Oom Danny, 

daku pernah membaca yang seperti ini di "almarhum" Majalah Suara 
Alam, kalau gak salah di edisi sekitar tahun 1988 atau 1989 silam. 
Maklum, majalah tua sih. Dan lagi, penulisnya pun udah almarhum, 
yakni Norman Edwin. Di situ, Norman menyebutkan mana wilayah2 
terparah dari DAS-DAS Ciliwung yang ada ketika itu, bahkan termasuk 
laporan flora dan fauna yang makin menipis menghidupi kawasan DAS 
tersebut baik yang di Bogor hingga Jakarta....

Sayang, majalah Suara Alam (SA), -kalu gak salah juga di bawah 
bendera Suara Pembarauan, itu kini entah kemana, barangkali hilang 
dari almari saya ...Namun yang terpenting, tentu saja, apa yang 
dilakukan anak2 SMA itu bisa menambah daftar koleksi data yang 
didapatkan oleh Norman untuk digunaakan sebaik-baiknya buat masa 
depan Ciliwung..

salam, 

Latief/MATRA 


 


--- In [email protected], Danny Lim <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> DL - Artikel Suara Pembaruan di bawah ini saya simpan sejak tahun 
2004, kini saya posting (ulang) dalam situasi Jakarta yang porak-
poranda akibat banjir. Lintas Alam Ekowisata Ciliwung adalah sebuah 
kegiatan amat positif. Kenal maka sayang, bila generasi muda 
Jakarta/Indonesia berkenalan dengan alam sejak usia dini, dijamin 
mereka akan mencintai dan memelihara alam Indonesia bila sudah jadi 
gubernur atau menteri. Ada terbaca lembaga bernama Green School, 
dapatkah rekans bercerita tentang Sekolah Hijau ini? Dan dapatkah 
anda-anda minta komentar para peserta lintas alam 2 tahun y.l. 
seperti terbaca di bawah ini, tentang banjir Jakarta yang sekarang? 
Terima kasih banyak.
> 
> 
> SUARA PEMBARUAN DAILY 
> --------------------------------------------------------------------
------------
> 
> Seru dan Menantang, Lintas Alam di Ekowisata Ciliwung
>  
> 
> iasanya petualangan alam bebas seperti lintas alam atau susur 
sungai dilakukan di luar kota. Tapi hal ini tidak berlaku bagi 
pelajar dari lima wilayah di DKI Jakarta. Dengan gembira mereka 
melakukannya beberapa waktu lalu di salah satu dari 13 sungai yang 
ada di Jakarta, yaitu di Sungai Ciliwung. Tepatnya di daerah 
Srengseng Sawah, di Jalan H Sibi, RT 008 RW 01, Kecamatan Jagakarsa, 
Jakarta Selatan. 
> 
> Pagi itu puluhan pelajar dari lima wilayah DKI dan ratusan warga 
dari tiga kelurahan (Srengseng Sawah, Lenteng Agung, dan Tanjung 
Barat) berkumpul menjadi satu di Perkampungan Betawi Srengseng Sawah, 
guna meramaikan acara Ekowisata Ciliwung yang dimotori oleh Badan 
Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta. Ikut bekerja 
sama dalam acara itu, Kerabat WWF, Kelompok Aksi Cinta Lingkungan 
(Kancil) Indonesia, masyarakat local, dan sejumlah lembaga lainnya, 
baik pemerintah maupun swasta. 
> 
> Menurut Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan BPLHD DKI, 
Ir Junani Kariwiria, Msi, ekowisata Ciliwung diadakan untuk 
mewujudkan daya manfaat sungai bagi masyarakat lokal melalui wacana 
ekowisata sungai dalam rangka menumbuh-kembangkan kecintaan 
masyarakat terhadap sungai, serta meningkatkan kesadaran dan 
kepedulian masyarakat. Agar mereka dapat berperan aktif dalam 
mengembangkan potensi sungai serta daerah aliran sungainya. 
> 
> "Acara yang digelar cukup banyak dan beragam untuk mulai dari anak-
anak, remaja sampai orang tua," kata sekretaris pelaksana kegiatan 
itu Dra Atty Chandrawati, sambil menyebutkan contoh perlombaan 
memasak makanan dan minuman khas Betawi yang diikuti oleh ibu-ibu PKK 
RW bantaran sungai yang berlokasi di tiga kelurahan, pemberian pohon 
produktif, penanaman pohon dalam rangka Gerakan Rehabilitasi Hutan 
