ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Menyakitkan memang, tetapi inilah
Indonesia, bangsa beradab yang selalu terjerembab kedalam lobang yg dibuatnya
sendiri, sampah dibiarkan menumpuk, akhirnya manusia mati tertimbun didalam
nya, para koruptor dipelihara dan di usung karena kekuasaan nya, maka bangsa
ini terjerembab dalam kubangan hutang, hutan2 dibabat habis tanpa ampun, lalu
lumpur raksasa pun mengubur manusia dengan bengis nya, hukum di perjual belikan
lalu yg kere (miskin) pun terjerembab dengan muka babak belur diujung ring
kekalahan...
Inilah wajah kita, wajah keledai2 yg bertelinga manusia, keledai yg terus
menerus terjerembab dalam kubangan yg sama, siapakah hewan yg memimpin bangsa
keledai ini ?
ah..tak heran, ternyata pemimpin2 nya adalah kuda lumping semua, mereka suka
nya makan beling, sering kesurupan dan lupa diri !
BAH !
keledai betina
omie
"HINU E. SAYONO" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
Dan para keledai pun berkumpul di milis RumahKita, milis SastraPembebasan,
milis Nasional-list, dan milis yang lain untuk membicarakan nasib negara
Keledai dan nasib bangsa Keledai di negara yang beribukota di Daerah Khusus
Keledai Ibukota Jakarta Raya.
Slogan yang menggelegar diserukan : "Hai, para Keledai di seluruh negeri
Keledai ini, marilah kita bersatu!"
Untuk apa?
Lha, Keledai kok ditanya.
Sumar Sastrowardoyo wrote:
Kita ini Bangsa Keledai?
Edisi Cetak - Kamis, 08 Februari 2007 Halaman Utama Sekilas Pikiran Rakyat
Kontak Redaksi
> RUBRIK
Utama
Bandung Raya
Jawa Barat
Dalam Negeri
Ekonomi & Keuangan
Pendidikan
Olah Raga
Opini
> SUB RUBRIK
Tajuk Rencana
Kolom
Info Kita
Berita Keluarga
Forum Guru
Manajemen Qalbu
Apa & Siapa
Surat Pembaca
Sekilas Bandung
Sekilas Daerah
Sekilas Dalam Negeri
Sekilas Ekonomi
Sekilas Pendidikan
Sekilas Olah Raga
> WEBMAIL
pikiran-rakyat.co.id
> ARSIP
Pikiran Rakyat
Teropong
Selisik
Belia
Gelora
Kampus
Cakrawala
Otokir
Khazanah
Geulis
Pe eR Kecil
Pakuan
Bekasi Raya-Purwasuka
> OPINI
Kita ini Bangsa Keledai?
Oleh SUWARDJOKO P. WARPANI
SAYA bingung, bangsa kita ini lebih bodoh dari pada keledai atau lebih dungu;
atau saya yang paling bebal di antara berjuta anak bangsa. Konon, seekor
keledai tak akan pernah terperosok di lubang yang sama, sedangkan kita bukan
tidak pernah, tetapi seringkali terperosok (atau memerosokkan diri) justru di
lubang yang sama. Sangat aneh bukan? Dengan bahasa yang lebih halus, kita tak
pernah mau belajar dari pengalaman, kecuali harus mengalami lebih dahulu; itu
pun belum tentu cukup menjadi pelajaran bahkan setelah beberapa kali
mengalaminya.
Mengapa kita harus belajar dari A padahal A sampai P bisa kita pelajari dari
pengalaman orang lain, sehingga kita bisa memulai dari titik Q? Keledai pun
bisa menghindar dari lubang yang sama. Banyak sekali kebijakan kita berkesan
tak bisa belajar dari pengalaman masa lampau. Dalam mengatasi akibat bencana,
kita selalu seperti tergagap-gagap, seperti baru pertama kali mengalaminya,
seperti salah tingkah, dan yang paling "istimewa" adalah hampir selalu
melemparkan tanggungjawab kepada pihak lain, bahkan sering kepada "alam
semesta" yang tak kuasa membela dengan kata.
