Quote:
"..
Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan,
"Maaf saudara-saudara, kami telah keliru membuat
kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung
derita dan kerugian tiada terkira?"

Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu
dan pasang badan memikul tanggung jawabnya, maka itu
sama saja harakiri. Padahal kabar burung mengatakan
bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam
dia.
..
Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin
goreng. Menteri PU Djoko Kirmanto, mengutip Menristek,
juga sami mawon dengan bungkus terkesan ilmiah,
"...return period banjir kali ini 30 tahun," Aduh!
Sudah begitu, bulan purnama disalahkan juga. "Bulan
purnama menjadi salah satu penyebab."
..
Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi
karikatur yang menyedihkan: Jakarta seperti kampung
Indian di muara Amazone. Presiden, gubernur seolah
tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi
kita menengadahkan tangan menerima uluran bantuan.

Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan
ataukah ini semua akumulasi dari kebobrokan dan
ketidakbecusan pejabat kita?
.."

Apa betul Pak Menristek (dikutip Menteri PU) mengucapkan soal return period
banjir? Anywan, siapapun yang mengucapkan itu, sangat menyedihkan..
Bencana koq ada jadwalnya.. Mana ekspresinya.. eh antisipasinya!!! :-(

Jadi, mana yang betul dari 2 opsi di atas (menyalahkan Tuhan dan Alam) atau
akumulasi kebobrokan dan ketidakbecusan pejabat (well, sedikit andil publik
juga sih)? Lantas, solusinya apa donk untuk 2 opsi tersebut? :-)

CMIIW..

Wassalam,

Irwan.K

---------- Forwarded message ----------
From: Pedje <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 7, 2007 6:50 PM
Subject: Angin Goreng Sutiyoso

Kolom
Angin Goreng Sutiyoso
Eddi Santosa - detikcom

Den Haag - Banjir karena siklus lima tahunan? Ah,
Gubernur Sutiyoso sedang jualan angin goreng. Kok
warga Jakarta mau melahapnya begitu saja.

"Yang terjadi kali ini adalah banjir siklus lima
tahunan," (Sutiyoso, 4/2/2007).

Warga Jakarta, yang dirugikan harta, benda, kehidupan
sosial dan psikisnya, kok diam saja? Coba periksa
statistik sejarah, apa betul ada siklus lima tahunan
banjir bandang menenggelamkan Jakarta? Sejak kapan?

Menyimak pernyataan Sutiyoso dan tayangan
tangis-derita warga Jakarta di NOS, VRT Belgia dan
CNN, saya langsung meraih pena. Warga Jakarta,
bicaralah dan ambillah sikap. Pernyataan ini kata
ungkapan Belanda: gebakken lucht. Secara harfiah
"angin goreng" alias omong kosong, atau menurut bahasa
kampungnya Sutiyoso (Semarang): nggedebus.

Mengapa Sutiyoso tidak secara ksatria mengatakan,
"Maaf saudara-saudara, kami telah keliru membuat
kebijakan tata kota, sehingga saudara menanggung
derita dan kerugian tiada terkira?"

Jawabnya simpel saja: kalau Sutiyoso jujur seperti itu
dan pasang badan memikul tanggung jawabnya, maka itu
sama saja harakiri. Padahal kabar burung mengatakan
bahwa dia masih berambisi jadi presiden. Bisa wassalam
dia.

Tenggelamnya Jakarta itu lebih disebabkan oleh
kombinasi moral hazzard, disintegritas dan
inkompetensi pejabat DKI, dengan penanggungjawab
akhir: gubernur, dari sejak sebelum Sutiyoso. Dan soal
siklus lima tahunan itu Sutiyoso ada benarnya. Setiap
ada pergantian gubernur, pelenyapan daerah hijau dan
resapan air selalu terulang.

Berapa kali sudah Perda tentang Tata Ruang dilanggar,
ribuan hektar daerah hijau dan resapan air dikorbankan
dan disulap menjadi beton-beton "penampung air"? Jika
dibandingkan dengan masterplan tata ruang warisan
Belanda, yang sudah ratusan tahun berpengalaman
mengatur Jakarta, berapa besar sudah yang diacak-acak?

Adalah lucu menangani kawasan ibukota yang begitu luas
dan letaknya rendah dengan hanya meributkan Banjir
Kanal Timur (BKT), seolah-olah ini satu-satunya
jawaban mengatasi banjir. Simpul masalah utama adalah
ketiadaan daerah resapan karena telah berubah jadi
beton. Sehingga setiap hujan, Jakarta menjadi kolam
beton terbesar di dunia, menenggelamkan semuanya.

Sekiranya daerah resapan mencukupi, air akan cepat
reda, merembes ke tanah. Baru kelebihannya akan
mengalir di atas permukaan tanah, mencari kanal-kanal.
Kanal-kanal itu, kalau dilihat di Belanda, fungsinya
sekunder, sebagai saluran akhir dari luapan curah
hujan. Sudah daerah resapan air tiada, kanal-kanal di
Jakarta tidak dirawat pula. Ya, banjirlah.

Sutiyoso rupanya tidak sendirian dalam jualan angin
goreng. Menteri PU Djoko Kirmanto, mengutip Menristek,
juga sami mawon dengan bungkus terkesan ilmiah,
"...return period banjir kali ini 30 tahun," Aduh!
Sudah begitu, bulan purnama disalahkan juga. "Bulan
purnama menjadi salah satu penyebab."

Karena bangsa Indonesia adalah bangsa beragama, maka
kalau bulan purnama ikut menjadi penyebab, ya ini
artinya juga kesalahan Tuhan. Enak nian pejabat
Indonesia tinggal menyalahkan alam dan Tuhan. Lalu apa
gunanya akal dan segala sumber daya yang sudah
dikaruniakan? Apa pula gunanya ilmu yang disandang?
Seharusnya semua fenomena alam itu dikenali,
dikendalikan dan ditundukkan, dengan perencanaan dan
pembangunan yang baik.

Negeri Belanda itu letaknya rendah di muara Laut Utara
dan sekitar 60% wilayahnya berada di bawah permukaan
laut. "Negeri" ini bisa dihuni berkat tanggul-tanggul
dan kanal-kanal. Bandara Schiphol itu berada -3m dapl.
Tapi meskipun hujan badai mengamuk, air laut pasang,
Schiphol tidak tenggelam.

Kecelakaan pernah sekali terjadi di 1953. Tanggul
Zeeland jebol, mengakibatkan separuh wilayah Belanda
tenggelam, 1.836 orang tewas, ribuan lainnya
mengungsi. Sebenarnya sejak 1920 DPU-nya Belanda sudah
mendeteksi ada kelemahan di tanggul itu, namun kabinet
saat itu lebih memprioritaskan pembangunan tanggul
Botlek, Brielse Maas (1950) dan Braakman (1952). Ini
menunjukkan, tanpa kendali manusia Belanda tiada.

Lain cerita negeri orang, lain cerita kita. Ketika
hari cerah, para pemimpin kita berpolah, melanglang
buana bak raja diraja dari negeri dongeng. Uang
dihamburkan, salah prioritas, keliru penggunaan. Siapa
mengurusi kanal dan kali? Berapa kali dalam periode
kali dikeruk? Siapa menjatuhkan sanksi kalau sampah
dibuang sesuka hati?

Kini? Gambar-gambar televisi internasional menjadi
karikatur yang menyedihkan: Jakarta seperti kampung
Indian di muara Amazone. Presiden, gubernur seolah
tidak becus mengurus secuil Jakarta. Dan lagi-lagi
kita menengadahkan tangan menerima uluran bantuan.

Salah siapa? Masihkah menyalahkan bulan dan Tuhan
ataukah ini semua akumulasi dari kebobrokan dan
ketidakbecusan pejabat kita? (es/es)

Kirim email ke