sebelumnya bangsa Indonesia suka beramai ramai mengutuk bangsa lain, dengan
atas nama agama selalu mengeluarkan kata kata kutuk ke bangsa lain, tapi
kelihatannya bangsa kita sendiri seolah olah kena kutuk dan hal ini bisa
kita lihat dari bencana di udara, darat dan laut yang tak pernah habis
habisanya.

---------- Forwarded message ----------
From: ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]>
Date: Feb 8, 2007 7:48 AM
Subject: [mediacare] Re: [RumahKita] Kita ini Bangsa Keledai?
To: [email protected], [EMAIL PROTECTED]

  *ati gustiati <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

Menyakitkan memang, tetapi inilah Indonesia, bangsa beradab yang selalu
terjerembab kedalam lobang yg dibuatnya sendiri, sampah dibiarkan menumpuk,
akhirnya manusia mati tertimbun didalam nya, para koruptor dipelihara dan di
usung karena kekuasaan nya, maka bangsa ini terjerembab dalam kubangan
hutang, hutan2 dibabat habis tanpa ampun, lalu lumpur raksasa pun mengubur
manusia dengan bengis nya, hukum di perjual belikan lalu yg kere (miskin)
pun terjerembab dengan muka babak belur diujung ring kekalahan...
Inilah wajah kita, wajah keledai2 yg bertelinga manusia, keledai yg terus
menerus terjerembab dalam kubangan yg sama, siapakah hewan yg memimpin
bangsa keledai ini ?
ah..tak heran, ternyata pemimpin2 nya adalah kuda lumping semua, mereka suka
nya makan beling, sering kesurupan dan lupa diri !

BAH !

keledai betina
omie

*"HINU E. SAYONO" <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:

Dan para keledai pun berkumpul di milis RumahKita, milis SastraPembebasan,
milis Nasional-list, dan milis yang lain untuk membicarakan nasib negara
Keledai dan nasib bangsa Keledai di negara yang beribukota di Daerah Khusus
Keledai Ibukota Jakarta Raya.

Slogan yang menggelegar diserukan : "Hai, para Keledai di seluruh negeri
Keledai ini, marilah kita bersatu!"

Untuk apa?
Lha, Keledai kok ditanya.



Sumar Sastrowardoyo wrote:
Kita ini Bangsa Keledai?






Edisi Cetak - Kamis, 08 Februari 2007 Halaman Utama Sekilas Pikiran Rakyat
Kontak Redaksi



RUBRIK
Utama
Bandung Raya
Jawa Barat
Dalam Negeri
Ekonomi & Keuangan
Pendidikan
Olah Raga
Opini

SUB RUBRIK
Tajuk Rencana
Kolom
Info Kita
Berita Keluarga
Forum Guru
Manajemen Qalbu
Apa & Siapa
Surat Pembaca
Sekilas Bandung
Sekilas Daerah
Sekilas Dalam Negeri
Sekilas Ekonomi
Sekilas Pendidikan
Sekilas Olah Raga

WEBMAIL
pikiran-rakyat.co.id

ARSIP
Pikiran Rakyat
Teropong
Selisik
Belia
Gelora
Kampus
Cakrawala
Otokir
Khazanah
Geulis
Pe eR Kecil
Pakuan
Bekasi Raya-Purwasuka


OPINI
Kita ini Bangsa Keledai?
Oleh SUWARDJOKO P. WARPANI
SAYA bingung, bangsa kita ini lebih bodoh dari pada keledai atau lebih
dungu; atau saya yang paling bebal di antara berjuta anak bangsa. Konon,
seekor keledai tak akan pernah terperosok di lubang yang sama, sedangkan
kita bukan tidak pernah, tetapi seringkali terperosok (atau memerosokkan
diri) justru di lubang yang sama. Sangat aneh bukan? Dengan bahasa yang
lebih halus, kita tak pernah mau belajar dari pengalaman, kecuali harus
mengalami lebih dahulu; itu pun belum tentu cukup menjadi pelajaran bahkan
setelah beberapa kali mengalaminya.

Mengapa kita harus belajar dari A padahal A sampai P bisa kita pelajari dari
pengalaman orang lain, sehingga kita bisa memulai dari titik Q? Keledai pun
bisa menghindar dari lubang yang sama. Banyak sekali kebijakan kita berkesan
tak bisa belajar dari pengalaman masa lampau. Dalam mengatasi akibat
bencana, kita selalu seperti tergagap-gagap, seperti baru pertama kali
mengalaminya, seperti salah tingkah, dan yang paling "istimewa" adalah
hampir selalu melemparkan tanggungjawab kepada pihak lain, bahkan sering
kepada "alam semesta" yang tak kuasa membela dengan kata.

Alam murka karena kita memanfaatkannya tanpa "cinta". Ruang hijau dikalahkan
oleh bangunan beton, situ/rawa dianggap tak ekonomis lantas ditimbun menjadi
daratan yang laku jual dan laris, bantaran sungai "diserbu" menjadi
permukiman, sungai menjadi ciut dan dangkal; permukaan resapan air di
perkotaan nyaris habis dilanda kepentingan bisnis.

Banjir dan Pariwisata

Banjir Jakarta mengimbas sektor pariwisata Bandung (PR, 5 Feb. 2007). Kata
salah seorang karyawan toko oleh-oleh khas Bandung omzet penjualannya turun
hingga 90%. Inilah penggunaan bahasa yang kurang cermat sehingga bermakna
ganda. Siapa yang bisa memastikan; jualannya berkurang 10% atau tinggal 10%
? Struktur bahasa seperti ini juga yang kerap menjebak kita pada saat
melihat potongan harga suatu produk/barang di toko; yang ditulis ialah
"diskon hingga 75%".

Bila yang terjadi omzet jualannya tinggal 10 %, sungguh penurunan yang
drastis dan sangat fantastis. Katakanlah makna pertama yang dimaksud,
jualannya hanya berkurang 10%, itu pun sudah besar artinya. Banjir Jakarta
berimbas pada jualan oleh-oleh. Lho, kok bisa ? Bukan `mungkin' karena
Jakarta banjir, melainkan `dapat dipastikan' karena Jakarta banjir; itulah
yang terungkap dari pernyataan Kepala Dinas Pariwisata Kota Bandung, H. Moh.
Askary, dan sangat masuk akal. Bahwa sejumlah orang Jakarta yang bermaksud
berakhir pekan di Bandung telah membatalkan atau menunda kepergiannya, juga
sangat mudah dipahami. Sektor pariwisata Jawa Barat, khususnya Bandung,
terkena imbas banjir Jakarta.

Di sisi lain, Jawa Barat menuai berkah banjir. Orang-orang berduit yang
rumahnya terlanda banjir mengungsi. Mereka tidak mengungsi ke jalan tol,
tetapi hengkang melalui jalan tol mencari hotel sesuai dengan seleranya.
Yang terdekat adalah Jawa Barat dan Banten. Belum ada penelitian seberapa
besar dampaknya terhadap sektor perhotelan, namun keluarga Jamal Mirdad
pasti tidak mengungsi ke tenda di lapangan terbuka. Menurut info, Kak Seto
pun ngungsi di hotel.

Di banyak negara, bantaran sungai dapat menjadi arena wisata yang nyaman dan
menyenangkan, bahkan kanal-kanal di Belanda dapat menjadi jalur wisata yang
menghasilkan uang dan kesempatan kerja. Masyarakat turut memelihara karena
mereka menyadari fungsi bantaran sungai tersebut bagi kehidupan dan
penghidupan mereka. Sangat berbeda dengan bantaran sungai di kota-kota kita,
khususnya Jakarta sebagai ibukota negara, pintu gerbang wisata, wajah depan
negara, dan entah berapa puluh lagi atribut yang disandang Jakarta, tetapi
bantaran sungai-sungainya, kotor, jorok, kumuh, serta tak sedap baunya.

Sungai-sungai di Jakarta meluap jauh melampaui daya tampungnya karena hujan,
ditambah air "kiriman" dari daerah hulu, plus saluran tersumbat dan
permukaan resapan banyak yang raib. Salah satu daerah hulunya adalah
Bandung. Jadi, berkurangnya orang Jakarta yang berakhir pekan di Bandung,
sedikit banyak adalah akibat saham daerah Bandung juga, dan semua penduduk
di sepanjang aliran sungai yang kemudian mengalir di wilayah DKI. Hulu
sungai-sungai itu ada di Jawa Barat dan Banten.

Menurut Gubernur DKI, banjir ini adalah bencana periodik lima tahunan.
Artinya, setiap lima tahun dapat dipastikan terjadi dan sekurang-kurangnya
kita sudah tahu sejak lima tahun yang lalu. Sayang, upaya selama lima tahun
yang lalu --kalau ada-- rupa-rupanya masih jauh dari memadai.

