Ulama Punya Andil atas Rusaknya Pemerintah 
    
   
  Jakarta, Kompas - Sebagai pemimpin agama, ulama berkewajiban selalu 
mengingatkan siapa pun atas berbagai penyimpangan yang terjadi. 
Namun, tugas itu akan sulit diemban jika ulama justru terjebak dalam 
penyimpangan itu sendiri. 
   
  Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) DKI Jakarta KH M Hamdan Rasyid 
pada Muhasabah Muharram 1428 Hijriyah di Jakarta, Selasa (13/2), 
mengatakan, rusaknya suatu bangsa terjadi akibat rusaknya pemerintah. 
Rusaknya pemerintah terjadi akibat rusaknya ulama. Rusaknya ulama 
disebabkan tergodanya mereka atas harta dan takhta. 
   
  Hamdan menyampaikan uraian itu dengan mengutip pemikiran pemikir 
Islam, Imam Al Ghazali (1058-1111), yang ditulis dalam kitab Ihya' 
Ulumuddin (Menghidupkan Ilmu-ilmu Agama). Imam Al Ghazali yang 
memiliki nama lengkap Abu Hamid Muhammad Ibnu Muhammad Al Ghazali 
adalah seorang filsuf dan teolog asal Persia yang karyanya banyak 
dipelajari di pesantren Indonesia. 
   
  Menurut Hamdan, saat ini banyak ulama yang hanya berorientasi 
terhadap kehidupan duniawi dan mengejar jabatan politik tertentu. 
Akibatnya, mereka tak peka terhadap masalah umatnya dan kerusakan 
yang terjadi. Ulama memiliki peran atas banyaknya bencana dan musibah 
yang terjadi. "Bagaimana ulama mau mengkritisi jika dia berada dalam 
sistem," kata Hamdan. 
   
  Ia menambahkan, ulama harus menjaga dan memperbaiki diri. Kepekaan 
terhadap berbagai persoalan umat harus ditumbuhkan. Keberanian untuk 
mengkritisi pihak yang menyimpang, baik umat maupun pemerintah, harus 
dijaga. 
   
  Ketua Umum MUI KH Ma'ruf Amin mengatakan, jika ulamanya rusak, 
rusaklah segala sendi kehidupan. Banyak ulama terbawa arus kehidupan 
sehingga mereka larut dalam berbagai penyimpangan dan kemaksiatan. 
  Ulama, kata Ma'ruf, harus gigih melawan segala bentuk penyimpangan 
dan mengingatkan pelaku penyimpangan. Jika sulit dicegah, ulama harus 
mampu meminimalkan dampak kerusakan yang terjadi akibat penyimpangan 
itu. 
   
  Dalam menghadapi berbagai masalah umat, katanya, ulama tak boleh 
saling menyalahkan. Ulama harus banyak melakukan introspeksi. "Ulama 
harus memandu dan jangan dipandu," katanya. 
   
  Cendekiawan muslim Quraish Shihab tak menuding siapa yang harus 
disalahkan akibat berbagai bencana dan musibah di negeri ini. Namun, 
diakuinya, ulama juga memiliki dosa atas berbagai persoalan yang 
terjadi. (MZW) 
   
  http://www.kompas.co.id/kompas-cetak/0702/14/Politikhukum/3316289.htm

 
---------------------------------
The fish are biting.
 Get more visitors on your site using Yahoo! Search Marketing.

Kirim email ke