dan Lahan (Gerhan) serta Puncak Penghijauan dan Konservasi Alam 
Nasional (PPKAN), dan pelepasan bibit ikan sekitar 5.000 ekor dan 
pelepasan burung 30 ekor. Juga diadakan pameran yang menampilkan 
program-program dari instansi atau lembaga-lembaga pemerintah dan 
swasta yang terlibat. Turut juga Kelompok Sekolah Hijau (Green 
School) dengan menampilkan produk-produk daur ulang limbah plastik. 
> 
> Begitulah, setelah acara seremonial yang dihadiri juga oleh Wakil 
Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, para pelajar itu memulai lintas 
alam dengan menapaki hamparan karpet hijau, memasuki gua-gua 
dedaunan, pohon-pohon bambu yang sedikit melintang, menikmati lekukan 
bantaran sungai dan keindahan panorama alam yang terbilang masih asri 
serta banyak dijejali oleh rerimbunan pohon. Tercatat antara lain 
siswa-siswi dari SMU 70, Al-Azhar, 38 dan 109 semuanya di Jakarta 
Selatan, lalu SMU 13 Jakarta Utara, SMU 50 Jakarta Timur, SMU 16 
Jakarta Barat dan Pusat SMU 35 Jakarta Pusat, ikut serta. Kegiatan 
ini dimulai dengan penelusuran bantaran sungai dari Jalan H. Sibi, 
Srengseng Sawah, menuju start arung sungai (Fun Rafting) yaitu di 
Jembatan Akses UI Pal Kelapa Dua, Depok, dan berakhir (finish) di 
Bambon, Srengseng Sawah. Jarak dari start hingga finish sekitar 3 
kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. 
> 
> 
>  
> 
> Petualangan ini memang asyik, seru dan menantang, karena panitia 
menyajikan permainan keanekaragaman hayati dan permainan pilah 
sampah. Peserta diminta mencari dedaunan atau aneka jenis daun yang 
tersebar di sepanjang jalur lintas alam. Daun yang diambil bukan daun 
yang ada di pohonnya atau daun masih hidup, namun yang diambil 
hanyalah daun kering atau yang telah jatuh dari pohonnya dan ukuran 
daun yang diambil pun minimal berdiameter 10 cm. Kemudian daun yang 
dipungut peserta tadi, dimasukkan ke wadah yang telah disediakan. 
> 
> Sedangkan permainan pilah sampah, peserta diminta juga mengambil 
sampah yang tersebar di sepanjang jalur lintas alam, kemudian memilah 
sampah tersebut antara organik (basah) dan anorganik (kering), tetapi 
yang diutamakan sampah-sampah plastik (anorganik), lalu dikumpulkan 
ke wadah yang disediakan. "Acara ini bagus, seru banget, karena 
peserta disuruh mengambil berbagai jenis dedaunan dan memungut sampah 
untuk dipilah," ujar Prima Zeny Putri Astria (17) siswi kelas III SMU 
13 Jakarta Utara dengan nada semangat. 
> 
> Selain itu, acara tersebut dapat menumbuh-kembangkan cinta 
lingkungan, menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang sampah ke 
Sungai Ciliwung, juga dapat menumbuhkan jiwa semangat kebersamaan dan 
jiwa kepemimpinan, tambah dara manis yang juga anggota Green School 
di sekolahnya. Hal senada juga diucapkan Safii, siswa SMU 8 Jakarta 
Selatan. Menurutnya, lintas alam ini seru, dan dia baru pertama kali 
mengalami lintas alam sambil menyusuri sungai Ciliwung dengan perahu 
karet. Ternyata masih ada keasrian alam yang berada di Jakarta. 
> 
> Kali ini panitia sengaja menjadikan acara ini sebagai lomba, dan 
penilaiannya adalah kelompok yang paling banyak mengumpulkan sampah 
dan membawa berbagai jenis daun, serta penilaian terhadap kerja sama 
tim dan pemahaman terhadap lingkungan hidup. Hasilnya adalah SMU 13 
Jakarta Utara sebagai juara pertama, disusul juara kedua SMU 38 
Jakarta Selatan dan di urutan ketiga peserta dari SMU 16 Jakarta 
Barat. 
> 
> AGUS JAELANI 
> 
> 
> 
> --------------------------------------------------------------------
------------
> Last modified: 23/12/04
>


Kirim email ke