From: Nursyahbani Katjasungjkana <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 6, 2007 1:16 AM 
Subject:  banjir dan tangggungjawab pemerintah

teman FPK dan Media, mau curhat saja nih. sejak saya tinggal di Jakarta tahun 
1980 saya sudah bergulat dengan banjir, bahkan cerita banjir selalu memenuhi 
ingatan saya : kakek nenek dan paman-bibi serta anak-anak mereka tinggal di 
bantaran kali Ciliwung di kampung Melayu ( gang Asem dan kebon sayur I). saat 
saya masih tinggal bersama ibu saya, cerita banjir dari orangtua dan 
saudara2nya selalu datang lewat surat : membacanya saja sangat ngeri apalagi 
melihat air bergulung-gulung kecoklatan dan naik dengan deras an atau pelan2 
sama saja, sama sama buruk akibatnya. 

saat saya mahasiswa, tiap tahun saya selalu jadi tim relawan HMI, organisasi 
mahasiswa yang saya ikuti, untuk memberikan bantuan kepada para korban di kota 
Lamongan. waktu tu saya masih percaya bahwa banjir adalah kehendak alam yang 
trak bisa dirubah apalagi ditolak oleh manusia. belakangan pemda Lamongan malah 
bis amengendalikan banjir di kotanya dan sekarang seoingat saya tak ada lagi 
banjir. 

Jakarta, yang katanya penuh dengan orang pintar, ternyata tak mampu 
mengendalikan air.banjir kali ini malah lebih buruk dari tahun 2002, dimana 
kita juga dibuat marah oleh Gubernur Sutyoso, yang trenyata pandai membuat 
patungisasi tapi tak mampu kendalikan banjir yang trebukti tidak saja 
menyengsarakan rakyat tapi melumpuhkan perekonomian nasional. 

dalam kebanjiran, di hari-hari pertama, tak tampak pemerintah melakukan respon 
yang memadai bahkan di beberapa tempat pemerintah sama sekali tidak hadir dalam 
penderitaan rakyat itu.beberapa teman mengirim sms saya : pingin sekali 
memenjarakan Sutyoso di penjara yang penuh dengan air banjir, seumur hidup !. 
bahkan ada juga yang mengharapkan lebih buruk dari itu. 

diantra kesusahan itu, yang tampak jelas adalah solidaritas masyarakat. mereka 
bergotong royong mengatasi keadaan : sediakan makanan, pakaian, dan apa saja 
yang bisa dilakukan. tadi sore ketika mobil saya parkir untuk menjemput sesama 
pengurus PKB yang akan tinjau korban di pengungsian Rawa Buaya dan Semanan, 
seorang ibu bernama ibu Sri,tiba2 bertanya kepada saya apakah saya akan 
meninjau korban banjir, saya katakan ya betul ( mungkin dia tahu karena mobil 
dua teman saya itu penuh dengan makanan dan air bersih). tiba-tiba dia berlalri 
dan mengambil dua karton aqua gelas untuk ditipkan kepada korban, katanya. saya 
ingin memotretnya untuk dokumentasi saya tapi dia berlari kencang menolak 
sambil berkata : ah saya hanya sumbang 2 karton air kok mau di potret segala, 
malu ah, katanya. tapi setelah saya paksakan bahwa saya perlu untuk bisa 
mengunjunginya lagi suatu hari, dia mau.meski dengan tersipu malu. waktu saya 
tunjukkan hasil jepretan saya dia tertawa lebar, tetap bilang
aduh saya malu aaah.

dalam perjalanan ke lokasi, saya masih memerlukan bahan-bahan bantuan lainnya 
terutama susu untuk anak-anak dan sanitary napkin untuk ibu2 ( satu hal penting 
yang tak pernah terpikir oleh pemberi bantuan kecuali kelompok perempuan). Saat 
membayar di kasir, seorang ibu dari suku TIonghoa yang kemudian memberikan 
namanya kepada saya : Evelyn,( dengan terpaksa karena saya meminta dengan 
sangat) menyetakan ingin menitipkan bantuan keada korban "berupa 4 karung 
beras. aduh, sebuah mutiara lain dalam kehidupan Jakarta yang kejam ini muncul 
berkilauan. saya terharu, oleh perbuatan dua ibu tadi, kalau saja semua pejabat 
berperilaku seperti ini : berempati pada penderitaan orang lain yang notabena 
rakyat yang memberi mandat kepadanya, mungkin negeri ini sudah makmur sejka 40 
tahun yang lalu. 

saat temannya saya ceitakan peristiwa ini, teman saya nyeletuk : emangnya 
Sutyoso mendapat mandat rakyat mbak ? dia kan dipilih DPRD dan disponsori 
Megawati, jadi itu bukan gubernurku tapi gubernurnya Megawati dan DPRD itu. wuh 
benar juga yaaa? adakah pilkada langsung akan mengatasi persoalan tiadanya 
tanggungjawab pemerintah dan Gubernur ini karena mereka meresa tak diplih 
rakyat melainkan para anggota DPRD atas perintah partainya ? hanya sang waktu 
yang bisa menjawab 

yang jelas dalam pidato awal tahun SBY, masalah pengendalian bencana alam ini 
sama sekali tidak disinggung sehingga lagi-lagi kita menyaksikan betapa tak 
jelasnya politik pemerintah menangani dan melindungi lingkungan hidup dan tentu 
saja terkait juga dengan kesejahteraan masyarakatnya. 

oleh karena itu ajakan salah satu anggota FPK untuk lakukan gugatan secara 
hukum terhadap pemda DKI/Gubernur, sangat layak untuk dipertimbangkan


salam,
NKS 

Kirim email ke