Pertanyaan ogut belum terjawab nih: kegiatan Lintas Alam Ciliwung 
itu masih hidup atau sudah almarhum? Kok kagak ada berita 
susulannya? 'Pan berita Suara Pembaruan di bawah ini berasal dari 
tahun 2004. Bila kegiatan itu sudah almarhum padahal umurnya baru 
tiga tahun, ogut cuma bisa bilang "Haiyaaa ........ kapan nih orang 
Indonesia bisa mencintai alamnya sendiri? Tampaknya tidak ada orang 
Indonesia yang tertarik berkenalan dengan alam, tapi soal posko 
banjir semua orang Indonesia giat berapi-api, haiyaaa ..... sekali 
lagi"

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], "latipuscaverius" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Ya, sejauh ini gw masih seorang jurnalis, hehehe...dan gak perlu 
pake 
> idem2 ditto segala tentang gw siapa, cemen!
> 
> Btw, gw sendiri merasa, gak perlu lagi ada posko2 banjir. Gak 
perlu! 
> Yang perlu, dan sangat perlu, cuma kesadaran; kesadaran cinta 
alam. 
> 
> Soe Hok Gie jelas-jelas bilang, untuk bisa punya rasa cinta tanah 
air 
> itu gak bisa cuma duduk manis dan tengok kiri - kanan dari jendela 
> mobil mewah, tapi lu harus terjun ke alam dan kenali masyarakat di 
> sekitarnya. Makanya, Hok Gie dan temen2 Mapala UI-nya naik gunung, 
> dan terus naik gunung (termasuk arung jeram, panjat tebing, 
diving,  
> caving, penelitian lingkungan). Jadi, gak perlu banyak hipokrisi, 
> ngoceh sana-sini, tapi langsung berada di antara ke obyeknya, 
yakni 
> alam bebas! 
> 
> Sebagai salah seorang senior di kelompok pencinta alam tempat Hok 
Gie 
> itu, Norman Edwin sendiri pernah curhat ke sohibnya Didiek Samsu,--
yg 
> juga tewas bersama Norman waktu mendaki Aconcagua, Argentina, 
sekitar 
> 15 tahun lalu. Kata Norman, di obituari Norman-Didiek di Majalah 
> Tempo edisi tahun 1992, "Gue heran, anak sekarang kok makin jauh 
ya 
> dari alam (gunung)". 
> 
> Intinya begini, kalau lu mau sadar, maka lu harus cinta dulu, dan 
> sebelum cinta, elu kenalan dulu. Tak kenal maka tak sayang, begitu 
> juga alam! Gak perlu jadi pecinta alam, tapi kita semua masyarakat 
> Indonesia bisa sadar untuk: gak buang sampah sembarangan, gak 
rakus 
> tebang pohon, dan masih banyak lagi tanpa peduli kaya atau miskin 
> serta agama atau partai apa dia berasal! 
> 
> Gw salut sama anak2 SMA itu, dan gak perlu gw tanya apa 
> manfaatnya...toh gw masih ngelakuin hal yg sama dengan 
> mereka...yakni, sebisa mungkin mencintai alam di sekitar gw dan di 
> manapun kelak gw berada! 
> 
> regards, 
> 
> Latief/Matra 
>    
> 
>        
> 
> --- In [email protected], "Danny Lim" <d.lim@> wrote:
> >
> > Bila anda seorang jurnalis, ada bagusnya coba mengontak para 
> pelajar 
> > SMA itu, mungkin kini telah menjadi mahasiswa. Tanyakan ke 
mereka 
> > apakah kegiatan Lintas Alam Ekowisata Ciliwung itu bermanfaat? 
Apa 
> > efeknya terhadap kehidupan/cara berpikir/tingkah laku mereka? 
Sebab 
> > bila jurnalis tidak tertarik kepada Ciliwung, kemungkinan 
kegiatan 
> > Ekowisata Ciliwung itu juga bakal (atau sudah) menjadi almarhum 
> juga?
