Seminar Pembaruan Islam Dibanjiri Peserta
Senin, 05 Pebruari 2007 //Meski banjir melanda Jakarta, seminar "Evaluasi 37 Tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia" yang digelar tanggal 3 Februari 2007, dibanjiri oleh peserta// Hidayatullah.com--Di tengah kepungan banjir di wilayah Jakarta dan sekitarnya, ternyata Seminar "Evaluasi 37 Tahun Gerakan Pembaruan Islam di Indonesia" yang digelar 15 Muharram 1428 H/3 Februari 2007, dibanjiri oleh pesarta. Lebih dari 300 peserta memenuhi lantai dasar Gedung Menara Dakwah, Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia, Jalan Kramat Raya 45 Jakarta Pusat, tempat berlagsungnya acara. Semula, menurut Ketua Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia, Adian Husaini, acara itu nyaris dibatalkan, mengingat kondisi wilayah Jakarta dan sekitarnya yang dikepung banjir. Karena yang mendaftar sudah lebih dari 300 orang, panitia tetap bertekad melangsungkan acara tersebut, berapa pun yang hadir. Jika perlu, menurut Adian, acara itu dilakukan dua kali, untuk mengakomodasi peserta yang berhalangan hadir karena kondisi dan situasi yang serba sulit. Padahal peserta ditarik infak Rp 25.000 per orang. Sebagian besar peserta adalah mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi di Jakarta, aktivis dakwah, dan tokoh masyarakat. Namun tidak sedikit ibu-ibu yang hadir dalam acara tersebut. Ada juga lembaga dakwah dari Malaysia yang secara khusus mengirimkan utusannya untuk hadir dalam acara yang berlangsung mulai pukul 10.00-15.30 WIB. Untuk sampai ke tempat acara juga bukan hal yang mudah. Salah satu pemakalah, Dr. Mukhlis Hanafi, harus berjuang sekitar 5 jam, menghindari banjir, untuk sampai ke tempat bacara. Acara seminar ini diselenggarakan oleh Sekolah Tinggi Ilmu Dakwah (STID) Mohammad Natsir, yang bernaung di bawah Dewan Da'wah Islamiyah Indonesia (Dewan Da'wah). Acara dibuka oleh Ketua STID Ulil Amri, MA. Kemudian, dilanjutkan oleh pidato pembukaan oleh Ketua Dewan Da'wah Adian Husaini. Bertindak sebagai pemakalah adalah Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi (Direktur INSISTS), Adnin Armas MA (Direktur Eksekutif INSISTS dan anggota Majlis Tarjih PP Muhammadiyah), dan Dr. Mukhlis Hanafi (pakar tafsir alumnus Universitas al-Azhar Kairo). Dalam pidatonya, Adian menjelaskan urgensi membahas masalah pembaruan Islam di Indonesia, yang secara formalnya dimulai oleh Nurcholish Madjid pada 2 Januari 1970. Adian mengritik anggapan para pendukung Nurcholish Madjid yang sering menulis bahwa para pengkritik Nurcholish Madjid tidak memahami atau menyalahpahami ide-ide Nurcholish Madjid. "Sering dibuat opini, seolah-olah yang mendukung Nurcholish pasti paham, dan yang tidak mendukung pasti tidak paham," kata Adian. Padahal, lanjutnya, para pendukung Nurcholish juga banyak yang tidak paham dan tidak membaca buku-buku Nurcholish, alias taklid buta saja. Ia menjelaskan, ketika Nurcholish melontarkan idenya, tahun 1970, dia baru sarjana S-1, sedang pengritik utamanya, Prof. HM Rasjidi adalah guru besar lulusan Sorbonne University. Dalam makalahnya yang berjudul "Menelusuri Jejak Gagasan Nurcholish Madjid tentang Sekularisasi", Adnin Armas mengupas secara rinci kronologis dan anatomi gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid. Adnin yang sedang menulis disertasi S-3 nya di ISTAC-IIUM, menguliti gagasan Nurcholish dan membandingkannya dengan pemikiran Harvey Cox dan Robert N. Bellah, yang dijadikan rujukan Nurcholish. Setelah mengupas ide-ide sekularisasi Nurcholish Madjid tersebut, Adnin menyimpulkan, sebenarnya yang salah paham bukan para pengkritiknya, tetapi Nurcholish Madjid sendiri yang salah paham atau membuat orang salah paham terhadap gagasan sekularisasi. Bahkan, Adnin menilai, gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid sendiri, selain merupakan fotokopi gagasan pemikir Kristen tertentu, juga bukan merupakan pemikiran yang serius. Pada makalahnya 2 Januari 1970, ia hanya menulisnya pada 1 lembar kertas. Karena itu, membesar-besarkan gagasan Nurcholish sebenarnya tidak bisa dilepaskan dari unsur politis dan permainan media massa. Seharusnya, kata Adnin pada penutup makalahnya, ilmuwan Muslim bersikap kritis saat mengadopsi gagasan-gagasan dari Barat. Dalam makalahnya, Adian membeberkan fakta pengalaman