Kolom IBRAHIM ISA
Rabu, 07 Februari 2007
--------------------------------------------

TIONGKOK yang  KUKENAL (2)

Belum lama aku sempat bertukar fikiran dengan  sahabat-lamaku  orang
Tiongkok <dalam bahasa Tionghoa dia itu disebut  'Lao Pengyou'>,  yang
datang dari Tiongkok.  Aku selalu berpendapat  perlunya bertukar
fikiran  langsung dengan sahabat-sahabat orang-orang Tiongkok, 
mengenai situasi Tiongkok sekarang.  Masalahnya, tinggal mencari
kesempatan untuk itu. Belum lama ini syukurlah muncul juga kesempatan
itu. 

Boleh dibilang tidak ada satu minggu berlalu di dunia pemberitaan, --
 pers, radio dan TV  mancanegara, khususnya  di dunia Barat,  --- yang
 tidak memberitakan tentang Tiongkok.  Ada berita  yang menyoroti
segi-segi negatif ketimbang yang positif. Sering dikira itu berita
tentang Tiongkok itu berita positif,  namun, kemudian ada selipan yang
negatif. Ternyata  maksud sesungguhnya berita tsb  memang
menceriterakan sesuatu yang negatif tentang Tiongkok. Sekarang
zamannya orang menomorsatukan kebebasan,  kebebasan menyatakan
pendapat dan menyiarkannya. 

Jadi berita-berita yang macam-macam tentang Tiongkok, itu boleh-boleh
saja. Tinggallah pada  kita sendiri bagaimana mencernakannya. Banyak
orang  pada dasarnya mengambil sikap yang bersahabat dengan Tiongkok
dan  bersimpati dengan rakyatnya. Tetapi ada juga orang-orang yang
sejak awal bertitik tolak  dari sikap yang antipati terhadapnya,
terutama terhadap kekuasaan di Tiongkok sekarang. Umumnya mereka itu
adalah fihak-fihak yang menganut faham anti-Komunis. Karena
pemerintahan Tiongkok adalah pemerintah Komunis dan dipimpin oleh
Partai Komunis, maka mereka mengambil posisi anti-Tiongkok.  Namun, 
terhadap rezim di Taiwan mereka tidak antagonis. Bahkan mendukung
politik AS zaman Perang Dingin, yaitu politik 'Dua Tiongkok'. Atau
politik 'satu Tiongkok'  dan 'satu 'Taiwan'. Jadi mendorong berdirinya
Taiwan yang separatis.

Mereka-mereka yang anti-Komunis itu, dengan bertolak dari faham
anti-Komunisnya,  yang  mengambil posisi antagonis terhadap rezim di
Tiongkok sejak berdirinya RRT -----  pada umumnya menyatakan bahwa, 
sebenarnya,  kata mereka,  sejak era Deng Xiaobing, Tiongkok sudah
bukan Sosialis lagi. Tiongkok sudah  melaksanakan sistim  Kapitalis.
Partainyapun sudah bukan partai Komunis lagi. Hanya nama saja yang
Komunis.  Namun, orang-orang yang sama itu juga, ---- sama  nyaringnya
 menabuh genderang, memperingatkan dunia, tentang bahaya munculnya
superpower baru, yaitu Tiongkok.  Orang bisa mengambil kesimpulan,
mereka itu bukan pertama-tama menentang sisitim apa yang dijalankan di
Tiongkok, tetapi,  mereka tidak ingin ada satu Tiongkok yang bebas
berdiri sendiri dan kuat di segala bidang.  Mereka menghendaki
Tiongkok terpecah-belah dan tegantung pada luar.  Mereka mendambakan
dunia yang dikuasai  dan  'dipimpin' oleh AS dan sekutu-sekutunya. 
Mereka mengimpikan  suatu 'Pax Americana'  di dunia ini.

