Kita masih terbiasa dn selalu membiasakan salah menyalahkan yang lainm,kenapa sih masih suka memelihara polah pikir kekanak-kanakan? --- hendri ruslan <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> Banjir terjadi karena kesalahan kita semua, tetapi > yang lebih salah lagi adalah pemerintah yang > mempunyai wewenang untuk mengatur segala sesuatunya > di negeri ini. > > Apa salahnya ? banyak dan banyak sekali antara lain > tidak menjalankan undang-undang atau peraturan yang > sudah dibuat. Malahan U2 atau peraturan yang dibuat > sengaja dipakai untuk mendapatkan keuntungan pribadi > ataupun golongan. Sehingga muncullah : > - hutan dibabat habis. > - pemukiman baru muncul di daerah resapan. > - pemukiman baru muncul tanpa adanya sumur resapan > disetiap perumahan dan tidak adanya area resapan. > - Saluran air disetiap perumahan, cenderung saluran > irigasinya dibalutin dengan semen sampai dasar > sehingga air yang masuk ke saluran tersebut dengan > deras mengalir ke arah hilir tanpa ada yang meresap > ke dalam tanah. > - Masyarakat dibiarkan membuang sampah seenaknya ke > dalam saluran air atau sungai tanpa ada sanksi tegas > dan jelas. > - Masyarakat dibiarkan membangun di atas dan > dibantaran selokan air/sungai. > - Halaman bangunan kantor-mall-rumah dsbnya, disemen > atau di aspal sehingga tidak memberi air untuk > meresap ke dalam tanah. > - Dstnya. > > Bagaimana untuk mengurangi banjir ?, terapkanlah > semua U2 atau peraturan yang dibuat dengan tegas dan > jelas tanpa pandang bulu. Dan pemerintah harus > berani menerapkan sanksi atau hukuman terhadap > pejabat atau aparat yang bermain mata begitu juga > kepada masyarakat tanpa pandang bulu. > > Ngak malu sama anak kecil yang berceloteh...., > Belanda aja yang daratannya dibawah permukaan laut > ngak pernah dengar tuh kebanjiran...!!!!!!. > > JANGAN SALAHKAN ALAM, DAN JANGAN SALAHKAN BOGOR, > maluuuuuu dong.... selalu nyari kambing hitam - > kapan berubahnya ! > > Slm, > hr > > ----- Original Message ---- > From: Sunny <[EMAIL PROTECTED]> > To: [EMAIL PROTECTED] > Sent: Monday, February 5, 2007 6:26:02 AM > Subject: [mediacare] Banjir, Salah Siapa? > > http://www.hariansi b.com/index. php?option= > com_content&task=view&id=22338&Itemid=36 > > Banjir, Salah Siapa? > Written by Redaksi > > > Feb 03, 2007 at 09:00 AM > Ibukota RI, Jakarta terendam banjir. Itu adalah > berita besar yang terpampang di hampir seluruh > media. > Banjir, memang melumpuhkan Jakarta, menenggelamkan > rumah warga dan menyebabkan ribuan warga mengungsi. > Sungguh menyedihkan bahwa simbol negara kita > bagaikan tercekam dalam penderitaan. Kereta api > lumpuh. Sarana transportasi macet total. > Ada apa dengan banjir? Sungguh amat disayangkan > bahwa kita sebagai warga negara tak pernah belajar > dari pengalaman. Beberapa tahun lalu, Jakarta pernah > mengalami hal yang sama. Jakarta dan sekitarnya > terendam oleh banjir besar selama seminggu. > Kemacetan dan kelumpuhan multisektor terjadi. > > Bertahun-tahun kemudian Jakarta dilanda oleh banjir > secara sporadis. Hingga kini banjir kemudian terjadi > lagi. Tinggi banjir yang bahkan mencapai 3 meter > telah menyebabkan kota Jakarta dan sekitarnya > bagaikan lautan air. Danau besar terbentuk di > mana-mana dan lautan manusia yang menderita juga > bertambah. > > Persoalan ini memang persoalan klasik. Sayangnya, > antisipasi tidak pernah datang. Penataan banjir > bagaikan persoalan kecil dibandingkan dengan > pengembangan perumahan, pembangunan koridor baru > busway atau menjelang pilkada di jantung Indonesia > itu. Padahal, seandainya bisa menjadi barometer, > gagalnya antisipasi banjir di sana adalah sebuah > kegagalan dalam menunjukkan keseriusan membangun > yang dimulai dari pemerintah pusat sendiri. > > Banjir dalam skala besar tidak mungkin terjadi jika > tidak ada kerusakan besar. Itu adalah kenyataan yang > sangat penting untuk diperhatikan oleh kita semua. > Kerusakan besar memang terjadi di mana-mana, > terutama di Jakarta. Daerah penyangga tidak cukup > kuat untuk menjadi daerah resapan dan penahan luapan > air. Daerah itu telah diubah menjadi bangunan tinggi > dan kuat. > Semua yang bisa dikonvensi akan dikonvensi, atas > nama pembangunan memang menjadi sebuah kalimat yang > selalu diamini oleh pelaksana pembangunan. Bukan > saja di Jakarta, di hampir semua kota besar, lahan > kosong, pepohonan hijau, bahkan pinggiran sungai, > dijadikan objek pembangunan. Dibangunlah di atasnya > pemukiman, mall, pusat bisnis dan lain sebagainya, > yang memang secara ekonomis amat menguntungkan. > > Tetapi yang terjadi memang sebuah pertukaran yang > tidak selamanya menguntungkan. Alam punya batas > toleransi sendiri. Maka kerugian yang diberikan pada > manusia diganti dengan meluapnya air dimana-mana > ketika musim penghujan datang. Maka fenomena yang > kita saksikan adalah alam membuktikan kekuatannya. > > Kita teringat dengan puisi yang berasal dari suku > kuno di pedalaman Amerika Latin. Mereka menyatakan, > pepohonan jangan ditebang, karena pohon berdiri di > atas debu nenek moyang. Itu adalah ekspresi > kehidupan yang di era modern semakin langka > maknanya. Kebalikannya justru terjadi. Pohon > dianggap gangguan dan tidak perlu sama sekali. > Bahkan jika mau, pohon kemudian diciptakan manusia > dalam bentuk pajangan. > > Manusia merusak alam, maka alampun membalaskan > sakitnya dirusak. Itulah yang kemudian terjadi > ketika banjir ini terjadi. Entah untuk kesekian > kalinya alam menyatakan hal ini dan entah untuk > sampai kapan, kebijakan pembangunan akan lebih > berpihak kepada upaya memperbaiki lingkungan. Akan > tetapi dilihat dari sudut pandang manapun, banjir > yang terjadi di Jakarta, sebagai pusat pemerintahan, > pusat bisnis dan pusat sosial-ekonomi masyarakat > Indonesia, adalah masalah kita bersama. Sebuah iklan > punya jargon, tanya kenapa. Kita, seharusnya tak > perlu bertanya-tanya mengenai banjir yang terjadi > ini. Tidak perlu, kenapa tanya. Yang perlu adalah > melakukan sesuatu untuk mencegah terulangnya banjir > ini di masa depan. (***) > > > > Send instant messages to your online friends > http://uk.messenger.yahoo.com ____________________________________________________________________________________ Be a PS3 game guru. Get your game face on with the latest PS3 news and previews at Yahoo! Games. http://videogames.yahoo.com/platform?platform=120121