Alam murka karena kita memanfaatkannya tanpa "cinta". Ruang hijau dikalahkan
oleh bangunan beton, situ/rawa dianggap tak ekonomis lantas ditimbun menjadi
daratan yang laku jual dan laris, bantaran sungai "diserbu" menjadi permukiman,
sungai menjadi ciut dan dangkal; permukaan resapan air di perkotaan nyaris
habis dilanda kepentingan bisnis.
Banjir dan Pariwisata
Banjir Jakarta mengimbas sektor pariwisata Bandung (PR, 5 Feb. 2007). Kata
salah seorang karyawan toko oleh-oleh khas Bandung omzet penjualannya turun
hingga 90%. Inilah penggunaan bahasa yang kurang cermat sehingga bermakna
ganda. Siapa yang bisa memastikan; jualannya berkurang 10% atau tinggal 10% ?
Struktur bahasa seperti ini juga yang kerap menjebak kita pada saat melihat
potongan harga suatu produk/barang di toko; yang ditulis ialah "diskon hingga
75%".
Bila yang terjadi omzet jualannya tinggal 10 %, sungguh penurunan yang drastis
dan sangat fantastis. Katakanlah makna pertama yang dimaksud, jualannya hanya
berkurang 10%, itu pun sudah besar artinya. Banjir Jakarta berimbas pada jualan
oleh-oleh. Lho, kok bisa ? Bukan `mungkin' karena Jakarta banjir, melainkan
`dapat dipastikan' karena Jakarta banjir; itulah yang terungkap dari pernyataan
Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, H. Moh. Askary, dan sangat masuk akal.
Bahwa sejumlah orang Jakarta yang bermaksud berakhir pekan di Bandung telah
membatalkan atau menunda kepergiannya, juga sangat mudah dipahami. Sektor
pariwisata Jawa Barat, khususnya Bandung, terkena imbas banjir Jakarta.
Di sisi lain, Jawa Barat menuai berkah banjir. Orang-orang berduit yang
rumahnya terlanda banjir mengungsi. Mereka tidak mengungsi ke jalan tol, tetapi
hengkang melalui jalan tol mencari hotel sesuai dengan seleranya. Yang terdekat
adalah Jawa Barat dan Banten. Belum ada penelitian seberapa besar dampaknya
terhadap sektor perhotelan, namun keluarga Jamal Mirdad pasti tidak mengungsi
ke tenda di lapangan terbuka. Menurut info, Kak Seto pun ngungsi di hotel.
Di banyak negara, bantaran sungai dapat menjadi arena wisata yang nyaman dan
menyenangkan, bahkan kanal-kanal di Belanda dapat menjadi jalur wisata yang
menghasilkan uang dan kesempatan kerja. Masyarakat turut memelihara karena
mereka menyadari fungsi bantaran sungai tersebut bagi kehidupan dan penghidupan
mereka. Sangat berbeda dengan bantaran sungai di kota-kota kita, khususnya
Jakarta sebagai ibukota negara, pintu gerbang wisata, wajah depan negara, dan
entah berapa puluh lagi atribut yang disandang Jakarta, tetapi bantaran
sungai-sungainya, kotor, jorok, kumuh, serta tak sedap baunya.
Sungai-sungai di Jakarta meluap jauh melampaui daya tampungnya karena hujan,
ditambah air "kiriman" dari daerah hulu, plus saluran tersumbat dan permukaan
resapan banyak yang raib. Salah satu daerah hulunya adalah Bandung. Jadi,
berkurangnya orang Jakarta yang berakhir pekan di Bandung, sedikit banyak
adalah akibat saham daerah Bandung juga, dan semua penduduk di sepanjang aliran
sungai yang kemudian mengalir di wilayah DKI. Hulu sungai-sungai itu ada di
Jawa Barat dan Banten.
Menurut Gubernur DKI, banjir ini adalah bencana periodik lima tahunan. Artinya,
setiap lima tahun dapat dipastikan terjadi dan sekurang-kurangnya kita sudah
tahu sejak lima tahun yang lalu. Sayang, upaya selama lima tahun yang lalu
--kalau ada-- rupa-rupanya masih jauh dari memadai.