Masyarakat pun tampaknya adem ayem selama lima tahun yang lalu. Kebiasaan
buang sampah seenaknya masih menjadi pemandangan sehari-hari, bantaran
sungai tetap saja ditempati atas nama ketiadaan lahan dan kemiskinan.
Pembangunan (pengalihan guna lahan) jalan terus tanpa Amdal, industri tetap
saja mengotori badan air, tanah, dan udara. Otomotif terus berkembang tanpa
hirau pada persediaan BBM, pencemaran udara dan suara, tingkat kecelakaan,
dsb. Sekarang kita amat sulit mengenali wajah polisi karena hidung dan
mulutnya tertutup masker, apalagi bila mengenakan kacamata hitam yang lebar.

Tata ruang wilayah

Perkembangan fisik Jakarta telah "meluap" dan tumpah melimpah di Jawa Barat
dan Banten. Maka volume penglaju dari Jawa Barat dan Banten ke Jakarta
sangat besar dengan akibat kemacetan lalu-lintas yang terjadi setiap hari.

Persoalan lain adalah pembangunan perumahan skala besar oleh para pengembang
cenderung hanya mengejar keuntungan bisnis dan mengabaikan keselamatan
lingkungan. Namanya juga bisnis, jadi pola dasarnya tentu mencari laba
sebesar-besarnya. Bukan semata-mata salah mereka bila sepak terjangnya
memanfaatkan kelemahan kontrol dan mencari celah kelemahan
perundang-undangan yang ada.

Tidak kalah penting fungsinya ialah pembangunan di daerah hulu. Dari sini
saja tampak --dan tak ada satu pun orang yang tidak tahu-- bahwa tata ruang
wilayah suatu daerah jangkauannya melampaui batas wilayah administrasi
pemerintahan. Tata ruang wilayah Jakarta, Jawa Barat, dan Banten, bahkan
lebih luas lagi, tidak dapat dilihat terpisah-pisah. Yang bisa dipisahkan
ialah tanggungjawab administrasi kepemerintahan.

Penyebab banjir Jakarta ditimpakan kepada Jawa Barat dan Banten tentu tidak
sepenuhnya benar, Jawa Barat dan Banten pun tidak bisa serta merta `cuci
tangan'. Bandung pun yang berada di dataran tinggi juga dilanda banjir. Aneh
tapi nyata dan juga terjadi setiap tahun. Musim kemarau, air PAM macet
karena rendahnya debit air, sawah merana karena kekeringan, sedangkan di
musim hujan kelimpahan air tidak terkendali. Kita miskin manajer air.

Tidak taat pada rencana tata ruang itulah kata kunci yang pelan-pelan mulai
disadari. Sayangnya belum tentu dituruti oleh yang kebetulan sedang
menduduki kursi penentu kebijakan. Wilayah hulu adalah satu wilayah
pengunungan yang, nota bene, berada di bawah naungan beberapa daerah otonom
(wilayah administrasi pemerintahan), menyandang fungsi ekologi lingkungan
bagi wilayah di bawahnya. Wilayah ini tidak dapat diiris-iris lantas
dibangun sesuai dengan selera masing-masing daerah atas nama otonomi.
Bayangkan, di Indonesia, setiap menit 5,3 ha hutan rusak; lahan kritis di
Kab. Bandung mencapai 17.000 ha (PR, 5Feb. 2007).

Semangat yang sekarang sedang mencuat ke permukaan adalah semangat pemekaran
daerah. Pemekaran daerah harus dilakukan dengan sangat hati-hati dan cermat
ditinjau dari berbagai aspek. Yang amat terasa kini, pemekaran daerah hanya
untuk memperluas peluang jabatan. Untuk tujuan memakmurkan masyarakat, masih
perlu dikaji ulang. Sangat terbuka untuk perdebatan panjang.

Tidak semua daerah perlu dimekarkan, apalagi "pemekaran daerah" selalu
bermakna pada "penciutan wilayah" dan muaranya pada pembagian sumber daya
daerah. Sementara itu, pejabat dan para wakil partai yang harus 'dihidupi'
dari daerah yang semakin ciut wilayahnya justru bertambah.

Kesimpulan

Daerah otonom bukan berarti daerah tertutup semacam "negara" di dalam negara
yang mempunyai kewenangan dan hak tak terbatas dalam mengatur tata ruang
wilayahnya. Koordinasi adalah kata indah dengan harga mewah, tampaknya hanya
mungkin dilaksanakan di negara tetangga kita, yakni Republik BBM. Semua
orang, baik pejabat maupun awam, paham benar makna koordinasi dan
mendambakannya. Namun sungguh amat sangat sulit melaksanakan koordinasi di
negara RI. Otda bukannya meningkatkan kemampuan pembangunan melainkan justru
malah menjauhkan koordinasi, meningkatkan arogansi sektoral dan kedaerahan,
dan yang lebih parah lagi adalah merangsang nafsu pemekaran daerah.

