Refleksi: Para ahli ilmu paranormal sudah mencoba menyetop semprotan lumpur 
dengan melemparkan dua anak kambing ke dalam lumpur panas, tetapi tidak mempan, 
mungkin karena kambing-kambing itu terlalu kurus sehingga tidak mengenyangkan 
perut bumi. Pakar ilmu kafir prof Mori tak banyak bisa memberikan bantuan 
selain menyatakan ilmunya tidak punya teknologi yang mampu menghentikan 
semburan lumpur. Sekarang masih  ditunggu ialah sobat pakar-pakar ICMI 
mengaplikasi ilmu gaib surgawi agar penduduk Sidoarjo tidak perlu butuh 31 
untuk  bisa kembali ke kampung halaman mereka; insyaalloh.   

http://www.pikiran-rakyat.com/cetak/2007/022007/21/0401.htm


Lumpur Akan Menyembur 31 Tahun
Tak Ada Teknologi yang Mampu Menghentikan 
JAKARTA, (PR).-
Lumpur Lapindo diperkirakan akan terus mengalir sampai 31 tahun mendatang 
karena hingga kini tidak ada teknologi yang mampu menghentikan luapan lumpur 
yang menyengsarakan itu. Satu-satunya penanganan yang bisa dilakukan hanya 
membuang lumpur ke tempat tertentu agar tidak membanjiri kawasan sekitarnya.

Demikian disampaikan James J. Mori, Professor Disaster Presentation Research 
Institute Kyoto University, dan Kepala BPPT Said D. Jenio, di kantor BPPT, Jln. 
M.H. Thamrin, Jakarta, Selasa (20/2). "Sulit untuk menghentikan. Tak ada 
teknologi yang mampu, kecuali kalau ada beberapa orang pintar Indonesia yang 
punya ide brilian," ujar Mori. "Seperti halnya gunung meletus, bagaimana kita 
menghentikannya," ujar Said menambahkan.

Menurutnya, lumpur sebagai bagian dari fenomena alam menyembur karena dipicu 
oleh pengeboran. Volume semburan terus meningkat dari 5.000 m3 per hari menjadi 
156.000 m3 per hari, sehingga permukaan tanah beberapa daerah turun hingga 15 
cm dalam radius 2 km. Ini akibat keluarnya lumpur dari dalam tanah sehingga 
terjadi kekosongan di lapisan tertentu.

Baik Said maupun Mori memperkirakan, semburan akan berlangsung hingga 31 tahun 
ke depan. Biasanya semburan lumpur yang sudah pernah terjadi bisa berhenti 
dalam 10 tahun. Keduanya menilai, lumpur Lapindo lebih besar sehingga akan 
lebih lama. 

Tanggul kritis

Sementara itu, kondisi tanggul tempat penampungan lumpur (pond) Lapindo Brantas 
Inc. di Desa Jatirejo, Kec. Porong, Sidoarjo, Selasa pagi kritis, karena 
ketinggian genangan lumpur mulai sejajar dengan ketinggian tanggul. Selain 
akibat peningkatan volume semburan, juga tidak mengalirnya lumpur ke arah 
selatan menuju Kali Porong.

Akibatnya, kondisi rel kereta api (KA) dan Jln. Raya Porong yang terletak tepat 
di bawah tanggul, kembali terancam. Meski begitu, aparat kepolisian setempat 
belum mengambil tindakan terkait keselamatan pemakai jalan raya.

"Jika nanti tanggul ini sampai jebol, siapa yang bisa menolong warga sini 
(Jatirejo), termasuk pengguna Jalan Raya Porong. Situasi cukup mengkhawatirkan, 
apalagi sering turun hujan di malam hari," kata Parma, salah seorang warga Desa 
Jatirejo. 

Secara terpisah, juru bicara Timnas Penanggulangan Semburan Lumpur di Sidoarjo 
(PSLS), Rudi Novrianto mengatakan, kondisi tanggul di Jatirejo memang kritis, 
tapi masih terkontrol dan lumpur di pond mulai bisa dialirkan ke Kali Porong, 
melalui spillway (saluran pelimpah). 

Menjelang akhir masa tugasnya 8 Maret, Timnas PSLS dibingungkan oleh kondisi 
tanggul di sekitar lokasi bencana luapan lumpur. Setelah berhasil menutup 
tanggul utama dan tanggul bekas jalan Tol Porong-Gempol, Timnas kembali 
disibukkan oleh pengerjaan projek penguatan tanggul di Desa Jatirejo, Kec. 
Porong. 

Relokasi warga

Direktur Pusat, Teknologi Inventarisasi Sumber Daya Alam, BPPT, Yusuf Surachman 
mengatakan, satu-satunya cara menghindari bahaya semburan lumpur, merelokasi 
penduduk dari desa di sekitar sumur Banjar Panji. "Tak ada lagi cara atau 
teknologi untuk mengatasi semburan lumpur ini, termasuk teknik bola beton yang 
baru-baru ini disarankan," kata Yusuf. 

Menurutnya, metode rangkaian bola beton (methode of chains ball) hanya untuk 
mengurangi volume semburan lumpur, tidak mengurangi potensi lumpur yang keluar. 

Teknologi relief well (pengeboran miring sebagai skenario ketiga-akhir), telah 
dianggap gagal. Dari hasil pengamatan satelit, areal di radius 2-3 km dari 
sumber semburan sudah turun 15 cm (0,8 cm per bulan). Namun, areal di bagian 
utara-timur mengalami kenaikan. (dtc)***

Kirim email ke