Masyarakat pun tampaknya adem ayem selama lima tahun yang lalu. Kebiasaan buang
sampah seenaknya masih menjadi pemandangan sehari-hari, bantaran sungai tetap
saja ditempati atas nama ketiadaan lahan dan kemiskinan. Pembangunan
(pengalihan guna lahan) jalan terus tanpa Amdal, industri tetap saja mengotori
badan air, tanah, dan udara. Otomotif terus berkembang tanpa hirau pada
persediaan BBM, pencemaran udara dan suara, tingkat kecelakaan, dsb. Sekarang
kita amat sulit mengenali wajah polisi karena hidung dan mulutnya tertutup
masker, apalagi bila mengenakan kacamata hitam yang lebar.
Tata ruang wilayah
Perkembangan fisik Jakarta telah "meluap" dan tumpah melimpah di Jawa Barat dan
Banten. Maka volume penglaju dari Jawa Barat dan Banten ke Jakarta sangat besar
dengan akibat kemacetan lalu-lintas yang terjadi setiap hari.
Persoalan lain adalah pembangunan perumahan skala besar oleh para pengembang
cenderung hanya mengejar keuntungan bisnis dan mengabaikan keselamatan
lingkungan. Namanya juga bisnis, jadi pola dasarnya tentu mencari laba
sebesar-besarnya. Bukan semata-mata salah mereka bila sepak terjangnya
memanfaatkan kelemahan kontrol dan mencari celah kelemahan perundang-undangan
yang ada.
Tidak kalah penting fungsinya ialah pembangunan di daerah hulu. Dari sini saja
tampak --dan tak ada satu pun orang yang tidak tahu-- bahwa tata ruang wilayah
suatu daerah jangkauannya melampaui batas wilayah administrasi pemerintahan.
Tata ruang wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, bahkan lebih luas lagi,
tidak dapat dilihat terpisah-pisah. Yang bisa dipisahkan ialah tanggungjawab
administrasi kepemerintahan.
Penyebab banjir Jakarta ditimpakan kepada Jawa Barat dan Banten tentu tidak
sepenuhnya benar, Jawa Barat dan Banten pun tidak bisa serta merta `cuci
tangan'. Bandung pun yang berada di dataran tinggi juga dilanda banjir. Aneh
tapi nyata dan juga terjadi setiap tahun. Musim kemarau, air PAM macet karena
rendahnya debit air, sawah merana karena kekeringan, sedangkan di musim hujan
kelimpahan air tidak terkendali. Kita miskin manajer air.
Tidak taat pada rencana tata ruang itulah kata kunci yang pelan-pelan mulai
disadari. Sayangnya belum tentu dituruti oleh yang kebetulan sedang menduduki
kursi penentu kebijakan. Wilayah hulu adalah satu wilayah pengunungan yang,
nota bene, berada di bawah naungan beberapa daerah otonom (wilayah administrasi
pemerintahan), menyandang fungsi ekologi lingkungan bagi wilayah di bawahnya.
Wilayah ini tidak dapat diiris-iris lantas dibangun sesuai dengan selera
masing-masing daerah atas nama otonomi. Bayangkan, di Indonesia, setiap menit
5,3 ha hutan rusak; lahan kritis di Kab. Bandung mencapai 17.000 ha (PR, 5Feb.
2007).
Semangat yang sekarang sedang mencuat ke permukaan adalah semangat pemekaran
daerah. Pemekaran daerah harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat
ditinjau dari berbagai aspek. Yang amat terasa kini, pemekaran daerah hanya
untuk memperluas peluang jabatan. Untuk tujuan memakmurkan masyarakat, masih
perlu dikaji ulang. Sangat terbuka untuk perdebatan panjang.
Tidak semua daerah perlu dimekarkan, apalagi "pemekaran daerah" selalu bermakna
pada "penciutan wilayah" dan muaranya pada pembagian sumber daya daerah.