Menhut, Ka'ban mengingatkan, "Kini bukan saatnya berdebat tentang otoritas,
melainkan harus bersinergi antara semua pihak dengan tujuan yang sama". Yang
dimaksud tentunya kesejahteraan masyarakat secara luas.

Wilayah perbatasan yang memiliki karakter geografis homogen tak dapat
diiris-iris seperti kue serabi dibagi-bagi dan dimakan sendiri-sendiri.
Wilayah itu harus ditangani bersama, dikelola bersama, diperlakukan sama
untuk kepentingan bersama yang lebih luas jangkauannya; bukan harus sesuai
dengan selera daerah masing-masing. Sekali lagi, kepentingan bersama, bukan
selera (penentu kebijakan) daerah.

Belakangan disadari bahwa ada yang salah dengan pembangunan Jakarta. Ruang
hijau dilabrak pembangunan, situ ditimbun, bahkan rawa pun ditimbun. Jalan
tol Sedyatmo dengan konstruksi cakar bangau menjadi tidak berfungsi dengan
baik karena rawa tempat sang bangau bertengger sudah menjadi kawasan daratan
Pantai Indah Kapuk. Jalan Sedyatmo merosot turun dengan akibat yang sudah
menjadi rahasia umum. Yang salah ya kita semua, karena membangun bukan di
atas landasan kepentingan kesejahteraan rakyat, melainkan melulu di atas
landasan politik.

Penyelesaiannya tidak begitu mudah meskipun jelas di depan mata. Tambah
ruang terbuka hijau, bangun waduk, dan perbanyak situ. Lantas yang di hulu
jangan main babat hutan dan membangun yang berakibat air mudah lari ke
hilir. Jelas tidak mudah karena arogansi sektoral dan kedaerahan yang
menjadi kendala utama koordinasi, plus politikus yang berkeliaran di semua
jenjang proyek.

Marilah kita hidup cinta lingkungan, agar lingkungan mencintai kita, agar
penduduk di hilir tidak menderita, agar mereka dapat berwisata di daerah
hulu (pegunungan), agar pariwisata tetap bisa diandalkan, agar orang kota di
pesisir tetap bisa tenang "naar boven" setiap akhir pekan dan liburan.***

Penulis, dosen Program Perencanaan Wilayah dan Kota ITB, Itenas, dan Unikom
Bandung.

SUPLEMEN





IKLAN MINI BARIS
Hotel
Komputer
Lowongan Kerja
Mobil
Rumah
Sepeda Motor
Telepon









(C) 2006 - Pikiran Rakyat Bandung
Dikelola oleh Pusat Data Redaksi (Unit: Cyber Media-Dokumentasi Digital)
Kembali ke Atas





[Non-text portions of this message have been removed]



~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Diharapkan Member Milis saling berinteraksi dengan baik dan harmonis.
Dalam suasana kekeluargaan, santai, tidak harus formal, tidak saling
menghujat dan tidak diskriminative.
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
Yahoo! Groups Links






---------------------------------
Never Miss an Email
Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!

[Non-text portions of this message have been removed]



_________________________
SASTRA-PEMBEBASAN, wacana sukasamasuka sastrakitakita
Yahoo! Groups Links




------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels
in 45,000 destinations on Yahoo!
Travel<http://travel.yahoo.com/hotelsearchpage;_ylc=X3oDMTFtaTIzNXVjBF9TAzk3NDA3NTg5BF9zAzI3MTk0ODEEcG9zAzIEc2VjA21haWx0YWdsaW5lBHNsawNxMS0wNw-->to
find your fit.


------------------------------
The fish are biting.
Get more 
visitors<http://us.rd.yahoo.com/evt=49679/*http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php?o=US2140&cmp=Yahoo&ctv=Q107Tagline&s=Y&s2=EM&b=50>on
your site using Yahoo!
Search 
Marketing.<http://us.rd.yahoo.com/evt=49679/*http://searchmarketing.yahoo.com/arp/sponsoredsearch_v2.php?o=US2140&cmp=Yahoo&ctv=Q107Tagline&s=Y&s2=EM&b=50>


------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for
Mobile<http://us.rd.yahoo.com/evt=43909/*http://mobile.yahoo.com/mail>and
always stay 
connected<http://us.rd.yahoo.com/evt=43909/*http://mobile.yahoo.com/mail>to
friends.


Kirim email ke