Ulasan yang menarik. Sedikit "pelurusan", Gunnar Mirdal ("Asian Drama") bukan
dari Pakistan. Karl Gunnar Muyrdal, ekonom asal Swedia, (1898-1987), 1974 raih
Hadian Nobel untuk Ekonomi.Para pseudo-pemimpin yang berwajah malaikat atau iblis namun bertingkahlaku iblis sukar untuk dienyahkan hanya melalui khutbah atau makalah. Perlu tindakan jelas dalam bidang politik. Saya kira bukan melalui revolusi, yang tidak ada syarat- syaratnya, cukup ketika pemilu dan pilpres mayoritas pemilih jangan bergolput dan memilih pemimpin yang benar pemimpin. Yang mana? Tanya kpd hati nurani masing-masing, dan hati nurani tsb akan di tes, apa baik atau tidak, setelah nantinya kita lihat para pemimpin yang kita pilih tsb memang akan bekerja untuk bangsa dan rakyat ini, atau tidak. Jadi, hati nurani manusia pun bisa dibohongi, apalagi kalau dengan teknik yang canggih. Salam, bdg ----- Original Message ----- From: Sunny To: Undisclosed-Recipient:; Sent: Sunday, February 04, 2007 10:22 PM Subject: [nasional-list] Pemimpin Berwajah Malaikat http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/05/0901.htm Pemimpin Berwajah Malaikat Oleh SOEROSO DASAR REALITAS kehidupan saat ini, sungguh mencengangkan kita. Betapa tidak, sebagian besar penduduk negeri yang pada umumnya merupakan umat Muslim adalah terdiri dari kelompok miskin. Data BPS (Biro Pusat Statistik), tahun 2005 penduduk miskin di negeri ini berjumlah 35 juta orang lebih. Pada tahun 2006 meningkat menjadi 39,05 juta orang. Itu kalau kita gunakan kriteria yang disodorkan oleh BPS. Tetapi menurut Bank Dunia, di mana penduduk miskin diukur dengan penghasilan kurang dari 2 US $ per kapita per hari, jumlahnya ternyata membengkak lebih dari 110 juta orang. (lihat: Refleksi Akhir Tahun 2006 Hizbut Tahrir Indonesia). Jadi, persoalan besaran kemiskinan di Indonesia hanya persoalan permainan angka dan tolok ukur saja. Kita mau menggunakan data yang mana, BPS atau Bank Dunia. Kalau pemerintah tentu saja data yang digunakan adalah data yang secara politis mendukung dan menguntungkan programnya. Sehingga besaran angka kemiskinan merupakan pledoi (pembelaan) pemerintah terhadap hasil pembangunan. Seorang ekonom terkenal dari Pakistan Gunnar Mirdal dalam bukunya Asian Drama secara sinis pernah menulis, "Pembangunan ekonomi di negara berkembang, umumnya justru tidak pernah mewujudkan pemerataan pendapatan, sekalipun semua pemerintahnya mengibarkan bendera keadilan sosial". Tesis Mirdal tersebut semakin terbukti. Di negeri ini, menajamnya diparsitas pendapatan (gap) antara yang kaya dan duafa begitu mencolok. Masalah ketimpangan distribution of national income merupakan "malapetaka" pembangunan negeri. Ketimpangan yang terjadi menahun dan kronis, belum juga berakhir. Jurang pemisah lahir dari rahim pembangunan itu sendiri, merupakan kealpaan proses pembangunan. Sudah berkali-kali manajemen pemerintahan negeri diubah, kebijakan mikro maupun makro diganti, namun tetap saja diparsitas pendapatan terlihat mencolok. Jurang pemisah semakin nyata apabila kita membenchmarking antara kehidupan desa dan kota. Lantas pertanyaan yang menggelitik adalah pembangunan ini untuk siapa? Dan siapa yang menikmati hasil pembangunan ini? Akar terjadinya ketimpangan karena adanya kepincangan dalam perkembangan pelaku-pelaku ekonomi (economic actors). Realitas ini menimbulkan concentration of economic power. Dampaknya jelas, proses alokasi faktor-faktor