakarta. Daerah 
penyangga tidak cukup kuat untuk menjadi daerah resapan dan penahan luapan air. 
Daerah itu telah diubah menjadi bangunan tinggi dan kuat.
Semua yang bisa dikonvensi akan dikonvensi, atas nama pembangunan memang 
menjadi sebuah kalimat yang selalu diamini oleh pelaksana pembangunan. Bukan 
saja di Jakarta, di hampir semua kota besar, lahan kosong, pepohonan hijau, 
bahkan pinggiran sungai, dijadikan objek pembangunan. Dibangunlah di atasnya 
pemukiman, mall, pusat bisnis dan lain sebagainya, yang memang secara ekonomis 
amat menguntungkan.

Tetapi yang terjadi memang sebuah pertukaran yang tidak selamanya 
menguntungkan. Alam punya batas toleransi sendiri. Maka kerugian yang diberikan 
pada manusia diganti dengan meluapnya air dimana-mana ketika musim penghujan 
datang. Maka fenomena yang kita saksikan adalah alam membuktikan kekuatannya.

Kita teringat dengan puisi yang berasal dari suku kuno di pedalaman Amerika 
Latin. Mereka menyatakan, “pepohonan jangan ditebang, karena pohon berdiri di 
atas debu nenek moyang”. Itu adalah ekspresi kehidupan yang di era modern 
semakin langka maknanya. Kebalikannya justru terjadi. Pohon dianggap gangguan 
dan tidak perlu sama sekali. Bahkan jika mau, pohon kemudian diciptakan manusia 
dalam bentuk pajangan.

Manusia merusak alam, maka alampun membalaskan sakitnya dirusak. Itulah yang 
kemudian terjadi ketika banjir ini terjadi. Entah untuk kesekian kalinya alam 
menyatakan hal ini dan entah untuk sampai kapan, kebijakan pembangunan akan 
lebih berpihak kepada upaya memperbaiki lingkungan. Akan tetapi dilihat dari 
sudut pandang manapun, banjir yang terjadi di Jakarta, sebagai pusat 
pemerintahan, pusat bisnis dan pusat sosial-ekonomi masyarakat Indonesia, 
adalah masalah kita bersama. Sebuah iklan punya jargon,” tanya kenapa”. Kita, 
seharusnya tak perlu bertanya-tanya mengenai banjir yang terjadi ini. Tidak 
perlu, “kenapa tanya”. Yang perlu adalah melakukan sesuatu untuk mencegah 
terulangnya banjir ini di masa depan. (***)



Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke