Dear all

Kok sedikit sekali yah publikasi di media tentang biaya kesehatan yang semakin 
MENCEKIK dan dokter yang masih TIDAK RASIONAL.

Tulisan yang telah menyentuh hati nurani saya.....

Sengaja saya posting disini....mohon maaf jika ada yang kurang berkenan.

Banyak sekali hiknaM/ pesan moral yg bisa kita ambil dari cerita Pak Teddy ini.

Semoga bisa menjadi oleh-oleh berharga di sela keletihan kita sehabis menjemput 
rezeki.

Kapan ya Republik ini...???

salam BBM(baru bisa mimpi)
bapakeghozan.

Sakit Bermartabat

Jumat, 09 Februari 2007


Pak Ara adalah penjaga barak di Situ Lembang. Ini bukan tempat sembarangan. Di 
sini ribuan anak didik Kopasus melewatkan hari-hari pendidikan komando, masa 
penggodokan di kawah Candradimuka di medan hutan rimba komplek Gn.Burangrang, 
Tangkuban Perahu. Begitu juga kelompok pecinta alam seperti Mahitala Unpar, 
Wanadri, Aesculap FK Unpad, sampai ke THC, akrab dengan Situ Lembang selama 
minggu-minggu pendidikan dasar pencinta alam atau pelatihan lainnya. 
Barak pelatihan komando di Situ Lembang ini memang acap dipinjamkan bila sedang 
tidak dipakai oleh Pusdik Kopasus Batujajar kepada kelompok pencinta alam yang 
membutuhkan tempat untuk melaksanakan pendidikan dasar dan latihan di alam 
terbuka. 

Pak Ara sudah melihat semua. Sejak datang, berlatih, berkeringat, kedinginan, 
luka, darah dan tangis, digampar, kecelakaan dan bahkan ada yang mengalami 
patah tulang. Atau yang drop-out di tengah jalan versus ribuan lainnya yang 
berhasil lulus menjadi orang-orang beken. 

Pertama kali saya ketemu pak Ara adalah pada bulan April 1974. Kemudian 
beberapa kali saya nongkrong sambil ngobrol kesana-kemari bersama beliau di 
depan hangatnya tungku kayu bakar di dapur Situ Lembang sambil ngabeuleum ubi 
atau singkong. Beliau selalu berucap dengan santun dan lembut. Pengetahuannya 
tentang wilayah Tangkuban Perahu, Burangrang seperti kita tahu telapak tangan 
kita sendiri.Pak Ara dan keluarganya memang tinggal di sana.

Saat itu kami sama sekali tidak pernah membayangkan masa depan seperti apa yang 
akan kami alami. Yang kami lakukan hanyalah menghangatkan badan di tengah 
dingin-lembabnya tempat itu. Zaman itu karena belum ada listrik, Situ Lembang 
sangat gelap dan penerangan hanya berasal dari api dapur atau senter. Kami 
tidur di barak kayu bersaf-saf. 

Sekitar 5 minggu lalu saya mendapat kabar bahwa pak Ara sakit keras dan beliau 
sudah sepuh sekali. Benar, tidak terasa waktu sudah berjalan hampir 33 tahun 
sejak saya kenal beliau. Beberapa rekan dari Mahitala Unpar memberitahukan 
peristiwa ini dan atas inisiatif mereka Pak Ara yang harus dioperasi berhasil 
dirawat di RSK Boromeus Bandung. 

Bersama alumni Mahitala, rekan-rekan Wanadri, berusaha urunan mengumpulkan uang 
dan memintakan keringanan biaya karena beliau tidak mempunyai dana untuk 
kesehatannya, sayang tidak dikabulkan. Namun syukurlah akhirnya operasi 
berjalan lancar dan kondisi kesehatan Pak Ara membaik dan akhirnya 
diperbolehkan pulang. 