*    *    * 

Dari sinilah bisa dilihat,  masih hidupnya  di  kalangan Barat dan
pada mereka yang sepandangan dengan politik  'Perang Dingin' dunia
Barat,   yang ingin diteruskannya  strategi  'China containment
policy'.  Bisa diikuti dengan jelas bahwa  politik 'China containment'
 ini sekarang menggunakan merek atau iklan baru, yaitu mencanangkan 
kepada dunia: 'Waspada terhadap superpower baru:  Tiongkok'. 

Untuk melengkapi input mengenai Tiongkok,  maka ada baiknya  a.l.
mendengar langsung dari orang Tiongkok bagaimana pendapat mereka
sendiri tentang Tiongkok yang ramai dibicarakan orang itu. 

Ini lebih-lebih lagi terasa perlu bagi orang seperti aku. Karena 
pengetahuan-langsung yang kuperoleh di lapangan mengenai Tiongkok,
adalah mengenai situasi Tiongkok selama aku bekerja dan berdomisili di
negeri itu  pada periode 1966-1986, dan  dalam tahun 1998.  Tahun 1998
itu kami, istriku Murti dan aku,  diundang oleh Perkumpulan Tiongkok
untuk Persahabatan dengan Luarnegeri <Chinese Association for
Friendship with Foreign Countries>. Sejak itu,  waktu --  sudah
berlalu hampir  10 tahun sejak kunjunganku terahkir ke Tiongkok. 

Meskipun belum mengunjungi Tiongkok lagi,  ---  dengan mengikuti
perkembangan Tiongkok lewat media mancanegara dan membaca sendiri yang
dipublikasikan media Tiongkok  berbahasa Inggris, serta siaran Radio
Beijing berbahasa Indonesia,  ----  maka  bisa dikatakan bahwa dalam
jangka waktu 9 - 10 tahun belakangan ini ,  di Tiongkok tak terjadi
perubahan baru  yang fundamentil, yang  berbeda dengan  situasi  9-10
tahun yang lalu.  Pemahamanku ini dilengkapi belakangan dengan
kesempatan bertukar fikiran dengan orang-orang Tiongkok sendiri,
orang-orang biasa,  bukan pejabat atau politikus. Dengan demikian maka
 lumayanlah  bisa diperoleh gambaran  yang  bisa diandalkan tentang
Tiongkok sekarang.

*   *   *

Pengenalanku tentang Tiongkok sekarang singkatnya adalah sbb: 

Sejak Tiongkok menempuh  kebijakan ekonomi (pasar)  pada akhir tahun 
1970-an, dipkrakarsai dan dirintis  oleh PM Deng Xiaobing,  ---   bisa
disaksikan dan dirasakan dampaknya oleh dunia bisnis,  bahwa
pertumbuhan ekonomi Tiongkok  maju melesat, melebihi pertumbuhan
ekonomi negeri manapun didunia ini. Tiongkok telah menjadi lebih kuat
di bidang ekonomi dan pertahanan. Secara umum terdapat peningkatan
yang menonjol taraf kemakmuran. Pertumbuhan ini  sampai sekarang masih
berlangsung terus.  Pasar dunia dibanjiri oleh  komoditi produk
Tiongkok.  Segi lainnya,  Tiongkok aktif mengarahkan pandangannya ke
bagian-bagian lain dari dunia ini, mencari bahan-bahan baku dan bakar
untuk perkembangan ekonomi, khususnya industrinya. 

Terakhir diberitakan oleh pers mancanegara, bahwa RRT adalah
satu-satunya negara di dunia , yang, ---  bukan saja,  -- tidak lagi 
punya utang luarnegeri, tetapi negara yang  DEVISANYA   dikatakan
besar kemungkinan yang paling banyak cadangan uang dolarnya. Sedangkan
AS sudah menjadi negara yang paling banyak utangnya. 

Kebijakan ekonomi  pemerintah Tiongkok dewasa ini,  diakui terus
terang oleh yang bersangkutan, punya dampak  sampingan yang serius.
Orang-orang yang menjadi kaya, menjadi makmur, tumbuh dengan cepat
sehingga menimbulkan lapisan masyarakat, yang di Tiongkok dibilang,
YANG KAYA DULUAN. Orang luar menilainya sebagai lapisan klas tengah,
yang berangsur-angsur  tidak saja  punya peranan dan pengaruh di
lapangan ekonomi, tetapi juga  di lapangan politik. Dikatakan a.l  ini
 bisa disaksikan dalam konstitusi Partai Komunis Tiongkok yang sudah
diperbaharui, yang membuka pintu bagi elemen-elemen kapitalis. Ini
bisa dikatakan sebagai suatu perkembangan di bidang teori  dan praketk
pembangunan partai oleh kaum Komunis Tongkok. Bisa juga dikatakan
sebagai sesuatu yang baru samasekali. Komentar lain mengatakan bahwa
ini merupakan suatu 'penyimpangan' dari faham Marxisme.

Kebijakan pembangunan ekonomi Tiongkok dewasa  ini,  seperti yang
kudengar sendiri dari yang bersangkutan, adalah berkat penyimpulan 
dari kegagalan mereka, mengurus ekonomi negeri menurut  pola, contoh
pembangunan ekonomi sosialis model Uni Sovyet.  Dalam suatu
pembicaraan dengan sementara kader-kader Tiongkok, dinyatakan
kepadaku, bahwa penyimpulan tentang jalan sosialis Sovyet itu, 
dipadukan dengan penyimpulan kegagalan ekonomi sosialisme menurut
konsep Mao.  Yaitu, yang ingin cepat-cepat mencapai sosialisme dan
komunisme,  melalui pembangunan  sistim Komune Rakyat, Maju Melompat
Besar dan kemudian Revolusi Besar Kebudayaan Proletar. Pimpinan
Tiongkok pasca Mao menyimpulkan bahwa mereka harus menempuh jalan
lain. Tidak boleh meniru apa yang negeri lain lakukan.  Disimpulkan
untuk menempuh sosialisme yang khas Tiongkok, yang mereka namakan
Sosialisme Tiongkok.  Strategi baru ini  menempatkan masalah
berputarnya roda ekonomi pada tempat pertama. Karena hanya melalui
jalan ini, bisa memecahkan masalah raksasa yang dihadapi oleh negeri
dan bangsa ini. Yaitu bagaimana memecahkan masalah sandang dan pangan
 lebih seribu juta penduduk yang dari tahun ke tahun bertambah terus
jumlahnya.  Padahal lahan pertanian Tiongkok tidak tambah-tambah, kata
mereka. 

Aku ingat betul, ketika Revolusi Kebudayaan sedang berlangsung, 
dijelaskan pada kami ketika itu, bahwa,  PM Chou En-lai sesungguhnya
telah merintis strategi ini,  ditengah-tengah berlangsungnya Revolusi
Kebudayaan. Chou memberikan  petunjuk yang terkenal, yaitu  'Cengkam
Revolusi Dorong Maju Produksi'.  

Tiongkok  memberanikan  diri menempuh jalnya sendiri, dengan
memberlakukan kembali hukum ekonomi pasar, dan menggalakkan tenaga
produktif semaksimal mungkin.Mengakui segi-segi berguna dari sistim
kapitalis.

Di satu fihak  dipertahankan arah  pembangunan negeri sesuai konsep
Sosialisme Tiongkok. Juga kepemimpinan Partai Komunis Tiongkok tetap
dipertahankan. Cabang-cabang ekonomi yang merupakan urat nadi ekonomi
negeri, tetap dikuasai negara.  Di lain fihak ekonomi-pasar
dipraktekkan  secara besar-besaran. Modal  dalam negeri maupun asing
diundang untuk membuka usaha mereka dengan persyaratan yang menarik.
Bidang-bidang usaha ekonomi, mulai dari produksi kecil-kecilan sampai
industri  yang besar-besaran bisa dengan leluasa dikelola oleh 
individu-individu dan perorangan atau gabungan perorangan. Sehingga
tidak sedikit yang mengomentari bahwa ekonomi kapitalis telah pulih di
Tiongkok.