> > 
> > Mesti dibenamkan ke kepala setiap orang Indonesia (seperti di 
> > Belanda sini) bahwa "alam bisa hidup tanpa manusia namun manusia 
> > tidak bisa hidup tanpa alam". Jadi menjaga alam sama dengan 
menjaga 
> > kehidupan manusia sendiri. Last but not least, buang jauh-jauh 
> (bila 
> > Latipuscaverius idem dito dengan Fery Zidane, Ibnu Sudarmono 
dll.) 
> > paham posko banjir, sebaliknya kembangkan filofofi MENCEGAH 
BANJIR. 
> > Sebab tidak ada rakyat yang senang ditolong posko banjir, mereka 
> > semua maunya TIDAK KEBANJIRAN, bukan ditolong oleh posko banjir. 
> > Bukan begitu?
> > 
> > Salam hangat, Danny Lim, Nederland
> > 
> > --- In [email protected], "latipuscaverius" 
> > <latipuscaverius@> wrote:
> > >
> > > Oom Danny, 
> > > 
> > > daku pernah membaca yang seperti ini di "almarhum" Majalah 
Suara 
> > > Alam, kalau gak salah di edisi sekitar tahun 1988 atau 1989 
> silam. 
> > > Maklum, majalah tua sih. Dan lagi, penulisnya pun udah 
almarhum, 
> > > yakni Norman Edwin. Di situ, Norman menyebutkan mana wilayah2 
> > > terparah dari DAS-DAS Ciliwung yang ada ketika itu, bahkan 
> > termasuk 
> > > laporan flora dan fauna yang makin menipis menghidupi kawasan 
DAS 
> > > tersebut baik yang di Bogor hingga Jakarta....
> > > 
> > > Sayang, majalah Suara Alam (SA), -kalu gak salah juga di bawah 
> > > bendera Suara Pembarauan, itu kini entah kemana, barangkali 
> hilang 
> > > dari almari saya ...Namun yang terpenting, tentu saja, apa 
yang 
> > > dilakukan anak2 SMA itu bisa menambah daftar koleksi data yang 
> > > didapatkan oleh Norman untuk digunaakan sebaik-baiknya buat 
masa 
> > > depan Ciliwung..
> > > 
> > > salam, 
> > > 
> > > Latief/MATRA 
> > > 
> > > 
> > >  
> > > 
> > > 
> > > --- In [email protected], Danny Lim <d.lim@> wrote:
> > > >
> > > > DL - Artikel Suara Pembaruan di bawah ini saya simpan sejak 
> > tahun 
> > > 2004, kini saya posting (ulang) dalam situasi Jakarta yang 
porak-
> > > poranda akibat banjir. Lintas Alam Ekowisata Ciliwung adalah 
> > sebuah 
> > > kegiatan amat positif. Kenal maka sayang, bila generasi muda 
> > > Jakarta/Indonesia berkenalan dengan alam sejak usia dini, 
dijamin 
> > > mereka akan mencintai dan memelihara alam Indonesia bila sudah 
> > jadi 
> > > gubernur atau menteri. Ada terbaca lembaga bernama Green 
School, 
> > > dapatkah rekans bercerita tentang Sekolah Hijau ini? Dan 
dapatkah 
> > > anda-anda minta komentar para peserta lintas alam 2 tahun y.l. 
> > > seperti terbaca di bawah ini, tentang banjir Jakarta yang 
> > sekarang? 
> > > Terima kasih banyak.
> > > > 
> > > > 
> > > > SUARA PEMBARUAN DAILY 
> > > > -------------------------------------------------------------
---
> -
> > ---
> > > ------------
> > > > 
> > > > Seru dan Menantang, Lintas Alam di Ekowisata Ciliwung
> > > >  
> > > > 
> > > > iasanya petualangan alam bebas seperti lintas alam atau 
susur 
> > > sungai dilakukan di luar kota. Tapi hal ini tidak berlaku bagi 
> > > pelajar dari lima wilayah di DKI Jakarta. Dengan gembira 
mereka 
> > > melakukannya beberapa waktu lalu di salah satu dari 13 sungai 
> yang 
> > > ada di Jakarta, yaitu di Sungai Ciliwung. Tepatnya di daerah 
> > > Srengseng Sawah, di Jalan H Sibi, RT 008 RW 01, Kecamatan 
> > Jagakarsa, 
> > > Jakarta Selatan. 
