halo sahabat, Hari ini adalah hari valentine, semua orang sibuk mencari cintanya masing-masing. Cinta memang menjadi dorongan manusia yang paling kuat, dibandingkan dengan dorongan uang (nafsu belanja), dan dorongan untuk menaklukkan (haus kekuasaan).
Kalau nafsu belanja tidak bisa dikendalikan, bahkan oleh inflasi, kenaikan harga BBM, apalagi dengan dukungan kartu kredit, wah sungguh tak terkalahkan. Nafsu belanja hanya bisa dikalahkan oleh debt collector. Lalu bagaimana dengan dorongan cinta? Sesungguhnya hidup kita ini banyak mengalami waste (sia-sia), banyak energi, pikiran, perasaan, imajinasi terbuang percuma hanya gara-gara ME. Padahal sudah begitu banyak korban, Angel Elga (istri ke-5) barus embuh, sudah ada korban lain Cucu Cahyati (istri ke-4), padahal dalam kondisi hamil 5 bulan. Namun kita tak pernah jera, seolah-olah hidup ini terasa hampa tanpa cinta. Bagi yang memiliki logika kuat, atau perasaannya bebal, sedikit beruntung, namun bagi pecinta seni, penyanyi, penulis lagu, wahhhh siksaan asmara ini tak pernah kunjung selesai. Lalu bagaimana caranya membuat dorongan cinta ini tak terbuang sia-sia ? Pertama, kita harus mengerti, mengapa Sang Pencipta membuat Cinta dalam hidup kita, untuk apa? Nafsu cinta, baik itu cinta murni, maupun cinta dibawah pusar, adalah ditujukan sebagai dorongan kasih. Dorongan kasih ini maksudnya adalah supaya Manusia mengenal belas kasih, bahasa inggrisnya welas kasih, rasa kasihan. Cinta itu memiliki 2 sisi. Sisi pertama adalah sisi nafsu ego, ini arti cinta adalah memiliki, menguasai, mencengkeram, memagutnya. Cinta ini memiliki sisi baik dan sisi buruk, namun efek sampingnya adalah putus cinta patah hati, merana. Sisi Cinta yang ekdua adalah kasih. Artinya, menjadi salah satu alternatif pilihan response perasaan kita terhadap dunia, yaitu: benci, malu, dendam, rasa bersalah, dan yang terakhir... cinta. Seharusnya, bila seseorang memiliki hati nurani yang kuat, maka sisi Cinta yang menonjol adalah rasa belas kasih, compassion. Ada 3 hal yang terpenting dalam hidup, yaitu: rasa belas kasih, bersikap moderat, dan tahu posisi kita berada dimana. Rasa cinta yang merupaka welas asih, rasa kasihan itulah yang diharapkan menjadi pedoman manusia, menjadi titik awal kita mengerti kehidupan. Bila kita terus menerus mempertajam rasa belas kasih, maka kita akan memiliki empati, inilah bibit hati nurani kita. Bila rasa empati yang kita miliki cukup tajam, cukup dalam, maka kita akan mengenal jiwa kita, sisi baik absolut dalam diri kita, maka jiwa kita akan menjadi pembimbing, penguat, energi tak pernah habis, tenaga dorongan sekaliber tenaga Nuklir yang mampu mengalahkan dunia. Bila anda ingin merubah dunia, anda tidak perlu energi banyak-banyak, atau manusia sebanyak mungkin, cukup satu saja jiwa yang berkembang, maka dunia akan berubah. Itulah yang dilakukan oleh para tokoh pendahulu kita, Mahatma Gandhi, Mother Theresa, dll. salam, Goenardjoadi Goenawan