pembaruan agama lain dalam merespon modernitas. Pengalaman Yahudi dan Kristen itu, katanya, kemudian juga diterapkan oleh kalangan pembaru ke dalam Islam. "Itu dilakukan dengan menyamakan karakter ajaran Islam dan sejarah Islam dengan karakter ajaran Yahudi dan Kristen dan sejarahnya di Barat," paparnya. Padahal, menurut Adian, masing-masing-masing agama atau tradisi memiliki cara sendiri dalam menghadapi modernitas. Misalnya, kaum Yahudi di Jerman yang melakukan pembaruan dalam agama Yahudi dengan membuat gerakan Yahudi Liberal. Ada pun Islam, lanjut Adian, tidak menolak pembaruan.Tetapi, dalam arti tajdid, bukan asal pembaruan. Sebagai agama final dan sempurna, Islam memiliki konsep teks kitab suci yang juga sudah final, yakni Alquran, yang terjaga otentisitas teks dan maknanya. Konsep ini sangat berbeda dengan konsep teks kitab suci agama lain yang memungkinkan berubah dari waktu ke waktu. Kesalahan dalam melihat perbedaan antara karakter Islam dengan Yahudi-Kristen berdampak pada kesalahan dalam menyusun konsep pembaruan Islam. Bahkan, saat ini, kesalahan itu sengaja diprogramkan dalam proyek liberalisasi Islam, yang secara vulgar mendukung westernisasi dan membongkar konsep-konsep dasar Islam. Adian mengajak umat Islam untuk memahami masalah yang serius ini dan tidak mengabaikannya, sebab sudah menyangkut masalah aqidah dan keilmuan Islam. Ia mencontohkan, sudah 33 tahun lebih buku karya Harun Nasution, Islam Ditinjau dari Berbagai Aspeknya dijadikan pegangan dalam studi Islam di berbagai perguruan tinggi Islam. Padahal, buku itu memuat begitu banyak kesalahan yang sangat fatal. Misalnya, menyebut agama tauhid ada empat, yaitu Islam, Yahudi, Kristen, Hindu. Sedangkan agama yang memelihara kemurnian Tauhid ada dua, yaitu Islam dan Yahudi. "Tapi entah kenapa, masalah yang serius dan separah ini dibiarkan sekian lama oleh lembaga-lembaga Islam di Indonesia, " kata dia mempertanyakan. Dalam paparannya, Dr. Hamid F. Zarkasyi menolak keras anggapan yang disebarkan, bahwa gagasan pembaruan Islam yang digulirkan oleh Nurcholish Madjid ada kaitannya dengan pendidikan di Pesantren Modern Gontor. Dalam makalahnya yang berjudul "Proyek "Pembaruan" Pemikiran Islam di Indonesia (Kajian Kritis dan Evaluatif)", Hamid mengupas berbagai kerancuan dari pemikiran Nurcholish seperti tertulis dalam makalah-makalah yang ditulis Nurcholish tentang pembaruan Islam. Hamid mengkritik para pengikut Nurcholish yang secara membabi buta membela pemikiran Nurcholish Madjid, dan mengajak mereka untuk melakukan evaluasi secara kritis dan analitis. "Jika para eksponen pembaruan pemikiran Islam berhenti pada sikap glorifikasi dan merasa tabu untuk melontarkan kritikan kepada Nurholish Madjid, maka ini hanya membuktikan bahwa Nurcholish Madjid sendiri telah gagal mengaplikasikan gagasannya," tulis Hamid dalam penutupan makalahnya. Sementara itu, Dr. Mukhlis Hanafi menyorot berbagai fenomena upaya pembaruan Islam yang kebablasan. Ia menunjukkan berbagai contoh kecenderungan dalam studi Islam yang secara berlebihan mengadopsi metode empiris-historis. Begitu juga muncul gejala sejumlah mahasiswa yang menulis tesis atau disertasi untuk melegitimasi paham-paham Barat (seperti Pluralisme Agama) dalam ayat-ayat Al-Quran dan Tafsir-tafsir klasik. Ia juga menyebutkan tantangan penggunaan hermenutika dalam penafsiran Al-Quran di perguruan tinggi saat ini. Karena itulah, Mukhlis merasa prihatin dengan fenomena umum tentang ketidaksiapan kalangan akademisi Muslim di Indonesia dalam merespon tantangan pemikiran yang berkembang dewasa ini. Entah disengaja oleh panitia atau tidak, tiga pembicara utama dalam seminar itu " Dr. Hamid Fahmy Zarkasyi, Dr. Mukhlis Hanafi, dan Adnin Armas, MA, " adalah alumnus pesantren Gontor. Majalah Media Dakwah tebitan Dewan Dakwah Islamiyah Indonesia edisi Januari 2007 juga sudah menurunkan laporan utama yang berjudul "Cendekiawan Gontor Membongkar Mitos Nurcholish Madjid." Di sini diturunkan tulisan-tulisan analitis dari sejumlah cendekiawan Gontor terhadap berbagai gagasan pembaruan Islam Nurcholish Madjid. Pada kesempatan itu, Hamid menjelaskan, bahwa sebenarnya, gagasan-gagasan sekular-liberal Nurcholish Madjid tidak dia peroleh di Gontor. "Tapi, dia pungut setelah dia lulus dari Gontor,' ujarnya. [dh/cha]