> > > > 
> > > > Pagi itu puluhan pelajar dari lima wilayah DKI dan ratusan 
> warga 
> > > dari tiga kelurahan (Srengseng Sawah, Lenteng Agung, dan 
Tanjung 
> > > Barat) berkumpul menjadi satu di Perkampungan Betawi Srengseng 
> > Sawah, 
> > > guna meramaikan acara Ekowisata Ciliwung yang dimotori oleh 
Badan 
> > > Pengelola Lingkungan Hidup Daerah (BPLHD) DKI Jakarta. Ikut 
> > bekerja 
> > > sama dalam acara itu, Kerabat WWF, Kelompok Aksi Cinta 
Lingkungan 
> > > (Kancil) Indonesia, masyarakat local, dan sejumlah lembaga 
> > lainnya, 
> > > baik pemerintah maupun swasta. 
> > > > 
> > > > Menurut Kepala Bidang Pengendalian Pencemaran Lingkungan 
BPLHD 
> > DKI, 
> > > Ir Junani Kariwiria, Msi, ekowisata Ciliwung diadakan untuk 
> > > mewujudkan daya manfaat sungai bagi masyarakat lokal melalui 
> > wacana 
> > > ekowisata sungai dalam rangka menumbuh-kembangkan kecintaan 
> > > masyarakat terhadap sungai, serta meningkatkan kesadaran dan 
> > > kepedulian masyarakat. Agar mereka dapat berperan aktif dalam 
> > > mengembangkan potensi sungai serta daerah aliran sungainya. 
> > > > 
> > > > "Acara yang digelar cukup banyak dan beragam untuk mulai 
dari 
> > anak-
> > > anak, remaja sampai orang tua," kata sekretaris pelaksana 
> kegiatan 
> > > itu Dra Atty Chandrawati, sambil menyebutkan contoh perlombaan 
> > > memasak makanan dan minuman khas Betawi yang diikuti oleh ibu-
ibu 
> > PKK 
> > > RW bantaran sungai yang berlokasi di tiga kelurahan, pemberian 
> > pohon 
> > > produktif, penanaman pohon dalam rangka Gerakan Rehabilitasi 
> Hutan 
> > > dan Lahan (Gerhan) serta Puncak Penghijauan dan Konservasi 
Alam 
> > > Nasional (PPKAN), dan pelepasan bibit ikan sekitar 5.000 ekor 
dan 
> > > pelepasan burung 30 ekor. Juga diadakan pameran yang 
menampilkan 
> > > program-program dari instansi atau lembaga-lembaga pemerintah 
dan 
> > > swasta yang terlibat. Turut juga Kelompok Sekolah Hijau (Green 
> > > School) dengan menampilkan produk-produk daur ulang limbah 
> > plastik. 
> > > > 
> > > > Begitulah, setelah acara seremonial yang dihadiri juga oleh 
> > Wakil 
> > > Gubernur DKI Jakarta, Fauzi Bowo, para pelajar itu memulai 
lintas 
> > > alam dengan menapaki hamparan karpet hijau, memasuki gua-gua 
> > > dedaunan, pohon-pohon bambu yang sedikit melintang, menikmati 
> > lekukan 
> > > bantaran sungai dan keindahan panorama alam yang terbilang 
masih 
> > asri 
> > > serta banyak dijejali oleh rerimbunan pohon. Tercatat antara 
lain 
> > > siswa-siswi dari SMU 70, Al-Azhar, 38 dan 109 semuanya di 
Jakarta 
> > > Selatan, lalu SMU 13 Jakarta Utara, SMU 50 Jakarta Timur, SMU 
16 
> > > Jakarta Barat dan Pusat SMU 35 Jakarta Pusat, ikut serta. 
> Kegiatan 
> > > ini dimulai dengan penelusuran bantaran sungai dari Jalan H. 
> Sibi, 
> > > Srengseng Sawah, menuju start arung sungai (Fun Rafting) yaitu 
di 
> > > Jembatan Akses UI Pal Kelapa Dua, Depok, dan berakhir (finish) 
di 
> > > Bambon, Srengseng Sawah. Jarak dari start hingga finish 
sekitar 3 
> > > kilometer, dengan waktu tempuh kurang lebih 2 jam. 
> > > > 
> > > > 
> > > >  
> > > > 
> > > > Petualangan ini memang asyik, seru dan menantang, karena 
> panitia 
> > > menyajikan permainan keanekaragaman hayati dan permainan pilah 
> > > sampah. Peserta diminta mencari dedaunan atau aneka jenis daun 
> > yang 
> > > tersebar di sepanjang jalur lintas alam. Daun yang diambil 
bukan 
> > daun 
> > > yang ada di pohonnya atau daun masih hidup, namun yang diambil 
> > > hanyalah daun kering atau yang telah jatuh dari pohonnya dan 
> > ukuran 
> > > daun yang diambil pun minimal berdiameter 10 cm. Kemudian daun 
> > yang 
> > > dipungut peserta tadi, dimasukkan ke wadah yang telah 
disediakan. 
> > > > 
> > > > Sedangkan permainan pilah sampah, peserta diminta juga 
> mengambil 
> > > sampah yang tersebar di sepanjang jalur lintas alam, kemudian 
> > memilah 
> > > sampah tersebut antara organik (basah) dan anorganik (kering), 
> > tetapi 
> > > yang diutamakan sampah-sampah plastik (anorganik), lalu 
> > dikumpulkan 
> > > ke wadah yang disediakan. "Acara ini bagus, seru banget, 
karena 
> > > peserta disuruh mengambil berbagai jenis dedaunan dan memungut 
> > sampah 
> > > untuk dipilah," ujar Prima Zeny Putri Astria (17) siswi kelas 
III 
> > SMU 
> > > 13 Jakarta Utara dengan nada semangat. 
> > > > 
> > > > Selain itu, acara tersebut dapat menumbuh-kembangkan cinta 
> > > lingkungan, menjaga kelestarian alam dengan tidak membuang 
sampah 
> > ke 
> > > Sungai Ciliwung, juga dapat menumbuhkan jiwa semangat 
kebersamaan 
> > dan 
> > > jiwa kepemimpinan, tambah dara manis yang juga anggota Green 
> > School 
> > > di sekolahnya. Hal senada juga diucapkan Safii, siswa SMU 8 
> > Jakarta 
> > > Selatan. Menurutnya, lintas alam ini seru, dan dia baru 
pertama 
> > kali 
> > > mengalami lintas alam sambil menyusuri sungai Ciliwung dengan 
> > perahu 
> > > karet. Ternyata masih ada keasrian alam yang berada di 
Jakarta. 
> > > > 
> > > > Kali ini panitia sengaja menjadikan acara ini sebagai lomba, 
> dan 
> > > penilaiannya adalah kelompok yang paling banyak mengumpulkan 
> > sampah 
> > > dan membawa berbagai jenis daun, serta penilaian terhadap 
kerja 
> > sama 
> > > tim dan pemahaman terhadap lingkungan hidup. Hasilnya adalah 
SMU 
> > 13 
> > > Jakarta Utara sebagai juara pertama, disusul juara kedua SMU 
38 
> > > Jakarta Selatan dan di urutan ketiga peserta dari SMU 16 
Jakarta 
> > > Barat. 
> > > > 
> > > > AGUS JAELANI 
> > > > 
> > > > 
> > > > 
> > > > -------------------------------------------------------------
---
> -
> > ---
> > > ------------
> > > > Last modified: 23/12/04
> > > >
> > >
> >
>


Kirim email ke