Sementara itu, pejabat dan para wakil partai yang harus 'dihidupi' dari daerah
yang semakin ciut wilayahnya justru bertambah.
Kesimpulan
Daerah otonom bukan berarti daerah tertutup semacam "negara" di dalam negara
yang mempunyai kewenangan dan hak tak terbatas dalam mengatur tata ruang
wilayahnya. Koordinasi adalah kata indah dengan harga mewah, tampaknya hanya
mungkin dilaksanakan di negara tetangga kita, yakni Republik BBM. Semua orang,
baik pejabat maupun awam, paham benar makna koordinasi dan mendambakannya.
Namun sungguh amat sangat sulit melaksanakan koordinasi di negara RI. Otda
bukannya meningkatkan kemampuan pembangunan melainkan justru malah menjauhkan
koordinasi, meningkatkan arogansi sektoral dan kedaerahan, dan yang lebih parah
lagi adalah merangsang nafsu pemekaran daerah.
Menhut, Ka'ban mengingatkan, "Kini bukan saatnya berdebat tentang otoritas,
melainkan harus bersinergi antara semua pihak dengan tujuan yang sama". Yang
dimaksud tentunya kesejahteraan masyarakat secara luas.
Wilayah perbatasan yang memiliki karakter geografis homogen tak dapat
diiris-iris seperti kue serabi dibagi-bagi dan dimakan sendiri-sendiri. Wilayah
itu harus ditangani bersama, dikelola bersama, diperlakukan sama untuk
kepentingan bersama yang lebih luas jangkauannya; bukan harus sesuai dengan
selera daerah masing-masing. Sekali lagi, kepentingan bersama, bukan selera
(penentu kebijakan) daerah.
Belakangan disadari bahwa ada yang salah dengan pembangunan Jakarta. Ruang
hijau dilabrak pembangunan, situ ditimbun, bahkan rawa pun ditimbun. Jalan tol
Sedyatmo dengan konstruksi cakar bangau menjadi tidak berfungsi dengan baik
karena rawa tempat sang bangau bertengger sudah menjadi kawasan daratan Pantai
Indah Kapuk. Jalan Sedyatmo merosot turun dengan akibat yang sudah menjadi
rahasia umum. Yang salah ya kita semua, karena membangun bukan di atas landasan
kepentingan kesejahteraan rakyat, melainkan melulu di atas landasan politik.
Penyelesaiannya tidak begitu mudah meskipun jelas di depan mata. Tambah ruang
terbuka hijau, bangun waduk, dan perbanyak situ. Lantas yang di hulu jangan
main babat hutan dan membangun yang berakibat air mudah lari ke hilir. Jelas
tidak mudah karena arogansi sektoral dan kedaerahan yang menjadi kendala utama
koordinasi, plus politikus yang berkeliaran di semua jenjang proyek.
Marilah kita hidup cinta lingkungan, agar lingkungan mencintai kita, agar
penduduk di hilir tidak menderita, agar mereka dapat berwisata di daerah hulu
(pegunungan), agar pariwisata tetap bisa diandalkan, agar orang kota di pesisir
tetap bisa tenang "naar boven" setiap akhir pekan dan liburan.***
Penulis, dosen Program Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, Itenas, dan Unikom
Bandung.
> SUPLEMEN
> IKLAN MINI BARIS
Hotel
Komputer
Lowongan Kerja
Mobil
Rumah
Sepeda Motor
Telepon
(C) 2006 - Pikiran Rakyat Bandung
Dikelola oleh Pusat Data Redaksi (Unit: Cyber Media-Dokumentasi Digital)
Kembali ke Atas
[Non-text portions of this message have been removed]
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Diharapkan Member Milis saling berinteraksi dengan baik dan harmonis.
Dalam suasana kekeluargaan, santai, tidak harus formal, tidak saling menghujat
dan tidak diskriminative.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Never Miss an Email
Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!
[Non-text portions of this message have been removed]
_________________________
SASTRA-PEMBEBASAN, wacana sukasamasuka sastrakitakita
Yahoo! Groups Links
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.
---------------------------------
The fish are biting.
Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends.