sdr buku miring,
Anda tidak punya nama?

saya kira ini bukan persoalan munafik atau tidak munafik, ini persoalan
kepercayaan dan apresiasi yang selama ini diberikan teman-teman yang peduli
akan masalah kekerasan terhadap perempuan kepada bang ade armando. Pemikiran
bang ade armando bagus, apalagi berkaitan dengan persoalan media, yang
tentunya harapan bagi teman-teman aktivis perempuan yang selama ini sebal
dengan tayangan media yang melakukan kekerasan. Tidak sekedar itu, saya
kira teman-teman juga percaya bahwa bang ade armando mempunyai pemahaman
yang baik soal kekerasan, karena memahami persoalan perempuan tidaklah
mudah, kalau memang orang tersebut tidak serius. Jurnal perempuan pernah
membuat diskusi tentang kekerasan terhadap perempuan, salah satunya jelas
poligami. Salah satu pembicara yang diundang adalah ade armando, karena bang
ade dipercaya bisa membawa misi kesetaraan.

Secara pribadi saya menolak poligami, karena poligami saya yakini sebagai
perlakuan kekerasan terhadap perempuan. Jika bang ade berpoligami sebagai
pilihan, maka kami yang menolak poligami juga dengan sadar tidak lagi
percaya dengan bang ade sebagai agen untuk anti kekerasan terhadap
perempuan. saya kira teman-teman yang menolak poligami buka saja sekedar
main-main. Teman-teman tidak saja membutuhka orang-orang yang mempunyai
pemikiran, tetapi juga tindakan. Visi seseorang akan dilihat dari tindakan
dan ucapan. Banyak orang pintar, namun dalam beberapa tindakan menjadi tidak
konsisten. Konsistensi inilah yang dibutuhkan, sehingga kepercayaan dan
apresiasi orang-orang tidak mudah untuk dicederai. Untuk itulah apakah salah
mereka yang kecewa dengan bang ade armando karena merasa kepercayaanya
dicedarai? Sekali lagi, jika poligami dianggap sebagai pilihan, maka pilihan
pula ketika kita gantungkan kepercayaan yang selama ini diberikan.

Karena kecerdasan bang adelah kami menjadi kecewa. Dan ini bukan persoalan
menufik atau tidak munafik.

salam,

Eko Bambang Subiyantoro






Pada tanggal 07/02/18, bukumiring <[EMAIL PROTECTED]> menulis:

  Mbak Titiana Adinda..saya kasihan sama Bang Ade...kenapa Anda dan
sejumlah orang lain tidak bisa menerima ketidakmunafikan ? Pasti Anda
munafik....

Setelah 20 tahun lewat...saya baru tahu Bang Ade Armando punya dua
istri.Dulu saya adik kelas Bang Ade di Fisip UI... Bang Ade sama
sekali belum dikenal,...sekarang Bang Ade demikian terkenal tidak
heran sebab yang saya tahu Bang Ade itu orangnya pendek, ada
kumisnya,..senyumnya simpatik...saya jadi membayangkan Napoleon
Bonaparte... konon Napoleon juga pendek dan banyak perempuannya. Bang
Ade cuma punya 2 belum tiga...kalau lebih banyak lagi perempuannya
pasti Bang Ade akan sehebat Napoleon atau Bung Karno ...

Bagaimanapun saya salut pada Abang...Selamat yaa Bang.... Selamat juga
pade Nina...bisa menerima Ade apa adanya...
Poligami..poliandri...lucu juga kalau terusan dibahas dan dibesarin
buat menjatuhkan/menaikan popularitas orang........sebab menurut saya
punya pacar banyak sama dengan punya istri/suami banyak, ini hanya
soal orientasi seks... pernah gak kebayang puluhan tahun hidup dengan
orang yang sama dalam satu atap, satu kamar tidur.........betapa
membosankannya kepura-puraan.....

Teknologi dan ilmu pengetahuan mengantarkan kita pada pentingnya
benchmarking,misalnya, rumah tangga juga butuh benchmarking, istri dan
suami perlu lebih dari satu, kalau bisa dan sah diformalkan ya
diformalkan kalau tidak ya diselingkuhkan asal nggak sampai konflik...
asal jangan sampai istri mengadu ke kantor secara formal hingga
suami/istri diturunkan jabatannya,....semua ada dalilnya ada
prosedurnya,..silahkan....

Dimadu,memadu atau Selingkuh adalah
Benchmark yang mengantarkan kita pada peningkatan kualitas menghadapi
suami agar istri lama kompetitif dengan istri baru, agar suami timbul
api nyala cemburu dan perhatian pada istri dengan jujur pada soal uang
gaji, uang korupsi dan lain-lain sebelum istrinya kebelet beneran
minta cerai ....

Jangan sudutkan perempuan dengan membesar-besarkan poliandri dan
poligami,aktivis perempuan juga sebaiknya jangan mentabukan
poligami,seks itu enak kok... dimadu itu macam ekstasi kok...ada rasa
sakit yang nikmat karena ada cinta dan kencan ditengah kebosanan
berumah tangga dengan orang yang sama .......jujur saja kalau jadi
diri sendiri dan punya kesempatan serakah kita semua pasti mau aja
serakah asal tidak dinilai/dibilang serakah....hanya sedikit orang
yang berani menyatakan dirinya serakah dengan segala dalil. ... orang
orang demikian adalah orang orang yang tidak munafik......

Mbak Titiana..dan yang lainlain,.. marilah kita meniru Nina... belajar
menerima
ketidakmunafikan dengan tulus......

Salam,
saya adalah juga berjender perempuan!
(Mohon Maaf kalau ada yg tidak berkenan dan tersinggung ini sekedar
tukar pikiran,..)



Kirim email ke