produksi, investasi, menjadi timpang. collective preference (kepentingan yang berhubungan dengan kebutuhan umum) dianggap kurang strategis. Terkonsentrasinya kegiatan ekonomi merupakan "embrio" dari suatu bentuk monopolistik. Kelompok modal asing pun bermain dan mampu mempengaruhi kebijakan ekonomi negeri, sehingga memperoleh share yang mengesankan. (lihat Blok Cepu, Freeport, dan lainnya). Sementera itu, konsep pertumbuhan yang konon katanya cenderung ditinggalkan karena "tidak menetas ke bawah" (trikle down effect), dalam realitas terus berlanjut. Boleh saja pertumbuhan tinggi, tetapi apakah mampu menyerap tenaga kerja, dan menyelesaikan masalah? Hukum yang selama ini dianut, bahwa pertumbuhan 1 (satu) persen akan menyerap tenaga kerja 400.000 orang hanya isapan jempol. Sektor riil jalan ditempat, dan pengangguran pun terus membengkak. Sisi lain yang memilukan hati kita adalah demonstrasi gaya hidup sebagian penduduk yang mendiami piramida sosial di atas. Tiket kemuliaan manusia cenderung diukur oleh harta, hedonisme, bukan prestasi. Tuhan-tuhan baru pun muncul, berhala-berhala dalam bentuk benda dipuja, sebagai akibat samping dari proses pembangunan. Manusia menjadi serigala bagi manusia lainnya. Maka wajar kalau korupsi merebak di segala lini, dilakukan berjemaah. Indonesia menjadi surga bagi para koruptor. Bumi menjadi gelap karena padamnya cahaya-cahaya dan tenggelamnya matahari serta bulan. Bahkan Hans Vrs von Balthasar dalam "Doa" mengatakan, "Kita hadir pada zaman yang kering spiritual. Tuhan telah menjadi tanda-tanda yang kabur, dan kata-kata kitab suci dianiaya oleh kaum skeptis dan rasionalis. Hati manusia di zaman robot ini remuk redam, tidak percaya lagi pada perenungan (kontemplasi). Bila orang berdoa, itu karena putus asa dan sia-sia, mereka melangkah di jalan keputusasaan. Godaan untuk menolak dan putus asa itu amat besar, sedemikian berat menindih mereka dan tetap saja sensitif terhadap pertanyaan arti hidup, sehingga perlu menggunakan segenap kekuatan yang ada untuk melawan arus. Sistem nilai sudah bergeser. Itu terjadi serta merupakan suatu proses panjang yang terus menerus. Akrobat-akrobat politik ditampilkan lebih telanjang saat ini tanpa malu dan risih. Semuanya membuat rida Allah semakin jauh. Etika dan estetika menjadi suatu yang mahal sekali harganya. Pertumbuhan ekonomi bisa saja di dongkrak dalam waktu sekejap. Tetapi masalah moral, mental, gotong royong, budaya adiluhung, kerja keras, sifat-sifat relegius, sopan santun, yang semuanya melekat pada sistem nilai, demikian rusak sehingga memerlukan waktu lama untuk ditata kembali. Sebuah musibah negeri otak kiri. Dalam kegalauan kita melihat proses pembangunan yang tidak beranjak, dan konflik intern baik vertikal maupun horisontal terjadi di negeri ini, tampilan elite susah ditebak. Semuanya kita merupakan pemimpin, yang nanti akan diminta pertanggungjawabannya. Meminjam istilah Ichlasul Amal, mantan Dekan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik UGM, "Kita rindu terhadap para elite politik dan pemimpin negeri ini yang berwajah malaikat dan berhati malaikat. Sebab yang kita jumpai justru wajah-wajah syaitan yang berhati iblis, dan wajah malaikat yang berhati syaitan. Sehingga sulit untuk membedakan khutbah yang disuarakan oleh wajah yang bermacam-macam itu.*** Penulis, peneliti senior PPKSDM Lembaga Penelitian Universitas Padjadjaran. (tulisan ini pendapat pribadi
