Kolom IBRAHIM ISA
Jum'at,  09 Februari 2007
--------------------

TIONGKOK yang  KUKENAL (3)
Mengenal Tiongkok!
Bisa sederhana. Bisa juga pelik dan rumit. Banyak tergantung dari
situasi per individu. Bagaimana titik tolak dan latar belakang sejarah
yang bersangkutan. Last but not least, bagaimana pula kecenderungan
politiknya.

Banyak yang  bukan orang Tiongkok, memperoleh gambaran atau ide
tentang Tiongkok dari berita atau literatur. Dari pelajaran sejarah di
sekolah ataupun di perguruan tinggi. Bisa juga dari ceitera orang yang
pernah berkunjung atau tinggal di Tiongkok. Ada juga yang dirinya
sendiri pernah berkunjung atau bahkan tinggal di Tiongkok dalam waktu
tertentu. Tetapi, akhirnya tokh, tergantung pilihan yang bersangkutan.
Apa  maunya.  Apa yang ia ingin ketahui atau   hendak kenal  tentang
Tiongkok. Mau mencari yang negatifnya (saja), pasti akan menjumpainya.
Mau mencari yang positifnya juga pasti banyak. Mau berusaha obyektif
juga bukan tidak mungkin.

Nanti kita lihat bersama, bagaimana  seorang  jurnalis Amerika,
wartawan UPI, Jack Belden,  menulis buku terkenal 'CHINA CHAKES THE
WORLD' (1949),  ---  'Tiongkok Menggemparkan Dunia' (Edisi Bahasa
Indonesia: 'NAGA MERAH'). Bagaimana pula Jung Chang, orang Tiongkok
dan suaminya orang Inggris, Jon Halliday, menulis tentang Mao:  'Mao,
Ceritera yang Tidak Dikenal',  2005.

*    *    *
Bisa juga kukenangkan kembali bagaimana aku sendiri mula mengenal
Tiongkok. Ini kasus lebih sederhana, karena itu pengalamanku sendiri.
Pada suatu ketika, awal tahun 1950-an,  sesudah tercapainya perdamaian
antara Republik Indonesia dan Kerajaan Belanda (akhir 1949), banyak
buku dan literatur luarnegeri masuk  Indonesia. Tidak sedikit
literatur yang mengisahkan berdirinya Republik Rakyat Tiongkok, yang
diproklamasikan pada tanggal 1 Oktober 1949. Ketika itu banyak
'breaking news' tentang Tiongkok. Umumnya mengisahkan keheibatan
tentara Komunis di bawah pimpinan Mao Tsetung dan Chu Teh, yang
berhasil memusnahkan  tentara Kuomintang di bawah pimpinan
Jenderalisimo Chiang Kai-sjek, dengan jumlah jutaan dan peralatan
serta persenjataan modern dari AS.  Diberitakan bagaimana sisa-sisa
kekuatan KMT  yang korup dan bobrok serta bangkrut itu lari
terbirit-birit ke Taiwan. Diberitakan pula bagaimana pemerintah
Tiongkok Baru,  pemerintah RRT, mengatasi inflasi, memulihkan
ketenteraman serta menjalankan kembali roda ekonomi negeri, melakukan
pembagian tanah kepada kaum tani, melaksanakan landreform,  serta
mengakhiri kriminalitas, pelacuran, perjudian, dll kemaksiatan dalam
masyarakat lama Tiongkok di bawah kekuasaan Kuomintang.

Tak kujumpai  ada pemberitaan yang membantah kebobrokan KMT yang kalah
didaratan Tiongkok dan lari ke Taiwan. Juga tidak ada berita yang
menyanggah bahwa tentara Komunis di bawah pimpinan Mao Tsetung dan Chu
Teh, telah berhasil membereskan negeri dan memulihkan perdamaian di
Tiongkok.
*   *   *
'CHINA SHAKES THE WORLD' (1949),  karya Jack Belden.
Entah dari siapa pertama-tama aku mendengar tentang buku Jack Belden
itu . Tak ingat lagi. Tapi kuingat buku itu kubeli di Toko Buku
'Indira' di Menteng, Jakarta. Buku Jack Belden, wartawan UPI, yang
terkenal:  'CHINA SHAKES THE WORLD' (1949) –  'Tiongkok Menggoncangkan
Dunia', segera menjadi 'bestseller'. Lakunya seperti pisang goreng,
kata orang kita.  Kuingat, kemudian  nama buku itu kudengar lagi, dari
sahabatku Sidharta  pimpinan SBKB, Serikat Buruh Kendaraan Bermotor,
salah seorang pendiri Lekra <Meninggal dunia  kemarin  07 Februari di
Tjianjur, Jabar, Indonesia>. S.Dharta, atau Klara Akustia, nama
penanya, menganjurkan aku  agar membaca buku itu sampai selesai. S.
Dharta memuji ketelitian dan kegairahan Jack Belden menulis tentang
revolusi Tiongkok. Baik dari segi fakta-faktanya,  analisisnya, maupun
dari segi profesionalismenya sebagai wartawan. Dharta menyatakan
padaku, bahwa ia  tidak pernah membaca  buku tentang perkembangan
revolusioner di Tiongkok sebagus  buku Jack Belden.

Bagiku, membaca buku Jack Belden  'China Shakes The World' ketika itu,
melengkapi gambaran yang kuperoleh dari  pemberitaan dan literatur
lainnya mengenai Tiongkok di bawah KMT, dan bagaimana kaum Komunis
Tiongkok telah berhasil  membebaskan  serta mempersatukan Tiongkok.
Membaca buku Jack Beldn, seakan-akan pembaca dibawa ikut menyaksikan
sendiri dari tahap ke tahap, perkembangan revolusi Tiongkok yang
menggemparkan dunia sampai mencapai kemenangan gemilang dan historis.

Dulu, Barat menamakan Tiongkok 'orang sakit Asia' – 'The sick man of
Asia'. Berkat suatu proses revolusioner, Tiongkok  lahir kembali
sebagai raksasa yang segar bugar. Dalam pada itu masih jelas dalam
ingatanku sebuah toko buku milik  perusahaan Tionghoa di Glodok, yang
 dalam tahun 1950-an,  banyak menjual buku-buku tentang revolusi
Tiongkok dan Tiongkok Baru. Toko buku itu sering sekali kukunjungi
untuk membeli literatur terbaru mengenai Tiongkok Baru. Inilah
sebabnya a.l. sejak muda, aku menaruh simpati terhadap perjuangan
revolusioner rakyat Tiongkok dan terhadap Tiongkok Baru.

Kesanku sama seperti kesan seorang pembaca di Amerika, bernama Zhou Bi
Liang, graduate student State College, PA,  USA. Ia   menulis: Sesudah
membaca edisi bahasa Tionghoa buku 'CHINA SHAKES THE WORLD', saya
berterimakasih kepada Jack Belden (meninggal 1989  di Paris dalam usia
79th). Jack Belden secara hidup dan setia pada fakta mencatat Perang
Saudara Tiongkok, yang secara fundamental telah menghancurkan masa
lampau Tiongkok dan membuka jalan ke arah modernisasi.

Pembaca lainnya, Zhang Yinshu , Herdon, Virginia, AS, menyatakan
tentang buku CHINA SHAKES THE WORLD, sbb: Buku ini yang telah amat
menyentuh hatiku, begitu uniknya, betapa telah membelokkan pandangan
umum di Amerika, meskipun penulisnya tidak bermaksud demikian.
Sedemikian jauh, apa yang kita ketahui tentang Partai Komunis Tiongkok
(ketika itu) tidak lebih dari suatu partai yang anti hak-hak azasi
manusia, biadab, yang maniak dan berakal busuk. Tetapi sementara dari
kalian mungkin bertanya-tanya, tulis Zhang, barangkali dalam fikiran
anda ada suatu pertanyaan yang sayup-sayup sampai: bagaimana
orang-orang Komunis Tiongkok itu bisa memenangkan  perang saudara di
Tiongkok dalam tahun 1940-an; bagaimana mereka bisa mengalahkan
tentara PBB dalam tahun 1950 . . .  . . .   Bila masih ada pertanyaan
lagi, akan anda temukan dalam buku Jack Belden. Bolehlah saya katakan
bahwa inilah satu-satunya buku yang akan membikin anda memahami
Tiongkok masa lampau dan masa kininya.Demikian Zhang.