Kisah Pak Ara dan masalah kesehatannya, mengingatkan saya tentang martabat 
manusia. Beberapa waktu lalu saya pernah menulis tentang Mudik Bermartabat dan 
selama mengikuti berita sakit pak Ara saya acap kali berpikir, setidaknya pak 
Ara ada yang mengurus, tapi tak terbayangkan ada berapa lagi pak Ara atau bu 
Ara lain yang ada di luar sana. Mereka yang sepuh dan membutuhkan perawatan 
kesehatan, namun tidak punya kemampuan dana dan tidak punya orang yang 
memedulikan mereka. 

Saya sekarang bemukim di Selandia Baru, berstatus imigran tetap. Selama ini 
karena tidak memerlukan saya tidak pernah menggunakan fasilitas kesehatan di 
sini. 

Sampai 2 minggu lalu saya harus pergi ke dokter karena kaki sering gatal melulu 
eczema dan selalu di tempat itu-itu aja di betis. Kalau udah gatel akhirnya 
jadi tebel dan hilang setelah diberi cortisone. Tapi entah kenapa suka timbul 
lagi.Tidak jelas sebabnya apakah karena kelembaban udara yang kering. Di 
Jakarta memang suka kumat juga tapi cukup diberi krim pelembab saja sebagai 
penangkal selama ini.

Dokter yang memeriksa saya kebetulan adalah seorang wanita asal Indonesia, 
orang Jakarta. Namanya Dr.Hartanti. Dia sekolah di Frankfurt dan kawin dengan 
orang NZ jadi sekarang bermukim di sini. Saat diperiksa semua ditanyakan dengan 
teliti, dari mulai status visa apakah sebagai imigran atau turis, sejarah 
penyakit apa saja yg mesti tahu..dll sangat detail. Semua detail tadi 
dimasukkan ke database computer sentral National Health Services. Sesudah 
dilihat dan diperiksa, saya diberi obat salep dan obat tablet 

Dokternya lantas bilang "karena anda berstatus imigran tetap anda mendapat 
subsidi tapi maaf....kita mesti kasih obat yg murah kalau tidak mempan baru 
dicarikan obat yang lebih baik yang mungkin lebih mahal"

Saya jawab "Ya tidak apa, asal sembuh aja. Diberi obat generik juga ok dok!" 
(otak masih pake kurs rupiah jadi syerem takut mahal kalau pake obat bermerk 
beken.) 

Semua dijelaskan cara pakai dan sebagainya. Terakhir bu dokter tanya lagi apa 
ada hal lain lagi yang perlu dijelaskan, saya lalu minta obat pencegahan asma 
karena saya juga sejak kecil mengidap asma.

Selesai diperiksa saya diantarnya ke resepsionis dan diberitahukan utk membuat 
janji seminggu kemudian. Lantas bayar NZ$ 24 (kalau turis atau non imigran NZ$ 
55). 

Kemudian saya pergi ke apotik di sebelahnya, masih di dalam kompleks pertokoan 
itu. Setelah menunggu sekitar 15 menit, obatnya datang dan saya harus membayar 
obat tsb. Ternyata hanya NZ$ 9 (NZ$ 1 = Rp. 6500 kira-kira sekarang, 7 thn lalu 
Rp. 4000/$). Wah murah juga padahal obatnya lumayan banyak. Bisa untuk stok 3 
bulan. Saat itu saya masih berpikir itu cuma obat generik karena obatnya memang 
dibungkus kantong kertas 


Sampai di rumah masih belum sadar dan tidak lihat-lihat lagi.. tapi pas sedang 
bersih-bersih lihat ada bon dari apotik yang kemarin itu. Kaget melihat 
detailnya:

Perinciannya sbb:

Jenis Obat >>> Harga Eceran >>> Subsidi Pemerintah >>> Bayar
-----------------------------------------------------------
Obat tablet >>> $28,72 >>> $25.72 >>> $3.00
Inhaler >>> $27.10 >>> $24.10 >>> $3.00
Salep 100 gr >>> $23.36 >>> $20.36 >>> $3.00

Dan ketika saya perhatikan lagi obatnya dengan teliti ternyata yg tablet itu 
buatan Pfizer, salepnya Yamanouchi "made in" Belanda dan inhaler dari Swedia. 
Jadi obatnya impor semua. Bukan cuma itu, obat ini termasuk garansi, istilahnya 
"customer satisfaction guarantee" sebab di apotik sempat diwanti-wanti jika 
obat tabletnya bisa bikin batuk jadi kalau batuk langsung kembali supaya 
diganti dengan yang lain. Oya sekedar tambahan info di NZ sini dokter gigi 
gratis untuk anak-anak sampai usia 18 thn. Dengan syarat tiap 6 bulan sekali 
wajib ke dokter gigi kontrol. Dokternya boleh yang mana saja tapi semuanya 
gratis. 

Tiba-tiba saja saya teringat di bagian lain dari dunia ini, tepatnya di 
Jakarta. Kejadian beberapa waktu lalu, office boy kantor teman saya sakit flu 
berat dan ke dokter dekat rumahnya. Dokternya ngasih obat (walau sebenarnya 
tidak boleh, memangnya dokter dispensing atau jualan gitu?). Biaya habis Rp. 
140.000.- Si OB tanya "saya sakit apa dok?" Eh malah dibentak dengan judes 
(menurut si OB), "udah tidak usah banyak tanya makan saja obatnya nih..."

Lha wong dia bayar koq bukannya gratisan, astaga.

Oleh teman saya ketika dilihat obatnya cuma antibiotik dan anti histamine 
generik. Dan tidak ada rincian berapa harganya. Kwitansinya pun asal-asalan 
nulisnya, nama pasien saja salah tulis. 

Bukannya mau membanggakan, melecehkan atau sok membanding-bandingkan tapi 
perlakuannya itu lho dan betapa untuk sekedar sembuh dari sakit sudah merupakan 
sebuah kemewahan di Indonesia, buat mereka yang tidak berduit. 

Yang berduit ya bisa milih untuk sembuh secara lebih bermartabat, ke Singapura, 
Malaka, Kuala Lumpur, Bangkok, Shanghai, Sydney. 

"Sing waras ngalah" barangkali itu filosofinya. 

Moralitas praktisi kesehatan sudah ikutan sangat sangat miring seperti 
moralitas kaum terhormat di lembaga Legislatif. Ada banyak dokter yang baik 
tentu saja. Hanya saja mereka sudah jadi minoritas. Kita banyak sekali 
mendengar kisah-kisah seram dari mulut ke mulut perkara horror di Rumah Sakit. 
Tentang bagaimana seseorang tanpa jaminan uang ditangguhkan penanganannya meski 
sudah sekarat.

Padahal kesehatan termasuk salah satu kebutuhan yang paling mendasar. Saya 
pikir sekali lagi ini salah satu aspek hidup madani yang kita cita citakan.. 
sebuah pelayanan kesehatan yang menjaga martabat manusiawi kita.

Di NZ tentu saja bukannya tidak ada keluhan atau kejadian luar biasa. Seperti 
beberapa malam lalu diberitakan di TV, soal jual beli organ tubuh seperti 
ginjal dan liver dialami juga disini. Selalu ada saja orang yang butuh duit dan 
orang butuh mau hidup. Dan ketika dua kepentingan ini bertemu ya terjadilah 
transaksi. 

Tetapi secara mendasar di Indonesia hidup sehat jadinya sangat penting sekali, 
sebab sakit itu mewah sih. Semoga kita semua tetap menjaga diri agar tetap 
sehat itu pilihan terbaik.

Alangkah pedih hati saya bila kembali teringat cerita sakitnya pak Ara tadi. 
Sebab ada berapa banyak pak dan bu Ara lain yang ketika sakit luput dari 
pengetahuan dan kemampuan kita untuk turut membantu.

Tidak bisakah kita untuk sekedar sakitpun bermartabat? Masak kita mau 
mengatakan "Orang miskin DILARANG SAKIT?

Teddy Halim
url: http://www.mediakonsumen.com/Artikel374.html

Kirim email ke