http://www.jurnalperempuan.com/yjp.jpo/?act=berita%7C-768%7CX

Rabu, 7 Februari 2007
Herstory Perempuan Timor Leste 
Jurnalis: Henny Irawati

Jurnalperempuan.com-Jakarta. Dalam pelbagai situasi, seperti masa perang, masa 
penjajahan, dan masa transisi, kerap kali perempuan menjadi korban. Menurut 
Pelapor Khusus PBB mengenai Kekerasan terhadap Perempuan Radhika Coomaraswamy, 
hal tersebut terjadi tidak sekedar untuk menghancurkan kehormatan perempuan 
itu. Pelecehan seksual dan perkosaan yang dialamatkan pada perempuan juga 
bertujuan untuk menghina lawan. “Kekerasan seksual terhadap perempuan adalah 
alat mempertontonkan kemenangan atas kelompok laki-laki lain yang telah gagal 
melindungi kaum perempuannya. Ini menjadi pesan pengebirian dan penyunatan 
terhadap kelompok musuh. Ini merupakan pertempuran laki-laki di atas tubuh 
perempuan.” 

Dua kali sial untuk perempuan. Pertama, dia harus ekstra-ketat menjaga diri 
hanya karena dia perempuan; kedua, dia menjadi representasi dari kuasa satu 
kelompok (laki-laki) atas kelompok (laki-laki) yang lain. Dua-duanya menjadikan 
perempuan rentan sebagai korban kekerasan, terlebih kekerasan seksual. 
Alih-alih meratapi kenyataan tersebut, perempuan Timor Leste mempunyai cara 
sendiri untuk membela diri. 

Tak dapat disangkal, banyak perempuan Timor Leste yang menjadi korban mulai 
pada masa pendudukan Portugal sampai pendudukan tentara Indonesia dan masa 
transisi. Namun, mereka telah mulai melawan keadaan itu dengan mengorganisir 
diri, khususnya secara politik, sejak tahun-tahun akhir kekuasaan kolonial 
Portugal. Mereka membentuk Organizaçao Popular da Mulher Timorense (OPMT – 
Organisasi Kerakyatan perempuan Timor). 

Perjalanan perjuangan itulah yang kemudian direkam oleh Irena Cristalis dan 
Catherine Scott dalam Perempuan Merdeka: Kisa Aktivitas Kaum Perempuan Timor 
Leste. “Irena (Cristalis) dan saya mengamati perempuan Timor Leste mengurusi 
berbagai masalah sampai tidak punya waktu untuk menulis dan mendokumentasikan 
(pengalamannya). Kemudian saya menawarkan diri untuk menulis kisah mereka,” 
ungkap Scott pada peluncuran buku tersebut di Jakarta, Rabu (31/1). 

Cristalis dan Scott yang sedang melakukan pemantauan pemilu di Timor Leste 
(dulu masih Timor Timur) pada tahun 2001 mendapati banyak informasi tidak saja 
tentang peran perempuan di kancah politik, namun juga sejarah perempuan Timor 
Leste. “Kami sayang kalau informasi-informasi itu kami simpan sendiri dan tidak 
kami beberkan kepada dunia luar.” Itulah salah satu alasan Cristalis dan Scott 
pada tahun 2005 bekerja sama dengan Progressio menerbitkan buku yang berjudul 
asli Independent Women: The Story of Women’s Activism in East Timor. 

Motivasi kedua, lanjut Scott, kami tidak saja menginginkan kisah dan perjuangan 
yang dilakukan perempuan Timor Leste menjadi pelajaran bangsa lain, kami juga 
ingin mengembalikan apa yang telah mereka lakukan pada perempuan Timor Leste 
sendiri. Mereka melihat apa yang dilakukan perempuan Timor Leste tersebut tidak 
hanya sebagai bagian dari perjuangan mereka sebagai perempuan, mereka 
(perempuan Timor Leste) juga mentransformasi perjuangan mereka menjadi 
perjuangan yang positif bagi Timor Leste. Dan ini membuktikan bahwa mereka 
bukanlah “tokoh di tepian sejarah” melainkan “pelaku di tengah sejarah.”* 



Web:
http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

Klik: 

http://mediacare.blogspot.com

atau

www.mediacare.biz

Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
[EMAIL PROTECTED]
 
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

<*> Your email settings:
    Individual Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/join
    (Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
    mailto:[EMAIL PROTECTED] 
    mailto:[EMAIL PROTECTED]

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
    [EMAIL PROTECTED]

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
    http://docs.yahoo.com/info/terms/
 

Kirim email ke