From: William Wiguna <[EMAIL PROTECTED] >
Date: Feb 17, 2007 9:06 AM
Subject: Orang beragama belum tentu baik
To: Undisclosed-Recipient



Orang beragama belum tentu baik. 
Posted by: "Yosua Tanjung" [EMAIL PROTECTED]   yosua_tanjung 
Fri Feb 16, 2007 3:43 am (PST) 
Oleh : Arvan Pradiansyah

Dalam sebuah acara Life Excellence di Radio Trijaya beberapa waktu yang lalu, 
saya mengangkat sebuah topik panas berjudul, "Orang Beragama atau Orang Baik?" 
Waktu itu saya membahas fenomena menarik, yaitu mengenai banyaknya orang 
beragama yang ternyata tidak baik. Sebaliknya, banyak juga orang yang tidak 
beragama atau tidak menjalankan agamanya dengan baik, tetapi dalam kehidupan 
sehari-hari adalah orang yang baik. Acara ini mendapatkan banyak respons dari 
pendengar baik melalui telepon maupun SMS. Banyak yang mendukung, tapi beberapa 
SMS mengecam bahkan memaki-maki saya. 

Padahal saya tidak sedang mempromosikan bahwa kita sebaiknya tidak perlu 
beragama asalkan sudah bisa menjadi orang yang baik. Saya hanya ingin mengajak 
kita berpikir mengapa agama seolah-olah tidak berhasil membuat penganutnya 
menjadi orang yang baik. Mengapa Indonesia yang dikenal sangat religius 
sekaligus juga dikenal sebagai negeri terkorup di dunia? Mengapa kita juga 
memperoleh predikat nomor dua untuk pornografi dan nomor tiga untuk masalah 
narkoba? 

Padahal kalau dipikir-pikir apa sih kekurangan kita. Kita shalat dan bukankah 
shalat dapat mencegah kita dari perbuatan keji dan mungkar? Kita berpuasa dan 
bukankah puasa mestinya menghasilkan manusia-manusia yang takwa? Jemaah haji 
kita terbesar jumlahnya di dunia, dan bukankah haji seharusnya melahirkan agent 
of change? Namun mengapa kita malah menjadi sarang korupsi, narkoba dan 
pornografi? 

Setelah merenungkannya dengan mendalam, saya menemukan paling tidak tiga 
kesalahan pokok dalam memaknai agama. Pertama, agama sering disosialisasi dalam 
bentuk ritual semata. Sejak kecil kita belajar shalat, menghafal bacaan dan 
belajar gerakannya. Yang kita lupakan cuma satu, yakni: kita tak pernah 
diajarkan mengenai mengapa kita harus shalat. Hal yang sama juga terjadi pada 
anak saya yang sekarang sedang duduk di sekolah dasar. 

Kedua, agama sering diartikan sebagai sebuah "kewajiban" yang bila melakukannya 
akan diganjar pahala dan surga, sedangkan mengabaikannya akan diganjar dosa dan 
neraka. Padahal kata "kewajiban" sering pula bernuansa buruk. Kewajiban 
memberikan konotasi paksaan kepada orang untuk melakukannya. Kewajiban bersifat 
outside-in (dari luar ke dalam). Ini berbeda dari kebutuhan yang bersifat 
inside-out (dari dalam ke luar). 

Padahal perubahan perilaku jauh lebih mudah pada sesuatu yang bersifat 
inside-out. Dalam inside-out orang melakukan sesuatu karena kesadaran. Dorongan 
terhadap hal ini berasal dari dalam. Selama agama masih dianggap sebagai 
kewajiban bukannya kebutuhan, akan sangat sulitlah untuk berharap bahwa agama 
bisa mengubah perilaku. 

Kewajiban juga acap kali menjauhkan kita dari kenikmatan. Bayangkan seorang 
istri yang mengatakan bahwa ia melayani suaminya sebagai kewajiban. Menurut 
Anda, apakah wanita ini menikmati hubungan dengan suaminya? Saya yakin tidak. 

Ketiga, agama sering ditafsirkan sebagai urusan kita dengan Tuhan. Padahal 
esensi agama adalah kasih. Bahkan saya berani mengatakan bahwa tanpa kasih tak 
ada gunanya kita beragama. Bukankah Tuhan adalah Yang Maha Pengasih dan Maha 
Penyayang? Bukankah dalam agama mana pun senantiasa dikatakan, "belum beriman 
seseorang sebelum ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya 
sendiri"? 

Karena itu, orang beragama mestinya dikenal karena rasa cintanya kepada sesama 
manusia. Sayangnya hal ini sering terlupakan. Saya ingat pengalaman saya 
bersekolah di sebuah sekolah swasta Islam terkemuka di Jakarta awal 1980-an. 
Ketika itu porsi pelajaran agama di sekolah negeri adalah dua jam pelajaran per 
minggu. Sekolah saya jauh lebih maju karena pelajaran agamanya 8 jam. Namanya 
pun bukan pelajaran agama, tetapi langsung menggunakan nama yang spesifik: 
Tauhid, Fiqih, Tarikh Islam, dan Bahasa Arab. Namun sayangnya ada satu hal yang 
tidak diajarkan: Akhlaq (Budi Pekerti). 

Bahkan kalau pun ada pendidikan budi pekerti di sekolah, pendidikan itu lebih 
sering bermuatan pengetahuan (knowledge). Padahal perubahan perilaku lebih 
ditentukan oleh kesadaran ketimbang pengetahuan. Siapa pun tahu bahwa merokok 
dapat menyebabkan kanker, serangan jantung, impotensi, gangguan kehamilan dan 
janin. Akan tetapi, cukupkah pengetahuan itu membuat orang berhenti merokok? 
Tentu saja tidak. 

taken from : SWA 

--
Posted By tamtomo to ~ T a m t o M o t i v a t i o n ~ at 2/13/2007 12:30:00 PM
 
 
William Wiguna
PT. Panca Budi Pratama
Kawasan Pusat Niaga Terpadu
Jl. Daan Mogot Raya Km. 19.6 Blok D No.8 A-D
Tangerang - 15122 - Indonesia
Phone   : +62-21 54365555 (Hunting) 
Fax       : +62-21 54365558 / 9
Website : http://www.pancabudi.com
email     : [EMAIL PROTECTED]
 

Kirim email ke