Benar, kebijaksanaan baru di bidang ekonomi,  telah  menghasilkan
pertumbuhan produksi dan pertumbuhan ekonomi yang amat pesat.Tapi
bukan tanpa dampak negatif yang kurang dapat perhatian pemerintah. 
Sehingga  di kalangan kaum tani yang dirugikan dan tidak dapat
pengurusan yang baik dari pemerintah, tidak sedikit yang mendambakan
situasi sebelum ekonomi pasar bebas dilancarkan.  Mereka mengidap
nostalgi dan rindu pada  periode pemerintahan Mao dikala pendidikan,
kesehatan rakyat, perumahan dan kesempatan kerja diurus oleh pemerintah. 

Dampak lainnya dari kebijakan ekonomi baru itu ialah  jumlah
pengangguran membengkak dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Praktek
korupsi berlangsug dari daerah sampai ke pusat. Masalah pendidikan
menjadi soal besar. Karena pendidikan tidak lagi cuma-cuma seperti
zaman Mao.   Ini membikin pusing dan problim besar pada banyak
orangtua yang miskin. Mereka  tidak dapat jawaban  bagaimana nasib
pendidikan anak-anaknya kelak. Kaum tanipun banyak yang dirugikan oleh
pejabat setempat yang mengutamakan pendirian perusahaan-perusahaan
tanpa memperhatikan nasib kaum tani yang digusur dari situ dengan
ganti rugi yang sangat tidak memadai.

Dampak negatif lainnya, misalnya, seperti yang dilihat sendiri oleh
salah seorang teman  yang musim panas yang lalu berkunjung ke
Tiongkok.   Ia menyaksikan munculnya secara menyolok pelacur-pelacur
di Tiongkok.  Hal ini tampak jelas di kota-kota besar, seperti
Beijing, Shanghai dan Canton, katanya. Yang dibandingkannya dengan
periode Mao,  ketika pelacuran adalah sesuatu yang dilarang keras dan
diancam hukuman. Sehingga ia bertanya-tanya hendak ke mana Tiongkok
Sosialis? Dikemukakanya juga tentang meningkatnya kriminalitas dalam
masyarakat,  a.l. penggunaan ganja dan heroin.

*   *   *

Gejala-gejala penyakit sosial, seperti yang dikemukakan diatas,
seperti  pengangguran,  korupsi, kriminalitas, pelacuran dan
penggunaan ganja, yang di masyarakat di dunia kapitalis bukan sesuatu
yang aneh atau langka. Tetapi hal itu dalam masyarakat sosialis
Tiongkok  periode Mao, dikenakan tindakan hukuman keras. Sehingga
orang luar tidak melihat samasekali gejala-gejala tsb. Meskipun, di
dalam masyarakat sosialis sekalipun, bukan tidak ada samasekali
penyuakit-penyakit sosial tsb. 

*   *   *

Harus dicatat bahwa di Tiongkok dewasa ini,  pemerintahnya tidak tutup
mata  terhadap ketimpangan sosial serta kritik-kritik yang diajukan
terhadap dampak sampingan jalan baru yang mereka tempuh. Secara
terbuka pula  pemerintah mengakui  kekurangan-kekurangan dan pelbagai
penyakit sosial yang dihadapinya, seperti pengangguran, perbedaan yang
menganga antara yang miskin dan yang kaya, urbanisasi, polusi,
kriminalitas, pelancuran, korupsi dsb. Bahkan terhadap tindak korupsi
pemerintah telah mengambil langkah-langkah yang dianggap oleh dunia
luar Tiongkok  'keterlaluan' , seperti hukuman mati terhadap
pelanggaran korupsi besar-besaran, atau tindak kriminil lainnya.

Dari pelbagai sumber bisa diketahui bahwa pemerintah yang sekarang
ini, khususnya  tahun  lalu, telah lebih banyak mengambil
langkah-langkah kongkrit untuk menangani masalah-masalah yang muncul
tadi, dengan mencapai hasil-hasil tertentu.

Pada kawan-kawanku orang-orang Tiongkok, kutanyakan langsung, apakah
pemerintah Tiongkok yang sekarang ini, pemerintah yang berkemuan baik.
 atau tidak? Dijawabnya dengan tegas: YA, PEMERINTAH SEKARANG INI 
BERKEMAUN BAIK. Mereka mengambil langkah-langkah kongkrit ke arah
perbaikan. 

Mengusahakan kemakmuran rakyat dan keadilan sosial, adalah urusan 
primer pemerintah Tiongkok sekarang . Mereka tahu  bahwa di dunia ini,
kecuali jalan Sosialis Tiongkok yang mereka tempuh sekarang, terdapat
pelbagai konsep dan praktek sistim sosial. Selain apa yang
dilaksanakan misalnya, di Vietnam, Korea Utara dan Cuba, --- juga ada
 yang dipraktekkan oleh kaum Sosial Demokrat di Eropah Barat. Di
kalangan masyarakat Tiongkok,  khususnya di kalangan cendekiawan ilmu
sosial, lembaga ilmu dan masyarakat umumnya , tidak sedikit yang
tertarik dan mengadakan studi terhadap konsep dan cara kaum Sosial
Demokrat Eropah mengelola masyarakat menuju kemakmuran dan keadilan
sosial.

Ketika aku mengajukan masalah ini pada awal mereka menempuh jalan
Sosialisme Tiongkok, dan ketika bertemu beberapa tahun yang lalu,
mereka mengemukakan bahwa, mereka harus dengan rendah hati belajar
dari negeri-negeri lain yang mengusahakan kemakmuran  dan keadilan
sosial bagi rakyatnya. 

Apa yang kami sedang lakukan sekarang ini, kata mereka, adalah suatu
usaha, suatu eksperimen, yang masih harus dilihat hasilnya kemudian.
Tetapi itu suatu usaha. Menghidupi rakyat yang lebih satu bilyun, kata
mereka,  bukanlah soal yang sederhana. Kuikira sikap  mereka ini 
rendah hati. Apalagi bila dilihat bahwa jalan yang mereka tempuh
sekarang ini menampakkan hasil-hasil yang tidak kecil di bidang
pertumbuhan ekonomi dan konsolidasi negara Tiongkok.

*    *    *

Bicara soal demokrasi sehubungan dengan sistim sosial yang dipratekkan
di Tiongkok sekarang , barangkali menarik untuk membaca sebuah
komentar, dimuat di mingguan  Amerika,'Time Magazine', 12 Febr 2007,
ruangan Letters, yang oleh redaksinya diberi judul 'the RISE of a New
SUPERPOWER'. Tulis  pembaca Christina Feng dari Malvern, Pennsylvania, US:

"Artikel kalian melebih-lebihkan kekurangan demokrasi di Tiongkok,
halmana mengarah ke spekulasi tentang kemungkinan bencana global dan
peperangan. Namun, demokrasi tak bisa dipakasakan terhadap sesuatu
nasion'hal itu harus tumbuh dan berakar dan bertahan-lama. Tiongkok
sudah jauh sekali  meninggalkan rezim feodal yang  dialaminya  seratus
tahun yang lalu, dan Tiongkok akan mencapai demokrasi dengan cara dan
syarat-syaratnya sendiri. Strategi Tiongkok untuk memenuhi
kebutuhannya atas sumber-sumber alam, dilakukannya dengan damai.
Persaingan heibat untuk mendapatkan sumber-sumber alam tidak
menyisihkan kerjasama internasional. Barangkali Tiongkok akan
mempersekutukan strateginya dengan AS, bila AS  menghentikan campur
tangannya terhadap masalah intern Tiongkok dan mulailah mencari 
tujuan-tujuan bersama seperti misalnya, perdamaian dan kemakmuran dunia'. 

Demikian a.l. pendapat  seoran pembaca 'Time Magazine'  w.n.  Amerika
asal Tionghoa, yang  tinggal di Amerika.

Pendapatnya itu pantas dijadikan input dalam usaha untuk mengenal
Tiongkok. 
(Bersambung)

*    *    *  



Kirim email ke