Satu lagi komentar terhadap buku Jack Belden CHINA SHAKES THE WORLD,
dari J. Michael Showalter, Tennesee, AS, sbb: Buku ini benar-benar
heibat. Ia mencatat Tiongkok di bawah pemerintah Nasionalis Tiongkok,
ditulis oleh seorang wartawan Amerika, yang akhirnya terpesona oleh
Tentara Pembebasan Rakyat di bawah pimpinan Mao, bukan disebabkan oleh
ideologi, tetapi oleh  daya tarik rakyat Tiongkok  . . . .  yang
menderita. . . Benarlah,  karya Jack Belden mengisahkan  bagaimana
melalui Komunisme, rakyat Tiongkok telah membebaskan dirinya dari
penindasan feodalisme . . . . .  dan memberikan arah untuk  memahami
MENGAPA  rakyat  <kecuali pada periode 'Maju Melompat Besar' dan pada
'Revolusi Kebudayaan'>  masih dapat  menghormati Mao Tjetung sebagai
pemimpin dan pembebas bangsa . . .

*    *     *

Sehubungan dengan usaha untuk bisa mengerti dan mengenal  Tiongkok dan
juga dengan membaca bahan-bahan dari sumber yang antagonis terhadap
sistim politik dan pemerintahan Tiongkok sekarang ini, hal itu  dewasa
ini tidaklah sukar. Sering-sering buku sejenis itu, malah laris,
menjadi 'bestseller'.

Buku yang tergolong baru terbit,  yang kritis terhadap  pemerintahan
Tiongkok sekarang, antara lain,  adalah yang ditulis oleh Jung Chang
dan  Jon Halliday. Jung Chang adalah penulis novel 'Angsa-angsa Liar',
 yang bestseller. Jon Halliday, adalah suami Jung Chang, seorang
historikus berbangsa Inggris. <edisi bahasa Belanda, -- kuperoleh dari
SML.Sekali lagi terima kasih kepada SML>

Judul buku: 'MAO, -- CERITERA YANG TAK DIKENAL . Judul aslinya <edisi
bahasa Inggris>: 'MAO, The Unknown Story'.  Yang ada di tanganku
adalah edisi bahasa Belanda, berjudul: 'MAO, Het Onbekende Verhaal'.
Menurut penerbitnya, Jung Chang dan suaminya sejarawan Inggris Jon
Halliday, menulis buku mereka atas dasar penelitian dan studi selama
11 tahun. Maksud Jung Chang dan Halliday adalah mengungkap ceritera
tentang Mao yang, katanya,   belum dikenal orang. Buku itu terbit
dalam tahun 2005. Penerbit: Jonathan Cape,  London. Tebal: 942
halaman. Netto isi: 795 halaman. 152 halaman terdiri dari a.l., ucapan
terima kasih; daftar orang-orang yang diwawancarai;  catatan;
kepustakaan dari sumber-sumber Tiongkok; bibliografi dari sumber
bukan-Tiongkok dan register.  Dihiasi dengan 39 foto dan  pada cover
buku, 1 sebuah foto potret-Mao. Juga terdapat4 halaman peta Tiongkok.

*   *   *

Bila menemukan buku tsb di toko buku atau di perpustakaan, dari luar
memang tampaknya 'bukan sebarang buku'. Menurut penerbitnya,  buku
Jung Chang  (terjemahan bebas, I.I.) 'adalah sebuah biografi tentang
Mao. Suatu karya yang paling terdokumentasi yang pernah terbit
mengenai Mao. Menurut Jung Chang dan Halliday,  Mao bukan seorang yang
 dikhayati oleh idealisme atau ideologi. Mao adalah seorang tukang
intrik, yang meracuni dan memeras orang. Tujuan rahasia yang
diperjuangkan Mao adalah menguasai dunia'.

Apa yang ditulis oleh penerbitnya tentang buku Jung Chang, ditegaskan
 lagi oleh Jung Chang sendiri dalam awal Bab 1, bukunya, sbb:

'Mao Tjetung, yang selama puluhan tahun menguasai peri kehidupan
seperempat penduduk dunia, adalah yang bertanggung-jawab atas matinya
kira-kira 70 juta orang di masa damai, suatu tanggungjawab yang lebih
besar terbanding  tanggungjawab pemimpin manapun dalam abad ke-21 '

Selanjutnya pada halaman 25 edisi bahasa Belanda,  Jung Chang menulis
sbb: 'Latar belakang tani Mao, tidak menyebabkan ia dikhayati oleh
idealisme tentang memperbaiki nasib kaum tani Tiongkok'.

Sedangkan dalam 'Epilog' pada halaman 795, Jung Chang dan Halliday,
mengakhiri penulisannya dengan  menandaskan: 'Juga sekarang ini,
potret Mao dan jenazahnya masih mendominasi Lapangan Tiananmen,
ibukota Tiongkok. Rezim  komuis yang sekarang ini masih menamakan
dirinya pewaris Mao dan dengan cara yang agresif meneruskan mitos Mao'.

Kiranya  jelaslah apa tujuan Jung Chang dan suaminya historikus Jon
Halliday, menulis buku itu. Buku Jung Chang dan Halliday terkenal,
menjadi bestseller, diterjemahkan entah dalam berapa bahasa. Ada yang
memujinya, ada pula yang mempersoalkan, mengeritik dan menyanggahnya.
 Baik dimulai dengan pujian terhadap buku Jung Chang.

PUJIAN-PUJIAN
Perry Link, profesor pada East Asian Studies, Princeton University,
menulis suatu review di penerbitan The Times Literary, August 2005.
Ia menilai positif buku Jung Chang.

Seorang  Profesor Emeritus pada London School of Economics, Prof
Michael Yahuda,  menyatakan sokongannya pada buku Jung Chang.  Dalam
s.k. 'The Guardian'  Yahuda menyebut buku Jung Chang itu sebuah 'buku
cemerlang'  dan suatu 'karya  yang menakjubkan'.

Banyak lagi komentar yang memuji buku Jung Chang dan Jon Halliday.

*   *   *

KRITIK-KRITIK terhadap buku Jung Chang.
Penulis-penulis dan akademisi-akademisi lainnya mengkritik atau
mempertanyakan tentang buku Jung Chang itu. Umumnya para pengeritisi
itu mempermasalahkan sekitar sifat (maksudnya barangkali: mutu. I.I.)
sumber-sumber yang digunakan buku itu. Teristimewa,  karena
sumber-sumber tsb tidak bisa diakses atau samasekali  tidak bisa
dipercaya. Point lainnya yang berulang-kali diajukan pengeritisi ialah
bahwa imago Mao, seperti yang digambarkan oleh Jung Chang dan
Halliday, terlalu dangkal, atau fokusnya terlalu disasarkan pada
orangnya dan bukan pada Partai Komunis.

Salah seorang dari pengeritisi buku Jung Chang, Philip Short, seorang
penulis buku 'Mao, Suatu Kehidupan',  termasuk yang pertama yang
memberikan reaksi terhadap buku Jung Chang. Philip Short yakin bahwa,
Jung Chang berat sebelah dalam pandangannya bahwa  hanyalah Mao yang
disalahkan untuk segala musibah yang diderita Tiongkok.

Pengeritisi lainnnya lagi,  Andrew Nathan, Profesor dan Chair pada
Departemen Ilmu Politik pada
Universitas Columbia, menulis  (penilaian yang menyeluruh) dalam
London Review of Books. Prof Nathan khawatir  bahwa banyak dari
penelitian yang dilakukan oleh Jung Chang, sangatlah sulit
dikonfermasi, atau samasekali tak bisa dipercaya. Prof Nathan menilai
bahwa,  banyak sumber yang dikemukakan oleh Jung Chang dan Halliday,
tidak bisa dicek, sedangkan lainnya terang-terangan spekulatif atau
didasarkan atas bukti-bukti tak langsung dan sambil lalu saja , dan
sementara tidak benar. Menurut Prof Nathan, kemarahan penulis,
halamana bisa dimengerti sepenuhnya,  telah membentuk buku baru ini.

Pengeritisi lainnya lagi, Profesor Thomas Bernstein dari Columbia
University, menganggap buku Jung Chang dan Halliday sebagai suatu
'bencana besar' bagi usaha penelitian tentang Tiongkok  dewasa ini . .
. . . .  Karena penulis menggunakan aparat penelitian yang
menakjubkan,  maka klaim-klaim mereka, dikira akan diterima orang
..... Namun kesarjanaan mereka itu digunakan sepenuhnya untuk
menghancurkan secara total reputasi (jasa) Mao. Maka hasilnya ialah
sama, yaitu kutipan-kutipan menakjubkan yang diambil diluar konteks
samasekali, pemalsuan fakta-fakta dan dihilangkannya banyak hal. Yaitu
fakta-fakta  yang sebenarnya telah membentuk Mao, sebagai seorang
pemimpin yang  kompleks, kontradiktif dan banyak seginya.( A Swan
little book of Ire, 07.10.2005)

*   *   *

Bagiku, untuk mengenal siapa Mao,  pasti tidak mungkin bila itu hendak
diperoleh  hanya dari ceritera-ceritera, yang dikatakan  diperoleh
dari orang yang pernah dekat dengan Mao. Atau dari dokumen-dokumen
yang ternyata banyak yang tidak bisa dicek  kebenarannya. Atau dari
ucapan-ucapan Mao yang terlepas dari konteksnya.

Untuk mengetahui siapa Mao, ide-idenya, tidak bisa lain, harus membaca
sendiri karya-karya yang ditulisnya. Selama periode Mao memimpin
Partai Komunis dan negara, paling sedikit ia telah menulis karya
politik teori dan ideologi, terkumpul dalam PILIHAN KARYA MAO TJETUNG,
yang terdiri dari empat jilid. Itu adalah karya-karya pilihan. Belum
lagi lainnya terpisah-pisah yang tidak termasuk pilihan. Selain itu
banyak pembicaraan Mao dalam perbagai periode, yang didokumentasi oleh
CC PKT. Melihat daftar bibliografi/kepustakaan asal Tiongkok dalam
buku Jung Chang dan Jon Halliday – paling tidak ada 21
bahan/buku.dokumen yang dengan nama Mao, pembaca berasumsi semua
bahan-bahan itu dibaca dan dipelajari oleh Jung Chang dan Halliday.

Dengan (cukup) membaca empat jilid 'Pilihan Karya Mao Tjetung' ,
sebagai dasar, orang sudah bisa menyimpulkan bahwa, apa yang ditulis
Mao itu adalah teori dan praktek suatu revolusi. Oleh penulisnya
dinamakan REVOLUSI DEMOKRASI BARU. Revolusi Demokrasi Baru, menurut
teori dan praktek revolusi Tiongkok, hakikatnya adalah revolusi tani.
Hakikatnya perubahan tanah untuk memperbaiki nasib kaum tani. Siapa
bisa menyangkal bahwa ketika Republik Rakyat Tiongkok berdiri, 1
Oktober 1949, itu adalah sangkakala kemenangan Revolusi Demokrasi Baru
Tiongkok.

Bagaimana pula sang novelis Jung Chang dan sejarawan Halliday bisa
menyimpulkan bahwa:
'Latar belakang tani Mao, tidak menyebabkan ia dikhayati oleh
idealisme tentang memperbaiki nasib kaum tani Tiongkok'.

Aku tidak heran mengapa Prof. Thomas Bernstein, sesudah mempelajari
buku Jung Chang dan Halliday, menyimpulkan bahwa  buku itu merupakan
'bencana besar' bagi usaha penelitian tentang Tiongkok  dewasa ini

Terserahlah kepada pembaca yang ada tekad untuk membaca tulisan Jung
Chang dan Jon Halliday, menyimpulkan sendiri, sampai dimana nilai dan
mutu buku Jung Chang dan Jon Halliday itu.

*  *  * <Bersambung> * * *





Kirim email ke